Pendidikan

Parenting Milad ke-109 ’Aisyiyah Purworejo: Ustaz Saijan Ungkap 7 Rahasia Pendidikan Rasulullah untuk Membentuk Generasi Berakhlak dan Berkemajuan

PURWOREJO — Semangat membangun generasi unggul dan berakhlak mewarnai kegiatan Parenting bertema “7 Rahasia Tahapan Pendidikan Rasulullah SAW” yang digelar Pimpinan Daerah ’Aisyiyah (PDA) Purworejo di Pendopo Kabupaten Purworejo, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian Semarak Milad ke-109 ’Aisyiyah Kabupaten Purworejo yang diikuti ratusan guru ’Aisyiyah se-Kabupaten Purworejo, wali murid TK, Kelompok Bermain, dan PAUD ’Aisyiyah, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.

Hadir sebagai narasumber utama, Saijan, S.Ag., M.Ag., tokoh pendidikan Muhammadiyah yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan dasar. Ia pernah menjabat Kepala SD Muhammadiyah Gresik Kota Baru pada 1998–2000, Kepala SD Muhammadiyah Karangwaru Yogyakarta pada 2001–2005, Kepala SD Muhammadiyah Sapen pada 2005–2015, Kepala SD Muhammadiyah Nitikan pada 2015–2025, dan saat ini menjadi Kepala SD Muhammadiyah Warungboto Yogyakarta.

Dalam penyampaian materinya, Saijan menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari proses panjang pembentukan karakter sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan yang dilakukan secara konsisten melalui lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah dan ’Aisyiyah telah melahirkan banyak kader berkualitas yang memberi manfaat besar bagi masyarakat.

Ia membuka parenting dengan menceritakan pengalaman pribadinya saat menerima amanah infaq dari sejumlah pihak untuk membantu sekolah dan panti asuhan Muhammadiyah. Menariknya, sebagian donatur tersebut merupakan alumni sekolah yang pernah dipimpinnya.

Saijan mengatakan, para alumni itu kini telah menjadi pribadi sukses dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Menurutnya, hal tersebut tidak mungkin terjadi tanpa proses pendidikan yang baik sejak dini.

“Tidak mungkin saat ini menjadi kader yang luar biasa dengan amal infaq yang besar tanpa melalui proses pendidikan yang luar biasa pula,” ujarnya di hadapan peserta parenting.

Ia menjelaskan bahwa pembentukan karakter dan kesadaran sosial seseorang tidak terjadi secara instan. Proses itu dibangun sejak kecil melalui lingkungan pendidikan yang tepat dan berkesinambungan.

“Dimulai dari PAUD ’Aisyiyah, TK ’Aisyiyah, SD Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah, hingga perguruan tinggi Muhammadiyah. Semua itu mematri dalam diri anak menjadi pribadi yang terbuka pemahamannya dan dengan penuh kesadaran mau berinfaq serta beramal saleh,” katanya.

Pernyataan tersebut disambut antusias para peserta yang mayoritas merupakan guru dan wali murid lembaga pendidikan ’Aisyiyah.

Dalam paparannya, Saijan juga menyoroti tantangan pendidikan anak di era modern yang menurutnya jauh berbeda dibanding masa lalu. Ia mengutip pesan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, tentang pentingnya mendidik anak sesuai zamannya.

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya,” kata Saijan mengutip pesan Ali bin Abi Thalib.

Menurutnya, orang tua dan guru saat ini menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, media sosial, hingga perubahan pola interaksi sosial membuat pendekatan pendidikan harus terus menyesuaikan perkembangan zaman.

Ia kemudian menggambarkan perubahan besar yang terjadi dari masa ke masa. Saat dirinya kecil, komunikasi dilakukan dengan cara sederhana menggunakan dua kaleng bekas susu yang dihubungkan dengan tali untuk bermain telepon-teleponan.

“Dulu belum ada handphone. Kalau mau main telepon-teleponan pakai dua kaleng bekas susu disambung tali,” ujarnya disambut tawa peserta.

Tidak hanya itu, ia juga mengenang masa ketika televisi menjadi barang langka sehingga warga satu kampung menonton bersama-sama di satu rumah.

Kini, lanjutnya, kondisi berubah total. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan digital dengan akses teknologi tanpa batas. Karena itu, pola pendidikan tidak bisa lagi disamakan dengan masa lalu.

Saijan menegaskan bahwa setiap anak memiliki karakter berbeda sehingga pendekatan pendidikan pun harus berbeda. Ada anak yang mudah diatur, tetapi ada pula yang memiliki pendirian kuat dan ingin didengar pendapatnya.

