
Kajian Pagi Ramadhan ke-4 Masjid Darussalam Kutoarjo: Ustaz Arwan Abdul Majid Tekankan Sholat sebagai Puncak Dzikir
Purworejo — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Darussalam Kutoarjo saat pelaksanaan Kajian Pagi Ramadhan ke-4 tahun 1447 H pada Sabtu, 21 Februari 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian program Ramadhan ini diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kutoarjo sebagai pelaksana teknis, dengan dihadiri pimpinan persyarikatan, jamaah, simpatisan, serta masyarakat umum.
Kajian tersebut bertujuan menjadi forum pembelajaran dan pencerahan umat melalui penyampaian materi Al-Qur’an, hadis, serta wawasan keislaman kontekstual. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu mempererat ukhuwah Islamiah serta menumbuhkan kesadaran muhasabah diri dalam meningkatkan kualitas spiritual selama bulan suci Ramadhan.
Sejak pagi hari, jamaah tampak memadati area masjid untuk mengikuti kajian yang menghadirkan Arwan Abdul Majid sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, ia memulai kajian dengan melafalkan bersama bacaan sholat beserta arti dan maknanya sebagai pengingat pentingnya pemahaman dalam beribadah.
Ia menegaskan bahwa sholat bukan sekadar gerakan fisik, tetapi merupakan bentuk dzikir yang paling utama. Hal tersebut merujuk pada firman Allah dalam QS Thaha ayat 14 yang menyatakan bahwa manusia diperintahkan menyembah Allah dan menegakkan sholat sebagai sarana mengingat-Nya.
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku,” kutipnya.
Dalam kajian tersebut, Arwan Abdul Majid menjelaskan bahwa seluruh bacaan dalam sholat mengandung unsur dzikir dan doa yang menjadi sarana komunikasi hamba dengan Allah. Ia menekankan bahwa dzikir melalui sholat memiliki kedudukan istimewa karena dilakukan dengan kesadaran penuh, kekhusyukan, serta penghayatan makna.
Menurutnya, sholat menjadi puncak dzikir yang dapat menghadirkan ketenangan batin, mengurangi kecemasan, serta menumbuhkan rasa kedekatan dengan Allah. Secara tidak langsung, ia mengingatkan jamaah bahwa kualitas ibadah tidak hanya diukur dari kuantitas, tetapi juga pemahaman dan penghayatan.
Arwan juga menuturkan bahwa doa dan dzikir yang terkandung dalam sholat merupakan bentuk penguatan spiritual yang sangat relevan dengan kehidupan modern yang sarat tantangan dan tekanan.
Kajian Pagi Ramadhan di Masjid Darussalam Kutoarjo telah menjadi agenda rutin yang tidak hanya menghadirkan materi keislaman, tetapi juga mempererat hubungan antarjamaah. Majelis ilmu ini menjadi ruang dialog spiritual yang menumbuhkan kebersamaan serta semangat belajar agama secara kolektif.
Secara tidak langsung, kegiatan ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum peningkatan ibadah individual, tetapi juga penguatan nilai sosial melalui interaksi dan silaturahmi. Kehadiran berbagai unsur masyarakat dalam kajian menjadi bukti tingginya antusiasme terhadap kegiatan keagamaan yang bersifat edukatif.
Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam kajian adalah pentingnya muhasabah diri selama Ramadhan. Arwan Abdul Majid mengajak jamaah untuk menjadikan sholat sebagai sarana evaluasi spiritual, sehingga mampu memperbaiki kualitas iman serta perilaku sehari-hari.
Ia menegaskan bahwa dzikir dan doa yang dilakukan dengan kesadaran dapat menumbuhkan ketenangan hati serta meningkatkan ketahanan spiritual. Hal ini dinilai penting dalam menghadapi dinamika kehidupan modern yang kerap memicu kecemasan dan kegelisahan.
Pesan tersebut disambut positif jamaah yang menganggap kajian sebagai pengingat pentingnya menjaga kualitas sholat, terutama di bulan Ramadhan yang dikenal sebagai momentum peningkatan ibadah.
Sebagai pelaksana teknis, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kutoarjo dinilai berhasil menghadirkan kajian yang edukatif dan inspiratif. Keterlibatan pemuda dalam penyelenggaraan kegiatan keagamaan menjadi langkah strategis dalam memperkuat dakwah yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Melalui program Kajian Pagi Ramadhan, organisasi kepemudaan ini berupaya menciptakan ruang pembelajaran yang terbuka bagi seluruh kalangan, sekaligus menumbuhkan budaya literasi keislaman di lingkungan masyarakat.
Kajian Pagi Ramadhan diharapkan terus menjadi wadah pembelajaran yang konsisten menghadirkan materi keislaman yang relevan dan kontekstual. Dengan demikian, jamaah dapat memperoleh pemahaman agama yang lebih komprehensif sekaligus meningkatkan kualitas ibadah.
Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat ukhuwah Islamiah serta membangun kesadaran kolektif untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum transformasi spiritual yang berkelanjutan.
Melalui pesan tentang sholat sebagai puncak dzikir, Kajian Pagi Ramadhan ke-4 memberikan refleksi mendalam bagi jamaah mengenai pentingnya kualitas ibadah yang disertai pemahaman. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ketenangan hati dan kekuatan spiritual dapat diraih melalui kedekatan dengan Allah, khususnya melalui sholat yang khusyuk dan penuh makna.
(A.M. Musdani)



