Tulisan

Doa Sesudah Adzan (Sanggahan Terhadap Pernyataan Ustadz Mujiman)

Bacaan Doa Sesudah Adzan

Bacaan doa sesudah adzan yang tertulis dalam buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) jilid 1 halaman 150 adalah sebagai berikut,

اللَّهُمَّ صَل عَلَى مُحَمدٍ وَعَلىَ اَلِ مُحَمدٍ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Allāhumma shalli ‘alā Muhammadin wa ‘alā āli Muhammad. Allāhumma rabba hādzihid dakwatit tāmmah, was shalātil qā’imah, āti muhammadanil wasīlata wal fadhīlah, wab‘atshu maqāmam mahmūdanil ladzī wa‘adtah.

Artinya : “Ya Allah, berilah kehormatan dan kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarganya. Ya Allah, Tuhanya seruan yang sempurna dan shalat yang akan tegak ini, berikanlah wasilah dan kelebihan kepada Muhammad dan sampaikanlah kepadanya kedudukan yang terpuji, yang telah Kau janjikan.

Dalil Doa Sesudah Adzan

Bacaan shalawat pada do’a tersebut didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh jama’ah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah. Berikut ini adalah hadits tersebut menurut lafal Muslim (hadits pertama),

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ – ﷺ – يَقُولُ : إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَة فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَة حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Artinya: “Dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash radliyallāhu’anhumā, beliau pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Apabila kamu seruan muadzin, maka katakanlah seperti yang ia diucapkan, lalu bacalah shalawat untukku. Karena barang siapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah akan memberikan rahmat sepuluh kali lipat. Kemudian mintalah wasilah untukku kepada Allah, karena wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang hanya diberikan kepada seorang hamba Allah, dan aku mengharap agar akulah hamba itu. Maka barang siapa memintakan wasilah untukku niscaya ia akan beroleh syafa’atku.” (HPT jilid 1 halaman 127).

Adapun bacaan doa setelah shalawat didasarkan pada hadits riwayat jama’ah kecuali Muslim. Berikut ini adalah hadits tersebut menurut lafal Bukhari dari sahabat Jabir (hadits kedua),

عَنْ جَابِرٍ- رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ﷺ قَالَ : مَنْ قَالَ حِينَ اَلنِّدَاءَ : اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ اَلدَّعْوَةِ اَلتَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ اَلْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا اَلَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ

Artinya : “Dari Jabir radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa sehabis adzan berdoa : Allāhumma rabba hādzihid dakwatit tāmmah, was shalātil qā’imah, āti muhammadanil wasīlata wal fadhīlah, wab‘atshu maqāmam mahmūdanil ladzī wa‘adtah, niscaya ia akan memperoleh syafaatku pada hari kiamat.’ (HPT jilid1halaman 128)
Imam an-Nawawi menuliskan dalam kitab beliau al-Adzkar halaman 44 (Kairo, Darul Hadits: 2003 M/1424 H)

Siapakah Yang Membaca Doa ini?

Pada HPT jilid 1 halaman 117 tertulis sebagai berikut,

“Dan sesudah adzan selesai, masing-masing dari muadzin dan pendengar hendaklah bershalawat kepada Nabi s.a.w. seraya do’anya: “Allāhumma rabba hādzihid dakwatit tāmmah, was shalātil qā’imah, āti muhammadanil wasīlata wal fadhīlah, wab‘atshu maqāmam mahmūdanil ladzī wa‘adtah.”

Jadi yang dianjurkan untuk membaca doa sesudah adzan adalah muadzin dan pendengar (orang yang mendengarkan adzan), bukan hanya pendengar saja.

Hal itu ditegaskan kembali oleh Majlis Tarjih PP Muhammadiyah dalam Tanya Jawab Agama (TJA) jilid 4 halaman 51, “Bagi yang beradzan dianjurkan membaca doa sesudah adzan sebagaimana tuntunan. Adapun dasarnya adalah riwayat Jama’ah kecuali Muslim dari Jabir.” (hadits kedua)

Pendengar adzan juga dianjurkan membaca doa sesudah adzan. Hal ini tercantum dalam TJA jilid 4 halaman 52, “Bagi yang mendengarkan adzan dianjurkan dianjurkan pula membaca doa sesudah adzan berdasar Hadits riwayat Jama’ah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Amr ibnil ‘Ash.” (hadits pertama)

Pendapat Ustadz Mujiman

Berbeda dengan putusan Majlis Tarjih Muhammadiyah, ustadz Mujiman menyatakan bahwa doa sesudah adzan hanya dibaca oleh pendengar saja tidak untuk muadzin. Muadzin tidak membaca doa apapun selesai menyerukan adzan. Pernyataan beliau ini dapat didengarkan pada tautan (pertama) berikut https://www.youtube.com/watch?v=JvG-uf5cGWM

Pernyataan beliau perihal doa sesudah adzan ini juga diunggah oleh Azan Channel pada tautan (kedua) ini https://www.youtube.com/watch?v=LNG7pm_Jr-Q .

Pada menit 00;39 dari tautan pertama dan menit 04;51 pada tautan kedua, beliau menyatakan, “Jadi menurut Tarjih, seorang muadzin juga tidak dituntunkan untuk membaca sesuatu doa. Seruan Nabi mengucapkan doa adalah bagi orang yang mendengarkan adzan. Jadi bagi muadzin, kalau mau adzan silakan adzan. Begitu selesai, ya sudah selesai. Tidak ada tuntunan untuk membaca sesuatu doa.”

Keterangan ustadz Mujiman tersebut bertentangan dengan fakta dan data resmi yang tertulis dari Majlis Tarjih PP Muhammadiyah, seperti yang sudah penulis paparkan diatas. Tidak penjadi persoalan, jika beliau menyatakan bahwa hal tersebut adalah pendapat pribadi beliau. Masalahnya adalah beliau menyampaikan bahwa pernyataan tersebut adalah pendapat resmi Majlis Tarjih.

Perhatian penulis juga tertuju pada judul tulisan yang tertera dalam dua tautan di atas. Tautan pertama berjudul “Apakah Syekh Albani Dipakai di Muhammadiyah ? Hukum Doa Sebelum dan Sesudah Adzan. Ustadz Mujiman.” Sedangkan tautan kedua berjudul “Akhirnya Majelis Tarjih Muhammadiyah Beri Pelajaran untuk UAH Terkait Syaikh Albani. Judul tautan kedua ini tampak lebih provokatif dari tautan pertama. Dia membanding-bandingkan dua muballigh Muhammadiyah. Dia juga sedang “menggoreng” suasana hati warganet, seolah-olah muballigh yang satu lebih paham Muhammadiyah dari yang lain.

Mengakhiri tulisan ini, penulis menghimbau kepada para muballigh Muhammadiyah hendaknya jujur, hati-hati dan cermat menyampaikan segala hal yang berkaitan dengan Muhammadiyah. Yang lebih penting lagi, Muhammadiyah berprinsip terbuka, toleran dan tidak mengannggap pendapatnya yang paling benar.

Nif’an Nazudi

MTT PDM Purworejo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button