“Mendidik satu anak dengan anak lainnya itu berbeda tantangannya. Ada yang penurut, ada yang punya keinginan sendiri dan teguh dengan keinginannya,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan para orang tua agar tidak membanding-bandingkan anak satu dengan lainnya karena hal tersebut justru dapat merusak mental dan kepercayaan diri anak.

“Jangan membanding-bandingkan anak,” tegasnya.

Dalam parenting tersebut, Saijan memaparkan tujuh rahasia tahapan pendidikan menurut Rasulullah SAW yang menurutnya relevan diterapkan di era modern saat ini.

Tahapan pertama adalah memberikan nama yang baik kepada anak. Menurutnya, nama bukan sekadar identitas, tetapi juga doa dan harapan orang tua kepada anak.

“Nama itu mengandung doa. Kalau diberi nama baik berarti kita mendoakan yang baik,” ujarnya.

Ia mengingatkan para orang tua agar tidak asal mengambil nama tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya. Bahkan nama yang diambil dari Al-Qur’an sekalipun harus dipahami artinya terlebih dahulu.

“Pengambilan nama dari sumber Al-Qur’an juga perlu dicek dahulu artinya,” katanya.

Tahapan kedua adalah memberikan pendidikan akhlak yang baik. Saijan menegaskan bahwa pendidikan akhlak harus menjadi fondasi utama sebelum anak diajarkan berbagai keterampilan dan pengetahuan lainnya.

“Adab dulu, baru yang lain. Akhlaknya dulu, baru keterampilannya,” tuturnya.

Menurutnya, banyak persoalan bangsa saat ini muncul karena tingginya kecerdasan tidak diimbangi dengan akhlak dan etika yang baik.

Ia mencontohkan masih adanya pejabat atau orang berpendidikan tinggi yang tidak saling menyapa dan kehilangan sikap santun dalam kehidupan sosial.

“Begitu banyak orang pintar tetapi tidak beradab,” katanya.

Karena itu, ia menilai pendidikan di sekolah maupun keluarga harus dimulai dari pembentukan akhlak dan keteladanan.

“Kesempurnaan seseorang itu ditunjukkan dari akhlaknya,” lanjutnya.

Tahapan ketiga adalah mengajarkan baca tulis dan pengetahuan umum. Namun menurut Saijan, pendidikan tidak cukup hanya memenuhi standar biasa.

Ia mendorong sekolah Muhammadiyah dan ’Aisyiyah untuk menghadirkan pelayanan pendidikan dengan keunggulan di berbagai bidang, baik akademik maupun non akademik.

“Mengajarkan standar itu biasa. Tetapi kita harus menghadirkan pelayanan dengan keunggulan,” ujarnya.

Ia berharap sekolah Muhammadiyah dan ’Aisyiyah mampu tampil sebagai lembaga pendidikan yang unggul dalam berbagai bidang seperti olahraga, seni, bahasa, hingga teknologi.

Tahapan keempat adalah melatih keterampilan, yang pada masa Rasulullah dicontohkan dengan kemampuan berenang. Menurut Saijan, keterampilan anak saat ini harus menyesuaikan perkembangan zaman.

“Sekolah Muhammadiyah dan ’Aisyiyah harus tampil di luar standar,” katanya.

Menurutnya, prestasi di bidang tahfiz atau tahsin Al-Qur’an memang penting, tetapi sekolah juga harus mampu melahirkan prestasi di bidang lain yang lebih luas.

“Kalau juara tahsin dan tahfiz itu standar. Tetapi kalau juara paduan suara internasional, itu salah satu yang di luar standar umum,” ujarnya.

Tahapan kelima adalah melatih ketangkasan, yang pada masa Rasulullah diwujudkan melalui keterampilan memanah. Dalam konteks sekarang, menurut Saijan, ketangkasan dapat diwujudkan melalui penguasaan teknologi informasi dan kemampuan bahasa asing.

“Saat ini keterampilan IT, kemampuan bahasa, dan lomba-lomba terkait teknologi harus kita kuasai,” katanya.

Ia menilai penguasaan teknologi menjadi kebutuhan penting agar generasi muda mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan karakter keislamannya.

Tahapan keenam adalah memberikan makanan dan minuman yang halal serta baik atau thayyib. Menurutnya, pola makan dan pola hidup sehat harus diperhatikan sejak dini karena berpengaruh besar terhadap perkembangan fisik dan mental anak.

“Berikan makan yang terbaik. Pola makan dan pola minum perlu dijaga,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya membiasakan anak mengonsumsi makanan sehat dan memperbanyak air putih dibanding minuman instan yang berlebihan.

“Minumnya cukup air putih saja. Kesehatan itu penting,” katanya.

