Pertanian

Bongkar Algoritma TikTok dan Rawat Lahan, Mahasiswa UMPWR Padukan Edu-Commerce dan Praktik Ekologi di Hore Farm

Purworejo – Kerugian ratusan juta rupiah di lahan pertanian justru menjadi titik tolak bagi Dwi Setiyo Rahadi untuk membangun ekosistem agrikultur digital melalui akun TikTok Hore Farm. Strategi monetisasi konten inilah yang dipelajari puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR). Mereka tidak hanya membedah algoritma media sosial, tetapi juga turun langsung melakukan intervensi fisik pelestarian alam di Hore Farm, Kecamatan Grabag, Jumat (1/5/2026).

Pelatihan bertajuk “Digital Creative: Pelatihan Videografi” ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika angkatan 2024 dan anggota UKM Sains dan Teknologi. Pada sesi pertama, para mahasiswa duduk bersama di pendopo untuk menyerap materi komprehensif mengenai videografi, pertanian, dan digital marketing. Di bawah bimbingan dosen pengampu Isnaeni Maryam, M.Pd., mereka ditargetkan menguasai teknik penciptaan nilai ekonomi berbasis produk atau edu-commerce dari sebuah narasi visual.

Namun, edukasi dari Hore Farm tidak berhenti pada urusan meretas algoritma di depan layar gawai. Setelah sesi strategi konten selesai, puluhan mahasiswa UMPWR langsung bergeser ke area terbuka. Mereka bahu-membahu menuangkan cairan eco-enzyme ke aliran sungai dan mengaplikasikannya ke tanaman budidaya. Aksi ini menjadi bentuk praktik nyata pertanian berkelanjutan untuk merawat kualitas air dan tanah yang menjadi fondasi utama agrikultur.

Dwi Setiyo membuktikan bahwa praktik tani yang selaras dengan alam dapat dikonversi menjadi keuntungan finansial jika dikemas dengan tepat. Melalui akun @horefarm24 yang ia sebut sebagai “Fakultas Pertanian Terbuka”, Dwi mencontohkan bagaimana ulasan tentang penggunaan pupuk hingga pengoperasian drone sprayer bisa memikat ribuan interaksi dari audiens petani muda.

Kegiatan yang ditutup dengan yel-yel “Petani Indonesia, Hore!” ini membuka peta jalan baru yang progresif. Mahasiswa Pendidikan Matematika dan UKM Saintek tidak hanya dituntut menguasai probabilitas angka di dalam kelas. Mereka kini didorong secara praktis untuk meramu keahlian komputasi logis, penguasaan videografi modern, dan kepedulian ekologi menjadi senjata untuk bertahan di garis depan ekonomi digital.

(Epin Hidayat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button