
Menjemput Rahmat di Penghujung Ramadhan: Mengasah Hati Agar Tak Menjadi Hamba yang Lalai
Purworejo – Suasana syahdu menyelimuti Masjid Ad Darussalam, Tlogokotes, saat jamaah berkumpul menunaikan salat tarawih di malam ke-24 Ramadhan 1447H /12 Maret 2026 Di sela ibadah tersebut, sebuah pesan spiritual mendalam disampaikan untuk menggugah kesadaran umat tentang pentingnya menjaga “mata hati” dari jeratan kelalaian oleh ustadz Abdurochim Arifudin.
Dalam kultum yang disampaikan, jamaah diingatkan bahwa Allah SWT telah membekali manusia dengan perangkat rahmat yang luar biasa: hati, mata, dan telinga. Namun, merujuk pada Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 179, banyak manusia dan jin yang justru terancam menjadi penghuni neraka Jahanam karena membiarkan potensi tersebut tumpul.
”Mereka memiliki hati, namun tidak digunakan untuk memahami kebenaran. Memiliki mata, namun enggan melihat tanda kekuasaan Allah. Memiliki telinga, namun menutup diri dari nasihat-Nya. Kondisi ini digambarkan Allah layaknya binatang ternak, bahkan lebih sesat karena mereka adalah orang-orang yang lalai (ghafilun),” ungkap pemateri di hadapan jamaah yang menyimak dengan takzim.
Pesan ini menjadi pengingat keras (self-reminder) di penghujung Ramadhan, agar umat Islam tidak terjebak dalam rutinitas ibadah tanpa melibatkan perasaan dan logika iman. Kelalaian adalah musuh utama yang bisa membuat manusia kehilangan kemuliaannya.
Harapan di Balik 99 Rahmat
Meski peringatan tersebut terasa menggetarkan, harapan besar selalu terbuka luas. Pemateri mengutip sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang sangat menyentuh tentang betapa luasnya kasih sayang Sang Pencipta.
”Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Satu di antaranya diturunkan ke dunia untuk diperebutkan oleh jin, manusia, hingga binatang liar yang mengasihi anaknya. Namun, ketahuilah bahwa Allah menyimpan 99 rahmat lainnya untuk dicurahkan kepada hamba-hamba-Nya kelak di hari kiamat,” jelasnya.
Hadits ini menjadi oase bagi jamaah, bahwa sekecil apapun usaha manusia untuk kembali kepada-Nya, rahmat Allah jauh lebih besar menanti. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 218, rahmat yang besar itu diperuntukkan bagi mereka yang terus berupaya menjaga iman, berhijrah dari keburukan, dan bersungguh-sungguh (jihad) di jalan Allah.
Kegiatan tarawih ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan menjadi momentum bagi warga Tlogokotes untuk “bangun” dari tidur panjang kelalaian. Melalui refleksi ini, diharapkan jamaah pulang dengan hati yang lebih peka dan semangat yang baru untuk menjemput sisa Ramadhan dengan penuh harap akan kasih sayang-Nya yang tak bertepi.
(Epin Hidayat)



