Organisasi

Pemuda Sukses Gelar Idul Adha, Patahkan Stigma ‘Generasi Nongkrong’

PURWOREJO – Tepisan telak bagi mereka yang meragukan kapabilitas generasi muda masa kini. Di saat banyak pihak mencap milenial hanya peduli pada gaya hidup, barisan pemuda di Purworejo justru membuktikan taringnya dengan mengambil alih penuh komando pelaksanaan salat Idul Adha yang dihadiri ratusan jamaah.

​Kesuksesan luar biasa di lapangan ini tak lepas dari manuver berani Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen. Pihak Pimpinan Cabang Bagelen secara aklamasi menyerahkan mandat kepanitiaan Idul Adha 1447 H, tepat pada Rabu (27/5/2026), sepenuhnya kepada Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Bagelen.

Ketua PCPM Bagelen, Fachri Al-Faqih, S.H.I., langsung tancap gas merespons instruksi tersebut. Ia sigap mengambil alih komando koordinasi teknis pelaksanaan kurban dan salat Id yang berpusat di Lapangan MIM Krendetan, memastikan seluruh alur berjalan presisi.

​Kepercayaan mutlak kepada generasi muda ini tetap diimbangi dengan pendampingan spiritual dari para sesepuh. Tokoh persyarikatan memberikan wejangan tajam agar para pemuda menjaga kelurusan niat di tengah gegap gempita keberhasilan.

​”Jangan sampai hati kita mengeras karena terlalu jauh dari Al-Qur’an dan terlalu dekat dengan kepentingan dunia. Umat Islam harus menjaga iman, amanah, dan akhlak mulia,” pesan H. Dandung Danadi di hadapan para penggerak muda sebelum eksekusi acara bergulir.

Antitesis Elite Miskin Empati

Menariknya, keberhasilan eksekusi teknis oleh anak-anak muda di akar rumput ini seolah menjadi antitesis dari fenomena di kalangan atas. Hal ini disuarakan secara lantang oleh H. Hadi Sadsilo, S.P., M.M., yang bertindak sebagai imam sekaligus khotib di hadapan ratusan jamaah.

Beliau menyentil keras gaya hidup hedonis masyarakat modern. Banyak pihak rela membuang harta demi gengsi sesaat, namun mendadak mengeluh kesulitan ekonomi ketika panggilan berkurban tiba. Padahal, biaya terselubung untuk sekadar mengejar tren kekinian seringkali jauh melampaui harga seekor kambing kurban.

​”Jika kita mau jujur bermuhasabah, banyak dari kita yang justru memiskinkan dirinya sendiri demi hal-hal yang mubazir. Kita rela menghabiskan uang untuk gaya hidup, untuk hal-hal yang tidak esensial, yang menguap begitu saja,” tegas H. Hadi Sadsilo memecah keheningan jamaah MIM Krendetan.

Jejak Solid Meruntuhkan Batas Sosial

Pesan menohok dari atas mimbar itu menampar keras realitas di mana figur-figur elite kerap terbuai ilusi kebutuhan. “Cukup banyak elite bangsa yang mungkin telah kehilangan empati, melupakan esensi dari pengorbanan untuk kepentingan yang lebih luas,” tambahnya.

Realitas tersebut berbanding terbalik dengan kepanitiaan pemuda di lapangan. Mereka rela bermandi peluh mendistribusikan daging kurban ke seluruh lapisan masyarakat, sekaligus meruntuhkan tembok pembatas kasta sosial. Kerja keras milenial ini mencatatkan jejak digital yang amat solid bagi organisasi, membuktikan bahwa geliat dakwah muda bukan sekadar teori, melainkan manifestasi nyata etos kerja profesional.

Sinergi epik antara keringat anak muda dan kebijaksanaan para tetua ini akhirnya melahirkan cetak biru perayaan Idul Adha yang ideal. Sebuah pembuktian kerja yang secara tak langsung meninggalkan tamparan keras bagi mereka yang masih diperbudak oleh gaya hidup fana.

Kontributor: Epin Hidayat

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button