
Tarawih Silaturahim Malam ke-30 Ramadan 1447 H PCM Bagelen: Menutup Ramadan dengan Ukhuwah, Melanjutkan Dakwah dengan Istiqamah
Purworejo – Ramadan ditutup bukan dengan perpisahan, tetapi dengan peneguhan arah. Itulah yang tampak dalam pelaksanaan Tarawih Silaturahim (Tarhim) malam ke-30 Ramadan 1447 H oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen pada Rabu malam Kamis, 18 Maret 2026.
Di malam terakhir ini, masjid dan mushala di seluruh wilayah Bagelen tetap hidup—bukan sekadar oleh rakaat-rakaat tarawih, tetapi oleh denyut ukhuwah dan kesinambungan dakwah yang terjaga hingga penghujung bulan suci.
Tokoh-tokoh persyarikatan kembali turun langsung. Ustadz Ikhwan, Ketua Majelis Tabligh PCM Bagelen, mengisi di Masjid Al-Ikhlas Kauman Timur. Ustadz Erwin Burhanudin hadir di Mushalla Ar-Rahman Kantor Kecamatan. Ustadz Abdul Latif, Ketua PRM Krendetan, bertugas di Mushalla Nurul Huda Gatep. Ustadz Ahmad Mu’in mengisi di Mushalla Al-Hidayah Bedug.
Keterlibatan pemuda melalui PCPM di Masjid Al-Islah Nur Sokoagung menegaskan kesinambungan dakwah lintas generasi.
Sementara itu, takmir di berbagai titik memastikan pelaksanaan Tarhim berjalan tertib dan penuh kekhusyukan.
Sebaran Tarhim malam ke-30 mencakup Masjid Al-Ikhlas Kauman Timur, Mushalla Ar-Rahman Kantor Kecamatan, Mushalla Nurul Huda Gatep, Masjid Al-Ikhlas Srapah, Masjid As-Sakinah Bapangsari, Masjid Al-Islah Nur Sokoagung, Masjid Nurul Huda Kalirejo, Masjid Al-Muhajirin Kepondon, Masjid Tambahrejo, Masjid Al-Iman Bapangan, Masjid Ad-Darussalam Tlogokotes, Masjid Arrohmah Kalimaro, Masjid Al-Ikhlas Tlogokotes, Mushalla MIM Krendetan, Mushalla Al-Hidayah Bedug, Mushalla Nurul Ilmi Tlogokotes, Mushalla Ash-Shafiyah Jurangkah, Mushalla Nasrullah Jurangkah, Mushalla Sunan Geseng Jurangkah, hingga Mushalla Al-Ikhlas Jurangkah.
Pada malam penutup ini, salah satu tausiyah yang menguatkan disampaikan oleh Ustadz Muhammad Munif di Masjid Al-Islah Nur Sokoagung, dengan tema “Meminta Maaf, Meringankan Hidup.”
Ia menyampaikan:
Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita hidup bersama-sama, saling berinteraksi, saling membutuhkan. Bahkan orang yang tampak pendiam sekalipun, bukan berarti ia benar-benar sendiri—ia tetap hidup dalam jaringan hubungan, minimal dalam pikirannya, dalam harapannya, dalam kenangannya.
Karena itu, ketika manusia hidup bersama, satu hal yang pasti terjadi adalah kesalahan. Tidak ada manusia tanpa salah. Maka di sinilah pentingnya meminta maaf.
Permohonan maaf itu tidak selalu sama. Ia situasional.
Pertama, ada permohonan maaf karena kondisi yang tidak menjadi kenyataan. Seorang pemuda mencintai seseorang, namun tidak berjodoh, lalu ia berkata, “Maaf…”. Ini bukan karena ia bersalah, tetapi karena ada harapan yang tidak terpenuhi—maaf yang lahir dari kehalusan hati.
Kedua, ada permohonan maaf yang tidak serius, bahkan dijadikan candaan. Misalnya kepada istri: “Maaf ya, karena aku terlalu mencintaimu.” Ini bukan maaf yang menyelesaikan masalah, tapi kadang menutupi keseriusan. Jangan sampai kata maaf kehilangan maknanya.
Ketiga, dan yang paling penting, adalah permohonan maaf karena memang ada pelaku dan ada korban—ada yang tersakiti dan ada yang menyakiti. Di sinilah maaf menjadi kewajiban moral, bukan sekadar pilihan.
Meminta maaf itu bukan merendahkan diri. Justru ia mengangkat derajat kita. Karena dengan meminta maaf, kita meringankan beban orang lain, membersihkan hati kita sendiri, serta mendekatkan jarak yang sempat renggang.
Yang tadinya jauh bisa menjadi dekat kembali. Yang tadinya canggung bisa kembali hangat. Bisa ngobrol bareng, bisa ngopi bareng, tanpa ganjalan di hati.
Orang yang mau meminta maaf sejatinya unggul satu langkah dibanding yang tidak mau sama sekali.
Mari kita jadikan momentum ini untuk saling memaafkan. Bukan sekadar formalitas, tapi kesadaran bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dipenuhi beban kesalahan yang tidak diselesaikan.
Meminta maaf bukan tanda kalah. Meminta maaf adalah tanda kita ingin hidup lebih ringan, lebih dekat, dan lebih berkah.
Tarhim malam ke-30 ini menegaskan bahwa Ramadan bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal dari keberlanjutan.
PCM Bagelen berharap semangat ukhuwah, keteladanan, dan keikhlasan yang terbangun selama Ramadan dapat terus dirawat sebagai fondasi dakwah di tengah masyarakat.
Keberhasilan Ramadan diukur dari apa yang tersisa setelahnya: istiqamah dalam amal dan kelapangan hati dalam memaafkan.
(Epin Hidayat)



