Agama

Halal Bihalal sebagai Jalan Membersihkan Hati, Pesan Kajian Ahad Pagi PCM Bagelen

Purworejo – Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti kegiatan kajian Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bagelen pada Ahad, 26 Ramadan 1447 H atau bertepatan dengan 15 Maret 2026. Kajian yang berlangsung di MI Muhammadiyah Krendetan ini menghadirkan pemateri Dr. Hermawan yang menyampaikan tausiyah bertema “Mudik Beradab, Pulang Berpahala.”

Di hadapan jamaah yang memenuhi lokasi kajian, Dr. Hermawan mengajak umat Islam menjadikan momentum akhir Ramadan sebagai kesempatan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Menurutnya, tradisi halal bihalal yang berkembang di Indonesia bukan sekadar budaya sosial, tetapi memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw. yang menjelaskan bahwa siapa saja yang memiliki kesalahan atau kezaliman kepada saudaranya hendaknya segera meminta maaf sebelum datang hari ketika harta tidak lagi bernilai. Pada hari perhitungan kelak, kata dia, persoalan antar manusia tidak diselesaikan dengan uang, melainkan dengan perpindahan pahala atau dosa.

“Jika seseorang pernah menzalimi orang lain, maka pahala amal salehnya bisa diambil dan diberikan kepada orang yang dizalimi. Jika pahala itu habis, dosa orang yang dizalimi justru akan dipindahkan kepadanya,” jelasnya di hadapan jamaah.

Dalam ceramahnya, Dr. Hermawan juga menjelaskan makna kata halal dalam bahasa Arab yang berarti “terurai” atau “terlepas”. Ia mengibaratkan hubungan manusia yang rusak seperti tali yang kusut. Ketika saling memaafkan, tali tersebut kembali lurus dan hubungan silaturahmi menjadi lancar.

Selain itu, ia menegaskan perbedaan antara ikhlas dan rida yang sering kali dipahami sama oleh masyarakat. Ikhlas, menurutnya, berkaitan dengan sikap ketika seseorang melakukan amal atau memberi sesuatu semata-mata karena Allah. Sementara rida adalah sikap menerima dengan lapang dada terhadap takdir atau pemberian yang diterima.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hermawan juga memaparkan enam model halal bihalal yang dapat dilakukan umat Islam. Model pertama adalah memaafkan orang lain tanpa diminta terlebih dahulu, bahkan sebelum bertemu. Model kedua adalah saling berjabat tangan ketika bertemu tanpa ikrar formal. Model ketiga dilakukan melalui komunikasi jarak jauh seperti telepon atau video call.

Model keempat adalah bertemu langsung, berjabat tangan, dan saling mengucapkan permohonan maaf secara jelas. Model kelima adalah mendatangi orang yang pernah menyakiti kita untuk memaafkannya. Sedangkan model keenam—yang disebutnya paling sempurna—adalah mendatangi orang tersebut, meminta atau memberi maaf, sekaligus membawa hadiah sebagai tanda mempererat persaudaraan.

“Memberi maaf sering kali lebih berat daripada meminta maaf. Namun orang yang mampu memaafkan sebelum diminta adalah ciri orang bertakwa,” ujarnya.

Di bagian akhir ceramahnya, Dr. Hermawan mengajak jamaah memaknai kehidupan sebagai perjalanan pulang menuju Allah. Ia mengibaratkan manusia sedang dalam perjalanan mudik menuju kampung akhirat. Karena itu, setiap Muslim perlu menjaga adab, kesabaran, dan akhlak agar dapat kembali kepada Allah dengan membawa pahala, bukan beban dosa akibat menyakiti sesama.

Kajian Ahad pagi ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan Ramadan yang rutin digelar oleh PCM Bagelen. Melalui pengajian tersebut, diharapkan jamaah dapat memperdalam pemahaman keislaman sekaligus memperkuat ukhuwah menjelang Hari Raya Idulfitri.

(Epin Hidayat)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button