Agama

Khutbah Idulfitri 2026 di Bagelen: Khatib Peringatkan Bahaya Jadikan Ramadan Sekadar Topeng

Purworejo – ​Ratusan umat Islam memadati halaman MI Muhammadiyah Krendetan, Kecamatan Bagelen, untuk melaksanakan salat Id, Jumat (20/3/2026). Momen bahagia ini menggemakan pesan Khutbah Idulfitri 2026 yang sangat mendalam. Khatib secara khusus menyoroti pentingnya menjaga konsistensi ibadah. H. Zumarudin, S.Pd.I. selaku imam dan khatib dengan tegas menyampaikan esensi kebaikan pascapuasa kepada para jemaah.

​Cuaca pagi itu tampak sangat cerah dan bersahabat. Kondisi alam ini mengiringi kekhusyukan sekitar 700 warga Krendetan dan sekitarnya. Mereka duduk rapi di atas hamparan karpet dan sajadah pada rerumputan hijau. Mayoritas jemaah laki-laki bernaung teduh tepat di bawah rimbunnya pohon mangga besar. Suasana Idulfitri 1447 H tersebut terasa sangat kental dengan nuansa kedamaian. Panitia dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen sukses memulai jalannya ibadah tepat pukul 06.45 WIB.

​Menjaga Spirit Ibadah Pascapuasa
​Selanjutnya, khatib memulai penyampaian Khutbah Idulfitri 2026 dengan ajakan memperbanyak syukur. Ia menegaskan bahwa amal baik selama bulan suci harus menjadi tabiat yang permanen.

Zumarudin secara lugas melarang umat Islam menjadikan ibadah Ramadan hanya sebagai kepura-puraan sesaat. Sebaliknya, segala bentuk kebaikan itu wajib bertahan menghiasi jiwa pada sebelas bulan berikutnya.

​”Janganlah menjadikan Ramadan hanya sebagai topeng kehidupan kita, tetapi hendaknya Ramadan dijadikan sebagai wajah asli kita dalam menjalani di sebelas bulan berikutnya,” tegas Zumarudin lugas dari balik mimbar hijau berlambang Muhammadiyah.

​Selain itu, khatib juga mengingatkan para jemaah melalui perumpamaan yang kuat. Ia berpesan agar umat Islam tidak meruntuhkan kembali bangunan ibadah yang sudah kokoh terbangun. Perilaku membuang amal baik pascapuasa ibarat seseorang yang bodoh mengurai kembali tenunan kain yang sudah jadi.

​Peringatan Kematian dan Kebersamaan Warga
​Lebih lanjut, substansi Khutbah Idulfitri 2026 ini turut menyentuh aspek pengingat batas usia manusia. Banyak orang di masa kini rela meninggalkan ibadah hanya demi mengejar tumpukan pekerjaan duniawi. Padahal, orang yang telah meninggal dunia justru memohon hidup kembali sesaat hanya untuk bersedekah.

Dengan demikian, ketakwaan murni harus menjadi tameng utama saat warga kembali beraktivitas ke kantor maupun berdagang.
​Seusai rangkaian salat Id dan khutbah berakhir, suasana keakraban langsung terjalin. Para tokoh agama dan panitia penyelenggara setempat menyempatkan diri berfoto bersama di halaman gedung. Tujuh orang tokoh pria tampak tersenyum hangat menghadap kamera. Mereka mengenakan busana muslim rapi, memadukan peci, baju koko, jas hitam, dan sarung tenun.

Pemandangan humanis ini memancarkan raut kebahagiaan paripurna menyambut hari kemenangan.
​Oleh karena itu, pesan sentral dari Khutbah Idulfitri 2026 ini menjadi pijakan penting bagi masyarakat.

Momen perayaan Lebaran 2026 bukan sekadar ajang rutin untuk saling memaafkan. Namun, momentum ini harus menjadi titik tolak terbaik untuk memulai lembaran kehidupan baru yang lebih bersih.

Harapannya, warga Bagelen mampu terus membawa cahaya terang Ramadan hingga dipertemukan kembali pada tahun-tahun mendatang.

(Epin Hidayat)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button