
Memaknai Kesabaran dalam Islam: Kisah Teladan Rasulullah di Kajian SMP Muhammadiyah Bagelen
Purworejo – Kesabaran dalam Islam bukan sekadar tentang menahan emosi, melainkan kekuatan jiwa yang mampu membawa kedamaian dan mengubah permusuhan menjadi persaudaraan. Di tengah semarak 10 malam terakhir Ramadhan, umat muslim di Purworejo diajak untuk menggali kembali kisah teladan Rasulullah SAW tentang keutamaan memaafkan dan cara menahan amarah melalui Kajian Pagi yang digelar di SMP Muhammadiyah Bagelen.
Momen spiritual yang dilaksanakan bertepatan dengan 19 Ramadhan ini menghadirkan Ustadz H. Sartu Ali Muhsin. Pesan yang diangkat sangat tegas dan menyentuh emosi jamaah: pembentukan akhlak mulia adalah kunci utama untuk meraih cinta Allah SWT.
Ustadz Sartu menekankan bahwa salah satu wujud tertinggi dari kesabaran dalam Islam terlihat jelas dari respons Nabi saat menghadapi provokasi dan perlakuan kasar. Beliau mengisahkan momen historis ketika seorang Yahudi menagih utang dengan cara yang sangat kasar kepada Rasulullah. Alih-alih membalas perlakuan tersebut, Nabi justru menunjukkan cara menahan amarah yang luar biasa elegan. Sikap tenang, lapang dada, dan pemaaf tersebut akhirnya menyentuh hati sang penagih utang hingga ia memutuskan memeluk Islam.
”Kisah teladan Rasulullah ini menjadi bukti nyata di hadapan kita bahwa keutamaan memaafkan memiliki daya dobrak yang jauh lebih bertenaga daripada luapan emosi sesaat,” ujar Ustadz Sartu di hadapan para jamaah yang memadati lingkungan sekolah.
Lebih jauh, kajian ini tidak berhenti pada retorika dan ritual ibadah semata. Majelis ilmu ini diiringi dengan aksi nyata berupa gerakan filantropi “Kado Ramadhan” yang diinisiasi oleh Lazismu PCM Bagelen. Gerakan kolektif jamaah yang menyisihkan hartanya untuk kaum dhuafa ini membuktikan bahwa ajaran agama yang dipahami dengan benar akan selalu mewujud dalam tindakan pemberdayaan.
Mengamalkan kesabaran dalam Islam dalam realitas kehidupan modern memang membutuhkan kelapangan dada yang luar biasa. Namun, dengan terus meresapi dan mempraktikkan kisah teladan Rasulullah, umat Islam dapat menemukan panduan sejati mengenai cara menahan amarah di tengah berbagai tekanan. Pada akhirnya, keutamaan memaafkan akan selalu menjadi jalan terlapang untuk meraih keberkahan hidup dan cinta Sang Pencipta.
(Epin Hidayat)



