
Semarak Tarawih Silaturahim PCM Bagelen Malam ke-28 Ramadan 1447 H Muhammad Munif Syamsudin: Perilaku Beragama Berangkat dari Niat yang Berbeda
Purworejo – Kegiatan Tarawih Silaturahim Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen terus berlangsung semarak hingga menjelang akhir Ramadan 1447 H. Pada malam ke-28 Ramadan, tepatnya Senin, 16 Maret 2026, kegiatan dipusatkan di Masjid Al-Ikhlas, Dusun Kotesan, Desa Tlogokotes, Kecamatan Bagelen. Jamaah dari warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar tampak memadati masjid untuk mengikuti rangkaian ibadah tarawih sekaligus mempererat silaturahim di penghujung bulan suci.
Pada kesempatan tersebut, Muhammad Munif Syamsudin bertindak sebagai imam salat tarawih sekaligus menyampaikan kultum Ramadan kepada para jamaah. Suasana masjid berlangsung khidmat ketika jamaah mengikuti rangkaian ibadah malam Ramadan yang semakin mendekati akhir.
Dalam kultumnya, Munif Syamsudin mengajak jamaah merenungkan bahwa perilaku beragama seseorang sering kali tampak sama secara lahir, tetapi berbeda dalam niat dan motifnya. Orang datang ke masjid, melaksanakan salat, duduk mendengarkan ceramah, dan mengikuti ibadah bersama. Namun di balik aktivitas yang sama tersebut, terdapat berbagai dorongan batin yang melatarbelakanginya.
Ia kemudian menjelaskan beberapa contoh motivasi yang sering muncul dalam kehidupan beragama masyarakat.
Pertama, ada orang datang ke masjid karena dorongan imbalan atau hadiah. Ia mencontohkan sebuah kisah yang pernah terjadi di Jawa Timur ketika kegiatan tarawih menarik banyak jamaah karena adanya imbalan uang sebesar Rp500 ribu bagi peserta yang hadir. Bahkan sejak sekitar pukul setengah dua siang, masyarakat sudah berduyun-duyun datang ke masjid untuk mengikuti kegiatan tersebut.
“Orang datang ke masjid karena ingin mendapatkan hadiah. Niatnya bukan semata ibadah, tetapi karena ada imbalan,” ujarnya.
Kedua, ada pula yang datang ke masjid karena dorongan ketertarikan kepada lawan jenis. Menurutnya, fenomena ini sering terjadi di kalangan remaja. Seorang remaja laki-laki bisa saja rajin datang ke masjid karena ingin bertemu atau menarik perhatian remaja putri yang juga hadir di sana, demikian pula sebaliknya.
“Motivasinya bukan ibadah, tetapi ingin terlihat baik, mencari jodoh, atau sekadar tebar pesona,” jelasnya.
Ketiga, ada yang datang ke masjid karena mengidolakan figur tertentu, seperti ustaz atau penceramah yang dikenal luas. Ketika yang mengisi ceramah adalah tokoh yang populer, jamaah biasanya membludak. Namun ketika yang mengisi adalah orang biasa, jumlah jamaah sering kali tidak sebanyak sebelumnya.
“Artinya yang dicari kadang bukan ibadahnya, tetapi tokohnya,” kata Munif.
Keempat, sebagian orang datang ke masjid karena kebutuhan batin dan mencari ketenangan. Dalam kondisi kehidupan yang penuh tekanan, berbagai persoalan hidup, serta kegelisahan hati, masjid menjadi tempat untuk menenangkan diri dan mencari kedamaian.
“Orang seperti ini datang ke masjid karena butuh ketenangan, ingin mendekat kepada Allah agar hatinya lebih damai,” ujarnya.
Kelima, ada pula orang yang datang ke masjid karena alasan citra sosial. Ia ingin menampilkan diri sebagai orang baik di tengah masyarakat, meskipun dalam kehidupan sehari-hari belum tentu mencerminkan hal tersebut.
“Masjid kadang dipakai sebagai topeng sosial agar dianggap saleh oleh lingkungan,” tambahnya.
Keenam, ada orang yang beribadah karena kesadaran akan hubungan transendental dengan Allah. Ia datang ke masjid karena memahami bahwa ada Tuhan yang harus disembah. Ia beribadah dengan harapan mendapatkan pahala, meraih surga, serta menghindari dosa.
Namun menurut Munif, masih ada tingkatan niat yang lebih tinggi dalam beribadah.
Tingkatan tersebut adalah ketika seseorang beribadah semata-mata karena ingin bersujud kepada Allah, tanpa menghitung-hitung pahala ataupun balasan duniawi. Ia mengutip firman Allah dalam Qur’an Surah Al-An’am ayat 162:
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Menurutnya, pada tingkat ini seseorang beribadah bukan karena hadiah, bukan karena pujian manusia, bahkan bukan semata-mata karena mengharapkan pahala. Yang ada hanyalah keinginan tulus untuk tunduk dan bersujud kepada Allah.
“Yang penting sujud kepada Allah,” pungkasnya.
Di akhir kultumnya, Munif menegaskan bahwa meskipun niat orang datang ke masjid bisa bermacam-macam, kehadiran di masjid tetap merupakan langkah yang baik. Masjid adalah tempat yang memupuk ketakwaan dan memperbaiki hati manusia. Siapa pun yang membiasakan diri datang ke masjid, lambat laun akan belajar meluruskan niat dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebagai bagian dari syiar Ramadan, PCM Bagelen juga melaksanakan Tarawih Silaturahim (Tarhim) secara serentak di berbagai masjid dan mushala di wilayah Bagelen. Pada malam ke-28 Ramadan 1447 H (Senin malam Selasa, 16 Maret 2026), kegiatan tersebut berlangsung di sejumlah titik, antara lain: Masjid Al-Ikhlas Kauman Timur (Bp. H. Zumarudin), Mushalla Ar-Rahman Kantor Kecamatan (Bp. Epin Hidayat), Mushalla Nurul Huda Gatep (Ustadz Ikhwan), Masjid Al-Ikhlas Srapah (Takmir), Masjid As-Sakinah Bapangsari (Takmir), Masjid Al-Islah Nur Sokoagung (Takmir), Masjid Nurul Huda Kalirejo (Bp. H. Sunarno), Masjid Al-Muhajirin Kepondon (Takmir), Masjid Tambahrejo (Takmir), Masjid Al-Iman Bapangan (Takmir), Masjid Ad-Darussalam Tlogokotes (Takmir), Masjid Arrohmah Kalimaro (Takmir), Masjid Al-Ikhlas Tlogokotes (PCPM bersama **Muhammad Munif Syamsudin), Mushalla MIM Krendetan (M. Elang Fatah), Mushalla Al-Hidayah Bedug (Bp. Erwin Burhanudin), Mushalla Nurul Ilmi Tlogokotes (Takmir), Mushalla Ash-Shafiyah Jurangkah (Takmir), Mushalla Nasrullah Jurangkah (Takmir), Mushalla Sunan Geseng Jurangkah (Takmir), serta Mushalla Al-Ikhlas Jurangkah (Takmir).
Kegiatan Tarawih Silaturahim ini menjadi salah satu ikhtiar untuk mempererat ukhuwah sekaligus menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat hingga penghujung bulan suci Ramadan.
(Epin Hidayat)



