
Saat Amarah Menyala, Padamkan dengan Cinta
Pagi itu, seperti biasa setiap hari Selasa saya dan rekan-rekan guru menyambut siswa di depan gerbang sekolah. Senyum kami menjadi sambutan pertama bagi para siswa yang datang. Namun, di antara wajah yang ceria, saya melihat seorang teman guru yang tampak murung.
“Bu, kok wajahnya tegang begitu?” tanya saya pelan.
Beliau menjawab, “Lagi kesal Pak. Temen kita yang satu luar biasa.” Dia cerita panjang lebar tentang keburukan orang lain.
Saya hanya tersenyum dan berkata, “Marah boleh, Bu. Tapi kalau sudah sampai pinggang sakit, berhenti marahnya.”
Dalam hati saya menyadari bahwa perselisihan, perbedaan pendapat, atau rasa kesal karena gagasan tidak diterima adalah bagian yang tak terpisahkan dari dinamika sebuah organisasi. Pertentangan antar pimpinan, bahkan rasa tidak suka terhadap atasan, bukanlah hal baru dalam perjalanan kerja sama manusia. Namun, setiap persoalan seharusnya diselesaikan dengan musyawarah dan ketenangan hati, meskipun itu bukan perkara mudah. Sebab, bila dibiarkan, bara kecil bisa menjadi api yang membakar keutuhan sebuah instansi. Dan lebih menyedihkan lagi, bila ternyata semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman semata, maka yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa kehilangan atas persaudaraan yang semestinya dijaga.
Semoga kisah ini menjadi lentera kecil yang menembus gelapnya dalam hati, tempat amarah berakar, hingga perlahan berubah menjadi taman kedamaian.
Beberapa hari kemudian, beliau datang mengeluh, “Pak, pinggang saya sakit. Kalau duduk lama tidak kuat “. Saya sampaikan “Kecapekan kali Bu”. Dia menjawab lagi “Apa karena lagi marah itu ya Pak?”. Dia katakan itu dihadapan teman temannya.
Saya sampaikan kepadanya, “Sudahlah Bu, ikhlaskan saja, lepaskan, istighfar yang banyak”
Beberapa hari berlalu, saya kembali bertemu dengannya di hari yang sama di tempat yang sama. Wajahnya tampak cerah dan penuh senyum.
“Alhamdulillah, Pak,” katanya, “pinggang saya sudah sembuh. Rupanya setelah saya ikhlaskan dan maafkan, rasa sakitnya hilang”. Dalam hati saya berkata, “Ya jelas, wong orangnya sudah tidak ada”, jadi guru yang dia benci sudah mengundurkan diri dari sekolah.
Namun pekan berikutnya, ia datang lagi sambil memegangi pinggangnya.
“Sakit lagi, Pak,” katanya.
Saya heran lalu bertanya, “Bukannya orang yang dibenci sudah tidak ada di sekolah?”
“Iya, Pak,” jawabnya sambil tersenyum kecut, “tapi sekarang beda orang…”
Saya hanya bisa menggeleng kepala sambil tersenyum. Dalam hati saya berdoa, semoga Allah berikan yang terbaik.
Kadang kita lupa, bahwa menyimpan marah dan dendam tidak membuat masalah selesai justru membuat hati dan tubuh ikut tersakiti. Perselisihan memang wajar, apalagi di lingkungan kerja atau organisasi seperti Muhammadiyah. Namun, jangan sampai memutus tali silaturahmi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
“Tidak halal bagi muslim memutuskan persahabatan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seseorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan Allah ﷻ berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”
QS. Al-Hujurat[49]:10
Tidak ada kaitannya secara langsung antara kesal dengan sakit pinggang baik medis maupun nash Al Qur’an mau Hadits Rasulullah ﷺ. Kami menilai bahwa menyimpan kemarahan dengan sesama muslim itu dilarang. Hanya saja meskipun seorang mukmin itu tahu bahwa mendiamkan sesama muslim itu dilarang, tetapi banyak yang tidak mengindahkan larangan itu dan membiarkan dirinya dalam kemarahan. Oleh karena itu, sakit pinggang yang dialami seorang hamba adalah peringatan dari Allah agar kembali ke jalan yang benar.
Entah berapa kali saya sampaikan kepada orang lain “kalau sudah sakit pinggang, menyimpan marahnya berhenti”, dan sebagian teman yang tahu dari kalimat itu dan sadar dengan perilaku yang dia lakukan selama ini, biasanya akan tersenyum lepas.
Wallaahu A’lam
Achmad Fadil
SD Muhammadiyah Bayan



