Tulisan

Menuju Masyarakat 5.0: Internalisasi Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan dalam Gerakan Pelajar

Dunia saat ini sedang berada diambang transformasi besar yang dikenal sebagai society 5.0. Di era ini, integrasi antara teknologi canggih dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi kunci utama. Bagi Gerakan Muhammadiyah tantangan ini bukan sekedar adopsi teknologi, melainkan bagaimana semangat “Islam Berkemajuan” mampu mewarnai tatanan global melalui paradigma kosmopolitanisme.

Al-Fatihah: Fondasi Teologis Kosmopolitanisme
“Dasar dari Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan dapat ditemukan dalam Surah Al-Fatihah. Sebagai Ummul Kitab, setiap ayat dalam Al-Fatihah mengandung makna yang jika direnungi akan melahirkan wawasan global (worldview) yang inklusif,” ujar Hamam Sanadi, Ph.D., Ketua MPKSDI Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Ketika kita membaca “Rabbil ‘Alamin” (Tuhan semesta alam), kita sedang mengakui bahwa Islam tidak hanya untuk satu kelompok, melainkan untuk seluruh alam semesta. Inilah akar dari kosmopolitanisme, sebuah kesadaran bahwa semua manusia adalah satu kesatuan (soma) dan kita memikul tanggung jawab sosial universal. Landasan ini diperkuat dengan prinsip Tauhid Rahamutiyah, yaitu keyakinan bahwa Allah telah mewajibkan diri-Nya sendiri untuk memiliki sifat dasar kasih sayang (rahmah), yang menjadi energi utama dalam pengabdian kita.

Filosofi Dasar Feeding, Schooling, dan Healing
Sejarah Gerakan Muhammadiyah tidak lepas dari tiga pilar utama: feeding (pemberian makan/pelayanan sosial), schooling (pendidikan) dan healing (pelayanan kesehatan). Hamam Sanadi juga menekankan bahwa fokus gerakan ini berakar pada keyakinan bahwa islam adalah agama yang mengajarkan kemajuan. Namun, untuk menghadapi era modern, sikap mental aktivis harus melampaui orientasi materialisme (bio genetik) atau sekedar mencari pengaruh sosial-politik (sosio genetik).

Aktivis masa kini harus mencapai theo genetic, dimana keterlibatan dalam organisasi dianggap sebagai lahan pengabdian hidup, energi, dan amal jariyah. Di sinilah konsep kosmopolitanisme muncul sebagai wawasan global (world view). Mengadopsi pikiran Mahatma Gandhi, kita diingatkan bahwa semua manusia adalah satu kesatuan (soma), sehingga hidup sosial dan universal menjadi mandat spiritual yang mutlak.

Perkhidmatan Islam Kosmopolitanisme
Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan ada dalam berbagai level perkhidmatan:

  1. Perkhidmatan keumatan dan kebangsaan: menjaga keutuhan moral dan sosial ditingkat lokal dan nasional.
  2. Perkhidmatan kemanusiaan dan global: menjawab tantangan kemanusiaan lintas batas negara.
  3. Perkhidmatan masa depan: mempersiapkan landasan bagi generasi mendatang melalui etos kerja yang positif dan visioner.

Landasan dari semua ini adalah Tauhid Rahamutiyah, sebuah keyakinan bahwa Allah yang Maha Esa telah mewajibkan diri-Nya sendiri untuk memiliki sifat dasar kasih sayang (Rahmah). Sifat inilah yang harus menjadi etos kerja kita, energi yang penuh syukur, kepeloporan, dan berorientasi pada kesejahteraan.

Menjawab Tantangan Society 5.0
Di era society 5.0 pusat perhatian harus kembali pada manusia. Teknologi hanyalah alat untuk meningkatkan kapasitas kader agar dapat bergerak lebih inovatif. Dalam konteks ini Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dituntut tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar diri sendiri, tetapi berorientasi pada kemajuan peradaban. Saat ini teknologi berkembang dengan pesat, hampir seluruh pelajar mengikuti perkembangannya, sehingga mampu mempermudah digitalisasi, namun saat ini tantangan yang dihadapi dari perkembangan zaman, ketika pelajar menjadikan teknologi sebagai strategi dakwah pun harus bertransformasi melalui digitalisasi dakwah, konten media sosial menjadi sarana krusial untuk menarik minat generasi muda agar tetap dekat dengan nilai-nilai islam. Pelajar tidak boleh lagi hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan harus menjadi penggerak perubahan.

Peran Strategis Pelajar di Era Disurpsi
Sebagai insan berkemajuan, peran yang dapat diambil oleh para pelajar meliputi:

  1. Belajar dengan sungguh-sungguh: menguasai ilmu pengetahuan sebagai modal utama peradaban.
  2. Literasi digital: Menggunakan teknologi dengan bijak dan menerapkan prinsip “saring sebelum sharing” untuk menangkal berita bohong.
  3. Maslahat Sosial: Memastikan bahwa efisiensi industri yang dihasilkan oleh teknologi tetap sejalan dengan kemaslahatan sosial dan nilai-nilai keislaman.

Islam berkemajuan bukan hanya sebagai slogan melainkan identitas yang menuntut kita untuk memiliki wawasan global, etos kerja yang berlandaskan kasih sayang, dan keberanian untuk berinovasi di tengah disurpsi. Kita bukan sekedar penumpang di era ini, kita adalah penggeraknya.

Iffana Jihadatus SilmiKetua Bidang Perkaderan PD IPM Purworejo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button