
Menyikapi Perbedaan Penentuan 1 Syawal 1447 H: Merajut Ukhuwah di Tengah Perbedaan
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Setiap datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia disatukan oleh semangat ibadah, penghambaan, dan harapan meraih ridha Allah SWT. Namun, ketika Ramadhan berakhir dan tibalah penentuan 1 Syawal, tidak jarang muncul perbedaan dalam menetapkan hari raya Idul Fitri. Perbedaan ini merupakan fenomena yang berulang, termasuk pada 1 Syawal 1447 H.
Perbedaan tersebut sejatinya bukanlah hal baru dalam khazanah Islam. Ia lahir dari perbedaan metode ijtihad dalam memahami dalil, baik melalui rukyatul hilal (pengamatan bulan) maupun hisab (perhitungan astronomi). Keduanya memiliki landasan syar’i yang kuat dan telah digunakan oleh para ulama sejak dahulu. Maka, perbedaan ini bukanlah pertentangan, melainkan kekayaan dalam tradisi keilmuan Islam.
Allah SWT berfirman:
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At-Taghabun: 16)
Ayat ini memberikan pemahaman bahwa dalam menjalankan syariat, umat Islam berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan ilmu dan keyakinannya. Begitu pula dalam menentukan 1 Syawal, setiap kelompok berijtihad berdasarkan pemahaman yang diyakininya benar.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia mendapat dua pahala. Jika ia berijtihad lalu keliru, maka ia mendapat satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa perbedaan hasil ijtihad tidak menghilangkan nilai kebaikan, bahkan tetap bernilai pahala di sisi Allah.
Oleh karena itu, perbedaan dalam penentuan Idul Fitri seharusnya tidak menjadi sebab perpecahan, apalagi permusuhan. Justru di sinilah ujian kedewasaan umat Islam dalam menjaga ukhuwah Islamiyah. Kita diajarkan untuk saling menghormati pilihan yang diambil oleh saudara-saudara kita, tanpa merendahkan atau menyalahkan.
Sikap saling menghargai dapat diwujudkan dengan tidak mencela perbedaan, tidak memaksakan pendapat, serta tetap menjaga silaturahim. Bagi yang merayakan lebih dahulu, tetap menghormati saudara yang masih berpuasa. Begitu pula sebaliknya, yang belum berhari raya hendaknya tidak memandang sinis kepada yang telah berlebaran.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu…” (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa ukhuwah (persaudaraan) adalah fondasi utama dalam kehidupan umat Islam. Jangan sampai perbedaan yang bersifat furu’iyah (cabang) merusak persatuan yang lebih besar.
Momentum Idul Fitri sejatinya adalah waktu untuk saling memaafkan, mempererat tali silaturahim, dan membersihkan hati dari segala prasangka buruk. Maka sangat disayangkan jika hari kemenangan justru diwarnai dengan perpecahan.
Mari kita jadikan perbedaan ini sebagai sarana untuk belajar saling memahami, memperluas wawasan, dan memperkuat toleransi dalam bingkai syariat. Kita boleh berbeda dalam cara, namun tetap satu dalam tujuan: beribadah kepada Allah SWT dan meraih ridha-Nya.
Akhirnya, semoga Idul Fitri 1447 H menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan sikap dewasa dalam beragama, serta menjaga persatuan umat. Dengan saling menghormati dan menghargai, insyaAllah keberkahan akan senantiasa menyertai kita semua.
Taqabbalallahu منا ومنكم، mohon maaf lahir dan batin.
Wasallamu’alikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Penulis: Triyono



