Pendidikan

Kampung Tamaddun Islam ICS Purworejo Hadirkan Pembelajaran Siroh Nabiwiyah secara Interaktif, Libatkan Mahasiswa UTP Malaysia

PURWOREJO — Semangat membangun peradaban Islam dari lingkungan masyarakat terus digelorakan Islamic Center Silagar (ICS) Darul Amiin Purworejo. Melalui program Kampung Tamaddun Islam bertema “Peradaban Islam untuk Masa Depan Gemilang”, anak-anak TPQ Islamic Center Silagar mendapatkan pengalaman belajar agama yang berbeda dan lebih interaktif.

Kegiatan tersebut berlangsung di Islamic Center Silagar Darul Amiin, Silagar, RT 001/RW 007, Kelurahan Cangkreplor, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Selasa (1/9/2026). Program ini diselenggarakan ICS Darul Amiin Purworejo dengan berkolaborasi bersama komunitas Rakan Masjid Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia.

Kampung Tamaddun Islam dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan pembelajaran keagamaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan pengenalan program ICS Darul Amiin kepada masyarakat. Kegiatan tersebut mempertemukan pengampu Islamic Center Silagar, anak-anak TPQ, sejumlah wali siswa, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo yang tergabung dalam Jami’atul Quran Wal Huffadz (JQH) Al Bayan, mahasiswa Rakan Masjid UTP Malaysia, serta tokoh masyarakat setempat.

Beragam materi keislaman dikemas melalui permainan edukatif. Anak-anak diajak mengenal sirah nabawiyah, kisah para nabi, kehidupan para sahabat Nabi Muhammad saw., serta berbagai pengetahuan dasar Islam. Model pembelajaran tersebut menjadi penyegaran dari rutinitas mengaji sekaligus memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Pimpinan Islamic Center Silagar, Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, S.Th.I., MIRKH., mengatakan Kampung Tamaddun Islam merupakan program yang digagas untuk menunjukkan bahwa pembangunan peradaban Islam dapat dimulai dari lingkungan yang sederhana.

“Kampung Tamaddun Islam merupakan suatu program yang diinisiasi oleh Islamic Center Silagar di Kota Purworejo. Tujuannya adalah ingin mengenalkan dan menunjukkan kepada dunia bahwa peradaban Islam bisa dibangun dari suatu kampung yang kecil sekalipun,” ujarnya.

Menurut Nurrosyid, tema “Peradaban Islam untuk Masa Depan Gemilang” menjadi pesan utama yang ingin ditanamkan melalui program tersebut. Ia berharap kegiatan di Silagar dapat menjadi awal tumbuhnya benih-benih peradaban Islam yang berkembang secara berkelanjutan.

“Kita berharap akan tumbuh benih-benih daripada peradaban Islam dari sini. Alhamdulillah, Kampung Tamaddun Islam kali ini disukseskan dan dihadiri oleh tamu spesial kita dari Universiti Teknologi Petronas yang merupakan komunitas Rakan Masjid,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu pelaksanaan. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk mahasiswa dari Malaysia, menjadi bagian penting untuk memperluas jejaring dan pengalaman pembelajaran anak-anak.

“Mudah-mudahan ke depan terus diadakan dan meningkat lebih baik lagi,” tutur Nurrosyid.

Sementara itu, Muhammad Farhi bin Azhari, Wakil Ketua Program Road to Indonesia Rakan Masjid UTP Malaysia, menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa UTP dalam kegiatan tersebut menjadi momentum untuk berinteraksi langsung dengan anak-anak di Kampung Silagar.

“Kami sedang mengadakan aktivitas dengan anak-anak di Kampung Silagar. Kami mengajar modul Islami dengan memperkenalkan para sahabat Nabi, sifat-sifat sahabat Nabi saw., serta kisah-kisah nabi terdahulu seperti Nabi Yunus, Nabi Yusuf, Nabi Ya’qub, dan Nabi Ismail alaihimussalam,” jelasnya.

Farhi menjelaskan, materi sengaja dikemas dengan pendekatan permainan agar anak-anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. Salah satu metode yang digunakan adalah permainan kartu bergambar yang menghubungkan gambar dengan kisah nabi tertentu.

“Disebabkan kita mau berinteraksi dengan anak-anak, jadi kami membuat pembelajaran itu menjadi lebih interaktif dengan mengadakan games atau permainan,” katanya.

Dalam permainan tersebut, anak-anak diminta memilih kartu yang tepat berdasarkan gambar yang tersedia. Misalnya, kombinasi gambar hewan dan bahtera digunakan untuk mengantarkan anak-anak memahami kisah Nabi Nuh alaihissalam. Metode sederhana itu membuat pembelajaran berlangsung lebih komunikatif sekaligus mendorong anak-anak untuk aktif menjawab dan berdiskusi.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena pembelajaran keislaman bagi anak-anak tidak hanya membutuhkan penyampaian materi, tetapi juga pengalaman yang mampu membangun kedekatan emosional dengan kisah-kisah dalam Islam. Melalui permainan, anak-anak diharapkan dapat mengingat materi dengan lebih mudah dan memahami nilai keteladanan yang terkandung di dalamnya.

Farhi berharap kegiatan tersebut memberikan dampak jangka panjang bagi anak-anak TPQ Islamic Center Silagar. Menurutnya, pembelajaran tentang Nabi dan para sahabat harus diarahkan pada tumbuhnya kecintaan sekaligus keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapan kami supaya anak-anak di Silagar ini membesar menjadi orang yang paham dan juga cinta kepada Nabi Muhammad dan semua nabi beserta para sahabat. Tentunya mengikuti sifat-sifat yang ditunjukkan oleh para sahabat Nabi,” ujarnya.

Selain menjadi sarana pembelajaran, Kampung Tamaddun Islam juga memperkuat hubungan antara Islamic Center Silagar dengan masyarakat sekitar dan mahasiswa dari berbagai institusi. Kehadiran mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo melalui JQH Al Bayan bersama Rakan Masjid UTP Malaysia menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas lembaga dan lintas negara.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi anak-anak untuk memperoleh pengalaman baru dalam belajar agama. Mereka tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga diajak bergerak, bermain, memilih, menjawab, dan berinteraksi secara langsung.

Bagi Islamic Center Silagar, kegiatan tersebut menjadi langkah kecil untuk mewujudkan gagasan besar tentang peradaban Islam. Dari sebuah kampung di Purworejo, nilai-nilai Islam dikenalkan kepada generasi muda melalui pembelajaran yang kreatif, kolaboratif, dan menggembirakan.

Semangat itulah yang menjadi ruh Kampung Tamaddun Islam: membangun masa depan melalui pendidikan, menanamkan kecintaan kepada Rasulullah saw. dan para nabi, serta menghadirkan nilai-nilai keteladanan para sahabat dalam kehidupan generasi muda.

Dengan demikian, peradaban Islam tidak dipahami sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak, melainkan dapat dimulai dari hal sederhana—dari masjid, TPQ, keluarga, kampung, dan pendidikan anak-anak. Dari Silagar, cita-cita tentang “Peradaban Islam untuk Masa Depan Gemilang” mulai ditanamkan.

(A.M. Musdani)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button