Tahapan ketujuh adalah mengawal anak hingga jenjang pernikahan. Menurut Saijan, tugas orang tua tidak berhenti ketika anak tumbuh dewasa atau menyelesaikan pendidikan.

“Orang tua harus mengawal hingga jenjang pernikahan. Jangan dilepas begitu saja,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa nilai tauhid, akidah, akhlak, dan ibadah yang telah ditanamkan sejak kecil bisa hilang apabila anak tidak tetap mendapatkan pendampingan dan perhatian dari orang tua.

“Setelah ditanamkan sejak kecil, bisa saja lepas kalau tidak dikawal,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Saijan juga menyampaikan tentang tiga investasi yang akan terus mengalir pahalanya hingga seseorang meninggal dunia, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.

Ia mengaitkan konsep tersebut dengan perjuangan orang tua membiayai pendidikan anak.

“Sodaqah jariyah itu termasuk biaya sekolah yang dibayarkan orang tua,” ujarnya.

Sementara ilmu yang dipelajari anak dan diterapkan dalam kehidupan juga menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya.

“Ilmu yang bermanfaat itu ketika ilmu yang didapatkan anak diterapkan dalam kehidupan,” katanya.

Sedangkan investasi terbesar lainnya adalah anak yang terus mendoakan kedua orang tuanya.

Saijan kemudian mengajak peserta mengingat lagu doa yang diajarkan kepada anak-anak TK ’Aisyiyah.

“Di tangan ini ada doa
Di mulut ini ada doa
Di hati ini ada doa
Esok lusa tetap berdoa
Ya Allah ya Tuhanku
Kabulkan doaku”

Menurutnya, doa anak saleh akan terus mengalir kepada orang tua bahkan setelah meninggal dunia.

“Kita mendidik, nanti ketika kita sudah tidak ada, doa anak-anak tetap mengalir kepada kita,” tuturnya.

Kegiatan parenting tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Semarak Milad ke-109 ’Aisyiyah Kabupaten Purworejo. Sebelumnya, PDA Purworejo juga telah menggelar berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Ketua PDA Purworejo Nur Ngazizah menyampaikan bahwa peringatan Milad ke-109 tidak hanya berupa seremoni, tetapi diwujudkan melalui berbagai program nyata yang menyentuh masyarakat.

“Salah satunya program Safari KB yang bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia di RSU ’Aisyiyah dan titik-titik kecamatan,” ujarnya.

Puncak peringatan Milad dan Hari Ber-’Aisyiyah dilaksanakan selama dua hari, Sabtu hingga Ahad, 9–10 Mei 2026, di kawasan Alun-alun dan Pendopo Kabupaten Purworejo.

Berbagai agenda digelar untuk memperkuat syiar dakwah dan pemberdayaan masyarakat, mulai dari tabligh akbar, seminar kesehatan, parenting, hingga perlombaan bagi ibu-ibu dan anak-anak.

Suasana semakin meriah pada Ahad (10/5/2026) melalui berbagai kegiatan resepsi Milad. Acara dihadiri unsur pemerintah daerah, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, hingga tokoh pendidikan.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan penyerahan simbolis kartu BPJS Ketenagakerjaan bagi guru TK, KB, dan PAUD ’Aisyiyah se-Kabupaten Purworejo.

Selain itu, diberikan pula apresiasi bagi guru PAUD serta bantuan kepada difabel dan dhuafa dari PDA Purworejo.

Kemeriahan acara semakin terasa dengan penampilan lagu “Bunda” oleh murid TK ABA serta pelepasan merpati sebagai simbol kepedulian lingkungan dan perdamaian.

Ribuan peserta juga mengikuti flashmob bendera merah putih dan bendera ’Aisyiyah, gerak lagu Pandu Hizbul Wathan, hingga senam massal bersama murid TK dan PAUD se-Kabupaten Purworejo.

Meski cuaca cukup panas, semangat peserta tetap tinggi mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.

Anak-anak juga tampak antusias mengikuti dongeng yang disampaikan Kak Ahmad Damar tentang perjuangan guru-guru ’Aisyiyah dalam mendidik generasi bangsa.

Pada akhir acara dilakukan pembagian hadiah kepada para pemenang berbagai perlombaan yang telah digelar selama rangkaian Milad ke-109 ’Aisyiyah Purworejo.

Seluruh kegiatan tersebut bertujuan mempererat ukhuwah dan silaturahmi antaranggota ’Aisyiyah se-Kabupaten Purworejo sehingga terbangun semangat dakwah dan kebersamaan yang semakin kuat.

Melalui kegiatan parenting dan berbagai agenda Milad lainnya, ’Aisyiyah Purworejo menegaskan komitmennya untuk terus membangun generasi berakhlak, berkemajuan, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai Islam.

(A.M. Musdani)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button