
Bekal Kematian yang Sebenarnya: Menjaga Hati agar Tetap Tersambung kepada Allah
Pengajian rutin malam Jumat Kliwon di Masjid Sunan Geseng Kauman Barat Bagelen kembali berlangsung khidmat pada Kamis malam, 13 November 2025. Kegiatan yang digelar oleh takmir masjid tersebut menghadirkan Ustadz H. Zumarudin, S.Pd.I, sekretaris PCM Bagelen, sebagai pemateri. Hadir pula Ketua PCM Bagelen Bapak Rohadi, S.E, Ketua Majelis Tabligh dan Tarjih Bapak Ikhwan, S.Pd.I, para takmir Masjid Sunan Geseng, serta jamaah dan warga Muhammadiyah di lingkungan Kauman Bagelen.
Dalam kajiannya yang bertajuk “Bekal Kematian yang Sebenarnya”, Ustadz Zumarudin menegaskan bahwa kematian adalah kepastian, sementara hidup di dunia penuh ketidakpastian. Ia mengawali materi dengan firman Allah dalam Surah Al-Hijr ayat 99:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu, sampai datang kepadamu al-yaqīn.”
Para ulama sepakat bahwa al-yaqīn berarti kematian, sehingga manusia diperintahkan untuk terus ibadah hingga ajal tiba.
Beliau menekankan bahwa bekal kematian bukanlah banyaknya ilmu atau tingginya jabatan dunia. Ilmu hanya bermanfaat jika diamalkan, sedangkan jabatan akan ditinggalkan di liang lahat. “Yang kembali kepada Allah hanyalah ruh, dan di dalamnya ada hati. Di sanalah penentu selamat tidaknya seseorang,” ujar beliau.
Ruh yang Ditiupkan dan Akan Kembali
Ustadz Zumarudin membacakan firman Allah dalam QS. As-Sajdah ayat 9 :
ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur.
Ayat tersebut menegaskan bahwa ruh adalah bagian penting manusia. Karena itu jasad akan hancur dimakan tanah dan makhluk bumi, namun ruh kembali kepada Allah dalam kondisi membawa hati yang bersih atau kotor.
Hati Menentukan Keadaan Hidup dan Mati
Dalam lanjutan materi, Ustadz Zumarudin menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal darah. Apabila ia baik, maka baiklah jasad seluruhnya, dan apabila ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Ketahuilah, ia adalah hati (qalbu).” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini menjadi dasar bahwa kebersihan hati menentukan kualitas hidup, amal, dan husnul khatimah seseorang.
Ruh dan Sakaratul Maut
Pemateri menjelaskan bahwa ruh ditiupkan saat janin berusia empat bulan, dan ketika mati ruh dicabut secara bertahap melalui fase sakaratul maut. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ
“Sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat.” (HR. Bukhari)
Proses sakaratul maut digambarkan sebagai rasa sakit naik dari kaki hingga mencapai tenggorokan (ghargah).
Namun bagi orang yang dekat kepada Allah, sakaratul maut akan diringankan. Karena itu para salihin selalu berdoa:
اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ
Artinya : Ya Allah, semoga Engkau berkenan mempermudah proses kematianku, serta selamat dari api neraka dan mendapat ampunan-Mu ketika amal perbuatanku dipertanggungjawabkan di hadapan-Mu.

Saat Ruh Melihat Akhirnya
Saat ruh mencapai tenggorokan, manusia diperlihatkan balasan amalnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
“Barang siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah mencintai pertemuan dengannya. Barang siapa yang membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun membenci pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari)
Aisyah r.a. bertanya apakah ini berarti orang mukmin tidak boleh membenci kematian. Nabi menjawab bahwa maksudnya bukan demikian. Mukmin akan senang saat diperlihatkan rahmat Allah dan surga, sementara pendosa akan gentar melihat ancaman neraka.
Allah juga menggambarkan penyesalan orang saat ajal tiba dalam QS. Al-Mu’minūn ayat 99–100:
حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِۙ 99
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia)
لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ 100
Agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.
Namun Allah menolak permintaan itu dengan tegas: kallā — tidak! Setelah kematian, manusia memasuki alam Barzakh hingga hari kebangkitan.
Bekal yang Harus Dipersiapkan
Ustadz Zumarudin menyampaikan bahwa seorang mukmin harus menyiapkan bekal terbaik:
1. Memperbaiki tauhid dan ibadah
Menjauhi syirik, Menjaga shalat lima waktu, Puasa Ramadan, Istiqamah dalam amal, Memperbanyak infak, sedekah, dan wakaf. Wakaf kepada yayasan atau kepada tempat kepentingan umum, pendidikan, jalan, pesantren supaya husnul khotimah. Jangan bermaksiat agar tidak suul khotimah
2. Memperbanyak doa
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ
“Doa adalah senjata orang mukmin.”
3. Doa untuk penjagaan hati
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Agar selalu istiqomah saat mendekat kepada Allah SWT.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akhir hidup yang baik”. Doa-doa ini menjaga hati agar tetap terhubung kepada Allah hingga akhir kehidupan, dan juga doa sehari-hari agar selalu terhubung dengan Allah

Sebelum Pengajian malam Jumat Kliwon di Masjid Sunan Geseng Kauman Barat Bagelen ditutup dengan doa Kafaratul Majelis bersama=sama, Uztad Zumarudin berpesan: “monggo kito kedah tansah ngupi-upi iman lan islam kito kanthi istiqomah ampun nilaraken ibadah utaminipun ibadah maghdoh lan ghoiru mahdhoh”. Dan berdoa kepada Allah agar akhir hidup kita khusnul khotimah, “Semoga Allah memudahkan sakaratul maut kita, menjaga iman kita, dan menjemput kita dalam keadaan yang paling mulia,” tutup Ustadz Zumarudin.
اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
(Epin Hidayat)



