Agama

Kajian Pagi Ramadhan ke-3 Masjid Darussalam Kutoarjo: Menguatkan Tauhid dan Menghidupkan Syahrul Qur’an

Purworejo — Kegiatan Kajian Pagi Ramadhan ke-3 Masjid Darussalam Kutoarjo 1447 H kembali digelar pada Jumat (20/2/2026) di Masjid Darussalam Kutoarjo, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Kajian yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kutoarjo sebagai pelaksana teknis ini menghadirkan mubaligh Ust. H. Sundarto sebagai pengisi materi.

Kegiatan tersebut diikuti pimpinan persyarikatan, jamaah, simpatisan, serta masyarakat umum yang antusias mengikuti majelis ilmu sejak pagi hari. Kajian ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadhan yang bertujuan menghadirkan ruang pembelajaran dan pencerahan umat melalui pemahaman Al-Qur’an, hadis, serta wawasan keislaman kontekstual.

Secara umum, kegiatan ini memiliki sejumlah tujuan penting, antara lain membangun ukhuwah Islamiah melalui majelis ilmu, menumbuhkan kesadaran muhasabah diri, serta mendorong jamaah memperbaiki kualitas kehidupan spiritual selama bulan suci Ramadhan.

Dalam pemaparannya, Sundarto menekankan bahwa Ramadhan merupakan bulan turunnya Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 185. Ia menyebut ayat tersebut sebagai landasan penting bahwa Ramadhan adalah momentum istimewa bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.

“Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil, termasuk pada malam Lailatul Qadr,” ujar Sundarto dalam ceramahnya.

Ia menambahkan, ibadah pada bulan Ramadhan harus dilandasi tauhid yang bersih, mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, disertai ilmu serta keikhlasan karena Allah SWT. Menurutnya, perpaduan tersebut menjadi syarat utama agar amal ibadah diterima.

Sundarto juga menyinggung keutamaan puasa yang memiliki nilai istimewa dibandingkan ibadah lainnya. Ia mengutip hadis yang menyatakan bahwa seluruh amal anak Adam diperuntukkan bagi dirinya, sedangkan pahala puasa menjadi hak Allah untuk membalasnya.

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan saat berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Allah,” katanya.

Dalam kajian tersebut, Sundarto menjelaskan bahwa Ramadhan dikenal sebagai syahrul Qur’an, syahrul wahyu, dan syahrus sodaqoh. Artinya, Ramadhan merupakan bulan turunnya wahyu sekaligus momentum memperbanyak sedekah.

Ia mengajak jamaah memanfaatkan Ramadhan dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an serta meningkatkan kualitas iman. Ajakan tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual puasa, tetapi juga momentum transformasi spiritual.

Secara tidak langsung, ia menekankan bahwa keberhasilan menjalani Ramadhan tidak hanya diukur dari menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dari peningkatan kedekatan dengan Al-Qur’an dan perbaikan iman.

Materi kajian juga menyinggung keutamaan malam Lailatul Qadr yang disebut sebagai hadiah besar bagi umat Nabi Muhammad SAW. Sundarto menjelaskan bahwa ibadah pada malam tersebut memiliki nilai setara dengan ibadah selama 1000 bulan atau sekitar 83 tahun 4 bulan.

Ia menuturkan bahwa keutamaan tersebut menjadi bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW yang memiliki usia relatif lebih pendek dibandingkan umat terdahulu.

Dengan adanya Lailatul Qadr, umat Islam tetap memiliki kesempatan meraih pahala besar yang setara dengan ibadah panjang umat terdahulu. Oleh karena itu, jamaah diimbau meningkatkan ibadah khususnya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Dalam kesempatan tersebut, Sundarto juga memberikan klarifikasi mengenai hadis yang membagi Ramadhan menjadi tiga fase: sepuluh hari pertama rahmat, sepuluh hari kedua maghfirah, dan sepuluh hari terakhir pembebasan dari api neraka.

Menurutnya, hadis tersebut dinilai dhaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan utama. Ia menjelaskan bahwa setiap hari di bulan Ramadhan sejatinya memuat rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka yang menyatu sepanjang bulan.

“Setiap hari Ramadhan adalah rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka, dengan puncaknya pada akhir Ramadhan,” jelasnya.

Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman jamaah agar menjalani Ramadhan secara optimal sejak hari pertama hingga akhir.

Kajian pagi ini berlangsung khidmat dengan interaksi aktif antara jamaah dan pemateri. Sejumlah jamaah terlihat mencatat poin-poin penting ceramah sebagai bekal memperbaiki kualitas ibadah selama Ramadhan.

Panitia penyelenggara menyampaikan bahwa kegiatan kajian pagi akan terus digelar sepanjang Ramadhan dengan menghadirkan berbagai pemateri dan tema yang relevan. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan literasi keislaman sekaligus mempererat ukhuwah antarjamaah.

Secara tidak langsung, kajian pagi Ramadhan menjadi ruang strategis bagi pembinaan umat, terutama dalam memperkuat pemahaman tauhid, meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta mendorong praktik ibadah yang lebih berkualitas.

Dengan terselenggaranya Kajian Pagi Ramadhan ke-3 ini, Masjid Darussalam Kutoarjo kembali menegaskan perannya sebagai pusat pembinaan spiritual dan majelis ilmu. Kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi jamaah untuk menjalani Ramadhan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, serta semangat memperbaiki diri.

Melalui majelis ilmu yang konsisten, Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah ritual, tetapi juga momentum transformasi spiritual yang membentuk pribadi muslim yang lebih beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

(A.M. Musdani)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button