Agama

Kuliah Subuh Ramadhan 1447 H di Purworejo, KH Tafsir Tekankan Pendekatan Ilmu dan Soliditas Warga Muhammadiyah

Purworejo – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Purworejo melalui Majelis Tabligh sukses menyelenggarakan Kuliah Subuh Ramadhan 1447 H pada Ahad (22/02/2026) di Auditorium Kasman Singodimedjo, Universitas Muhammadiyah Purworejo. Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, K.H. Dr. Tafsir, M.Ag., sebagai pemateri utama.

Dalam pengajian tematiknya, KH Tafsir menjelaskan bahwa Muhammadiyah dalam memperoleh ilmu pengetahuan serta memahami Al-Qur’an dan Hadits menggunakan pendekatan epistemologi yang komprehensif, yaitu bayani (tekstual), burhani (rasional-intelektual), dan irfani (adat istiadat dan kebiasaan masyarakat lokal/ ‘urf).

Beliau juga menegaskan pentingnya soliditas warga Muhammadiyah dalam mengikuti penetapan awal Ramadhan melalui Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang telah diputuskan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Warga diminta tetap kompak dan percaya diri dalam menjalankan keputusan persyarikatan.

Terkait waktu imsak dan Subuh, KH Tafsir menjelaskan bahwa imsak ditetapkan 10 menit sebelum adzan Subuh. Muhammadiyah juga melakukan koreksi waktu Subuh sekitar 8 menit lebih mundur berdasarkan keputusan Musyawarah Nasional Tarjih ke-31 tahun 2020, dengan perubahan posisi matahari dari minus 20 derajat menjadi minus 18 derajat di bawah ufuk. Langkah ini diambil berdasarkan kajian astronomi dan temuan lapangan agar waktu Subuh benar-benar masuk saat fajar shadiq terbit.

Dalam kajian hadits, beliau menyampaikan bahwa riwayat tentang umat Islam terpecah menjadi 73 golongan dipandang sebagai hadits yang tertolak, karena tidak sejalan dengan misi Nabi yang membawa persatuan umat.

Pada aspek fiqh ibadah, KH Tafsir mengutip hadits Nabi “Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat.” Menurutnya, tidak ada redaksi hadits yang merinci gerakan shalat secara sangat detail, sehingga perbedaan praktik yang masih dalam koridor tuntunan Nabi perlu disikapi dengan bijak.

Menutup kajian, beliau menjelaskan bahwa istilah Ramadhan Karim dan Ramadhan Mubarak lazim digunakan di berbagai belahan dunia, sementara di Indonesia lebih dikenal sebagai bulan suci—bulan untuk mensucikan diri. Selama Ramadhan umat memperbanyak ibadah secara vertikal kepada Allah, dan setelahnya memperkuat hubungan horizontal melalui saling memaafkan.

KH Tafsir menegaskan, Muhammadiyah dikenal ketat dalam urusan ibadah, namun tetap luwes dan penuh tenggang rasa dalam kehidupan sosial dan bermuamalah. Pesan ini diharapkan menjadi pedoman warga dalam menjalani kehidupan beragama yang berkemajuan dan berkeadaban.

(Agus Riyanto)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button