
Pelatihan Takmir Masjid dan Mushalla PCM Purworejo Perkuat Peran Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Umat
Purworejo – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Purworejo menyelenggarakan Pelatihan Takmir Masjid dan Mushalla pada Ahad Legi, 20 Sya’ban 1447 H / 8 Februari 2026 M, bertempat di Masjid Al Mujtahidin, Komplek LKSA Panti Asuhan Muhammadiyah Purworejo. Kegiatan ini diikuti oleh para takmir dari berbagai masjid dan mushalla di wilayah Kecamatan Purworejo.
Ketua PCM Purworejo, M. Sofyan Badarudin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas takmir dalam mengelola masjid dan mushalla secara profesional, amanah, dan berkemajuan. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat, dakwah, serta pelayanan sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Pelatihan menghadirkan sejumlah pemateri yang kompeten di bidangnya. Materi pertama, Pelatihan Imam dan Khatib, disampaikan oleh Ustadz Iyus Herdiana Saputra, S.Pd.I., M.Sc. Dalam sesi ini, peserta mendapat penekanan pentingnya standarisasi azan dan iqamah. Para muazin diingatkan agar tidak hanya mengandalkan keindahan suara, tetapi juga mengutamakan ketepatan makhraj dan tajwid. Kesalahan-kesalahan kecil dalam pelafalan azan yang kerap terjadi di masyarakat menjadi sorotan untuk segera diperbaiki demi kesempurnaan panggilan shalat.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pembekalan teknis khutbah Jumat. Pemateri menegaskan bahwa seorang khatib harus memahami rukun khutbah dengan benar serta mampu memperbarui materi khutbah agar relevan dengan kondisi umat. Khutbah dianjurkan disampaikan secara padat, jelas, dan tidak terlalu panjang, sehingga pesan wasiat takwa dapat diterima jamaah secara lebih efektif.
Materi kedua, Manajemen Ketakmiran dan Pengelolaan Masjid (Best Practice Masjid Darussalam Kutoarjo), disampaikan oleh Moh. Mansur, S.Pd.I. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya transformasi masjid menjadi lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada pelayanan jamaah. Pengelolaan masjid perlu ditopang oleh pembagian tugas pengurus yang jelas serta sistem keuangan yang akuntabel. Setiap dana infak harus dikelola secara produktif dan dilaporkan secara terbuka agar kepercayaan jamaah terus terjaga.
Tidak hanya aspek administratif, materi ini juga menyoroti pentingnya inovasi program dakwah dan sosial. Masjid diharapkan mampu menghadirkan program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat, sehingga tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan umat.
Materi ketiga, Sejarah dan Fungsi Masjid pada Masa Rasulullah SAW, disampaikan oleh Ustadz Nif’an Nazudi, M.Ag. Dalam sesi ini, ia menegaskan bahwa pengelolaan masjid harus meneladani semangat zaman Rasulullah SAW, di mana masjid berfungsi sebagai pusat seluruh aktivitas umat. Pada masa Nabi, masjid menjadi pusat ibadah, pendidikan, pemerintahan, hingga pelayanan sosial.
Ustadz Nif’an juga mengingatkan agar takmir tidak terlalu pasif dalam mengelola dana infak. Dana umat tidak seharusnya hanya disimpan, tetapi perlu digunakan secara produktif untuk kemaslahatan jamaah dan pembangunan umat. Dengan mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban dan ekonomi, kepercayaan jamaah akan meningkat dan masjid akan menjadi lebih makmur serta membawa keberkahan bagi lingkungan sekitarnya.
Sebagai penutup, peserta mengikuti sesi Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dipandu oleh Ustadz Mahfudz, S.Ud., Gr dan Ustadz H. Ahmad Ari Fahruddin, B.A. Sesi ini bertujuan agar hasil pelatihan tidak berhenti pada tataran teori, tetapi benar-benar diterapkan secara nyata di masing-masing masjid dan mushalla.
Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias dan diskusi aktif. Para peserta berharap pelatihan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah Purworejo semakin tertata, hidup, serta mampu menjadi pusat pemberdayaan dan peradaban umat.
(Ariful Hazam)



