Agama

Pengajian Ahad Pagi PRM Harjobinangun: Muhasabah, Hijrah, dan Istiqamah Menjadi Bekal Menyongsong Tahun Baru Hijriah

PURWOREJO – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Harjobinangun kembali menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi yang bertempat di Masjid Al Ikhlash Ranting Muhammadiyah Harjobinangun, Kecamatan Grabag, pada Ahad, 5 Safar 1448 H bertepatan dengan 19 Juli 2026.

Pengajian yang dihadiri warga Muhammadiyah se-Kecamatan Grabag serta masyarakat sekitar ini menghadirkan Ustadz H. Dandung Danadi, Anggota LSBO Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai pemateri.

Mengawali kajian, Ustadz H. Dandung Danadi mengajak seluruh jamaah membaca doa dan dzikir pagi sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selanjutnya beliau menyampaikan pentingnya memahami kemuliaan waktu dalam Islam, di antaranya empat bulan haram dalam kalender Hijriah serta keutamaan hari Jumat sebagai Sayyidul Ayyam (penghulu segala hari).

Beliau juga menjelaskan keistimewaan waktu-waktu mulia yang Allah berikan kepada umat Islam, yaitu sepuluh hari pertama bulan Muharram yang di dalamnya terdapat Hari Asyura, sepuluh malam terakhir bulan Ramadan yang terdapat Lailatul Qadar, serta sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang di dalamnya terdapat Hari Arafah dan pelaksanaan ibadah haji.

Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan pentingnya meningkatkan kualitas ibadah sepanjang waktu sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an, sehingga seorang muslim senantiasa istiqamah dalam beramal tanpa bergantung pada waktu-waktu tertentu saja.

Selain itu, beliau menguraikan hikmah diciptakannya siang dan malam sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Isra ayat 12 dan Surah An-Naba’. Siang merupakan waktu yang lazim digunakan untuk bekerja dan beraktivitas, sedangkan malam menjadi waktu untuk beristirahat sekaligus memperbanyak ibadah.

Pada kesempatan tersebut, Ustadz H. Dandung Danadi juga menjelaskan sejarah dimulainya penanggalan Hijriah yang berawal dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah. Hijrah tersebut dilakukan karena tiga alasan utama, yaitu atas perintah Allah SWT, untuk menyelamatkan umat Islam dari tekanan kaum Quraisy, serta adanya dukungan dan permintaan dari penduduk Yatsrib (Madinah) agar Rasulullah SAW menetap di kota tersebut.

Beliau turut mengulas sejarah Tahun Jawa yang kini telah memasuki tahun 1960 serta asal-usul penyebutan bulan Suro. Menurut penjelasannya, istilah Suro diambil oleh Sultan Agung dengan mengaitkan peristiwa Yaumul Asyura, yang melegenda sebagai hari kemenangan Nabi Musa AS beserta pengikutnya atas Firaun dan bala tentaranya.

Menutup pengajian, beliau mengajak seluruh jamaah untuk menjaga tiga prinsip penting dalam kehidupan seorang muslim, yaitu muhasabah, hijrah, dan istiqamah. Muhasabah berarti mengevaluasi diri atas kesalahan yang telah dilakukan dan berusaha memperbaikinya. Hijrah dimaknai sebagai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Sementara istiqamah adalah menjaga konsistensi dalam menjalankan ibadah dan amal saleh.

Beliau juga menyampaikan empat cara untuk menumbuhkan jiwa istiqamah, yakni rutin menghadiri majelis ilmu, senantiasa berdoa memohon keteguhan hati kepada Allah SWT, selalu mengingat kematian sebagai pengingat bahwa ajal dapat datang kapan saja, serta meyakini bahwa segala rezeki maupun musibah seluruhnya berasal dari Allah SWT.

Pengajian Ahad Pagi ini diharapkan menjadi sarana memperkuat keimanan, memperluas wawasan keislaman, serta meningkatkan semangat warga Muhammadiyah dan masyarakat dalam mengamalkan ajaran Islam secara istiqamah di tengah kehidupan sehari-hari.

Kontributor: Triyono

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button