
Khutbah Idul Adha MIM Krendetan Sentil Keras Elite: Mampu Bergaya Mewah, Tapi ‘Miskin’ Empati Berkurban?
PURWOREJO – Memasuki 10 Zulhijah 1447 H, tepatnya pada Rabu (27/5/2026), gema takbir yang mengalun syahdu di halaman MIM Krendetan tak sekadar mengiringi kekhusyukan shalat Idul Adha, tetapi juga membawa sebuah sentilan tajam. Di hadapan ratusan jamaah, H. Hadi Sadsilo, S.P., M.M., yang bertindak sebagai imam sekaligus khotib, menguliti sebuah realitas ironis di tengah masyarakat modern: hilangnya empati para elite dan menjamurnya gaya hidup mubazir yang tanpa sadar ‘memiskinkan’ diri sendiri.
Di lapangan, ketimpangan antara gaya hidup konsumtif dan kepedulian sosial makin terasa menyesakkan. Banyak individu mendadak beralasan ekonomi sedang sulit ketika panggilan ibadah kurban tiba. Padahal, jika mau jujur berhitung, biaya terselubung untuk sekadar mengejar tren kekinian seringkali jauh melampaui harga seekor kambing kurban.
Hal ini menjadi cerminan nyata bagaimana nilai spiritual perlahan tergerus oleh materialisme. Masyarakat rela mengorbankan hal esensial demi menuruti ilusi kebutuhan dan gengsi sesaat.
Diperbudak Gengsi dan Gaya Hidup
Dari atas mimbar, Hadi Sadsilo mengajak jamaah menengok ke dalam diri. Ia secara lugas menyoroti fenomena di akar rumput, di mana dalih ketidakmampuan seringkali hanya menjadi tameng.
”Jika kita mau jujur bermuhasabah, banyak dari kita yang justru memiskinkan dirinya sendiri demi hal-hal yang mubazir. Kita rela menghabiskan uang untuk gaya hidup, untuk hal-hal yang tidak esensial, yang menguap begitu saja,” tegas Hadi Sadsilo memecah keheningan jamaah MIM Krendetan.
Menurutnya, seandainya uang “nongkrong” atau pengeluaran mubazir tersebut dikelola dan ditabung sedikit demi sedikit sepanjang tahun, niat untuk menyembelih seekor sapi atau kambing kurban bukanlah sebuah kemustahilan.
Sindiran Tajam untuk Elite Bangsa
Pesan menohok ini tak hanya menyasar masyarakat awam, tetapi juga membidik langsung para petinggi dan elite bangsa. Hedonisme yang kerap dipertontonkan di tengah himpitan ekonomi rakyat dinilai sebagai panggung nyata dari krisis empati kronis.
”Cukup banyak elite bangsa yang mungkin telah kehilangan empati, melupakan esensi dari pengorbanan untuk kepentingan yang lebih luas,” ungkapnya.
Sebagai pengingat keras, Hadi Sadsilo menukil hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah. Rasulullah SAW secara gamblang melarang mereka yang memiliki kelapangan harta namun enggan berkurban untuk mendekati tempat shalat. Ancaman ini menjadi tamparan keras bahwa ibadah kurban adalah pembuktian cinta yang menuntut aksi nyata, bukan sekadar basa-basi.
Meruntuhkan Sekat Kelas Sosial
Pada hakikatnya, Idul Adha adalah momentum emas untuk meruntuhkan tembok pembatas sosial. Daging kurban yang didistribusikan bukanlah sekadar ritual, melainkan instrumen pemerataan dan wujud nyata kasih sayang universal yang tak mengenal batas suku, bangsa, maupun kasta.
Di mata Sang Pencipta, seluruh manusia berdiri sejajar. Satu-satunya pembeda derajat hanyalah ketakwaan dan keikhlasan kita dalam menundukkan ego demi kemanusiaan.
Kontributor: Epin Hidayat



