
Ngaso – Ngaji Sore Menunggu Buka Puasa; Ngabuburit Produktif ala Santri MBS Purworejo
Purworejo — Suasana Ramadan di lingkungan Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) Purworejo menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan lembaga pendidikan pada umumnya. Jika sebagian sekolah memanfaatkan waktu menjelang berbuka sebagai jeda aktivitas, santri MBS Purworejo justru menguatkan nilai-nilai kepesantrenan melalui tradisi Ngaso–Ngaji Sore, sebuah kajian rutin yang dilaksanakan setiap hari selama bulan suci Ramadhan.
Kegiatan ini digelar secara kondisional di Masjid Darul Muchlisin (masjid utama MBS Purworejo) atau di halaman sekolah MBS Purworejo, dengan narasumber para Ustadz Ustazah, diikuti seluruh santri. Dalam suasana yang sederhana namun khidmat, para santri duduk rapi membawa buku catatan, menyimak materi yang disampaikan secara sistematis dan mendalam.
Tradisi ini mencerminkan karakter khas pesantren yang menempatkan waktu sebagai amanah. Nilai kepesantrenan tampak dalam kedisiplinan, konsistensi, serta kesungguhan para santri dalam memanfaatkan setiap momentum Ramadan untuk memperkaya ilmu dan memperkuat spiritualitas. Keunggulan tersebut menjadi pembeda yang signifikan dibandingkan sekolah lain dalam mengelola waktu di bulan Ramadan di mana pembinaan ruhani dan intelektual berjalan seiring secara terstruktur.
Adapun jadwal kegiatan Ngaso–Ngaji Sore tersusun; Senin: Kajian Kitab Faraidh, Selasa: Kajian Matan Jazari, Rabu: Kajian Fiqh Tarjih Muhammadiyah, Jum’at: Ngaji Santai, Sabtu: Kajian Santri.
Materi yang disampaikan mencakup bidang fiwhh, tajwid, hingga penguatan karakter dan kreativitas santri. Variasi agenda tersebut menunjukkan keseimbangan antara penguatan akademik keislaman, pembinaan akhlak, kebersihan lingkungan, hingga pengembangan keterampilan.
Menjelang azan maghrib, kegiatan ditutup dengan doa bersama. Suasana hening dan penuh harap menyertai para santri sebelum mereka berbuka puasa bersama. Kebersamaan dalam majelis ilmu tersebut tidak hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga mempertegas identitas pesantren sebagai lembaga yang optimal dalam membina generasi berilmu, beradab, dan berkarakter.
Melalui kegiatan Ngaso MBS Purworejo menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ibadah ritual, melainkan ruang pembentukan kepemimpinan diri dan budaya disiplin yang berkelanjutan.
(Diyah Fitri)



