
Kepakkan Sayap Perdamaian: Membaca Makna Pelepasan Merpati pada Milad Ke-109 ‘Aisyiyah di Purworejo
PURWOREJO – Langit Purworejo dihiasi kepakan sayap burung merpati yang terbang bebas bertepatan dengan momentum perayaan Milad ke-109 ‘Aisyiyah. Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Purworejo memaknai peringatan tahun ini tidak hanya melalui kegiatan seremonial semata, melainkan lewat sebuah simbolisme sarat makna: pelepasan burung merpati ke alam bebas.
Pada Milad ke-109 ini, ‘Aisyiyah mengusung tema besar “Mengokohkan Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”. Jika ditelisik lebih dalam, ritual pelepasan merpati oleh jajaran PDA Purworejo merupakan manifestasi visual yang sangat kuat dari tema tersebut.
Merpati sebagai Duta Perdamaian dan Dakwah Kemanusiaan
Secara universal, burung merpati telah lama dikenal sebagai simbol perdamaian. Ketika merpati-merpati itu dilepaskan dan membumbung tinggi, hal ini merepresentasikan cita-cita luhur ‘Aisyiyah untuk terus menyebarkan pesan damai ke seluruh penjuru negeri. Gerakan dakwah ‘Aisyiyah yang berfokus pada kemanusiaan,mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan Perempuan, barat kepakan sayap yang membawa kesejukan dan perlindungan bagi masyarakat yang rentan.
“Merpati yang terbang bebas adalah wujud dari dakwah kita yang tidak boleh terbelenggu. Dakwah kemanusiaan ‘Aisyiyah harus mampu melintas batas, terbang tinggi menjangkau mereka yang membutuhkan pertolongan, demi merajut perdamaian di tengah masyarakat,” ungkap Nur Ngazizah, saat memberikan sambutan.
Manifestasi Cinta Makhluk Hidup dan Lingkungan
Lebih dari sekadar simbol perdamaian antar-manusia, pelepasan merpati ini juga menyentuh aspek teologi lingkungan (eco-teologi) yang menjadi bagian tak terpisahkan dari risalah Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.
Membiarkan burung merpati kembali ke habitat aslinya di udara lepas adalah bentuk nyata dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup. ‘Aisyiyah Purworejo mengirimkan pesan bahwa dakwah kemanusiaan tidak akan sempurna jika manusia abai terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.
Mewujudkan perdamaian sejati berarti juga berdamai dengan alam. Di tengah isu krisis ekologi global, pelepasan burung ini menjadi pengingat bagi warga ‘Aisyiyah dan masyarakat luas untuk menjaga kelestarian lingkungan, melindungi ekosistem, dan menghargai hak hidup makhluk ciptaan Allah SWT lainnya.
Kesetiaan pada Khittah Perjuangan
Ada satu pepatah lama yang mengatakan, “Merpati tak pernah ingkar janji”. Filosofi ini sangat lekat dengan karakter kader-kader ‘Aisyiyah. Burung merpati memiliki kemampuan navigasi yang luar biasa untuk selalu mengenali arah pulang.
Hal ini merepresentasikan kesetiaan (komitmen) para perempuan ‘Aisyiyah terhadap khittah perjuangan persyarikatan. Sejauh apa pun kiprah mereka di ranah publik, sebesar apa pun tantangan zaman yang dihadapi, kader ‘Aisyiyah akan selalu kembali pada niat suci awal: beribadah kepada Allah dan mengabdi untuk umat.
Melalui kepakan sayap merpati di langit Purworejo, Milad ke-109 ‘Aisyiyah menjadi momentum penegasan. Bahwa perempuan-perempuan berkemajuan akan terus bergerak, merawat kehidupan, mencintai alam semesta, dan menjadi garda terdepan dalam merajut perdamaian dunia. Selamat Milad ke-109, ‘Aisyiyah!
(A.M. Musdani)



