Agama

H. Dandung Danadi Ungkap Rahasia Dzulqo’dah dan Hakikat Kurban di Tlogokotes Purworejo

PURWOREJO – Banyak orang memandang haji dan Iduladha sebagai agenda tahunan yang berulang. Datang, dilaksanakan, lalu berlalu. Namun di balik itu, tersimpan jejak panjang peradaban tauhid—dari Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, hingga umat Islam hari ini.

Dalam kajian Pimpinan Ranting Muhammadiyah Tlogokotes di Masjid Darussalam Tlogokotes, Bagelen, Senin malam (4 Mei 2026) pukul 20.00 WIB , H. Dandung Danadi mengajak jamaah keluar dari cara pandang “rutinitas” menuju pemahaman yang lebih dalam: bahwa setiap fase ibadah haji dan kurban adalah pendidikan ruhani yang terstruktur oleh wahyu.

Ia memulai dari sesuatu yang sering terlewat: bulan Dzulqo’dah.
Bulan ini bukan sekadar jeda sebelum Dzulhijjah, tetapi termasuk dalam empat bulan haram yang dimuliakan Allah, sebagaimana disebut dalam Surah At-Taubah ayat 36.

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

inna ‘iddatasy-syuhûri ‘indallâhitsnâ ‘asyara syahran fî kitâbillâhi yauma khalaqas-samâwâti wal-ardla min-hâ arba‘atun ḫurum, dzâlikad-dînul-qayyimu fa lâ tadhlimû fîhinna anfusakum wa qâtilul-musyrikîna kâffatang kamâ yuqâtilûnakum kâffah, wa‘lamû annallâha ma‘al-muttaqîn

Terjemahan : “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa)”.

Di sinilah letak fondasinya.

“Dzulqo’dah mengajarkan kita prinsip hifdzun nafs—menjaga jiwa. Ibadah tidak boleh mengorbankan keselamatan,” jelasnya.

Ia menyinggung penundaan haji saat pandemi sebagai contoh nyata.
Bukan bentuk kelemahan iman, tetapi justru implementasi maqashid syariah.

“Bukan takut mati, tapi menjaga kehidupan. Itu bagian dari agama,” tegasnya.

Kurban: Bukan Dimulai dari Nabi Ibrahim

Pemahaman yang juga diluruskan adalah tentang asal-usul kurban.

Selama ini, banyak yang mengira kurban bermula dari Nabi Ibrahim AS. Padahal, Al-Qur’an sudah lebih dulu merekam praktik tersebut sejak zaman Nabi Adam AS melalui kisah Qabil dan Habil (QS Al-Ma’idah: 27).

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

watlu ‘alaihim naba’abnai âdama bil-ḫaqq, idz qarrabâ qurbânan fa tuqubbila min aḫadihimâ wa lam yutaqabbal minal-âkhar, qâla la’aqtulannak, qâla innamâ yataqabbalullâhu minal-muttaqîn

Terjemahan : Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.

Artinya, kurban bukan sekadar ritual, tetapi bagian dari sejarah panjang konflik manusia: antara keikhlasan dan kedengkian.

Baru pada masa Nabi Ibrahim AS, kurban mencapai puncak penyempurnaannya.

Di sinilah terjadi revolusi besar:
dari pengorbanan manusia menuju pengorbanan hewan—sebuah koreksi total terhadap tradisi menyimpang umat-umat sebelumnya.

Peristiwa ini diabadikan dalam Surah As-Saffat ayat 100–110, yang kemudian menjadi dasar rangkaian ibadah haji:

8 Dzulhijjah (Tarwiyah): fase perenungan—ketika Ibrahim belum sepenuhnya yakin atas mimpinya
9 Dzulhijjah (Arafah): fase kesadaran—ketika kebenaran itu menjadi jelas
10 Dzulhijjah (Iduladha): fase pengorbanan—ketika perintah dilaksanakan tanpa tawar

“Ini bukan sekadar tanggal. Ini kurikulum iman,” ungkap H. Dandung.

Sa’i: Pelajaran Hidup dari Seorang Ibu

Ketika membahas keluarga Ibrahim, perhatian jamaah tertuju pada sosok Siti Hajar.

Dalam kondisi ditinggalkan di lembah tandus, ia tidak pasif. Ia bergerak, berlari, mencari air—antara Shafa dan Marwah.

Namun yang menarik, menurut H. Dandung, bukan hanya gerakannya, tetapi kesadaran batinnya.

“Di puncak bukit, Hajar bertakbir dan memuji Allah. Tapi saat di lembah, ia beristighfar.”

Di situlah pelajaran hidupnya:

Saat di atas, jangan sombong, tapi memuji Allah
Saat di bawah, jangan putus asa, tapi kembali kepada Allah

Sa’i bukan sekadar lari kecil. Ia adalah simbol perjalanan manusia antara harapan dan ketidakberdayaan.

Allah Tidak Butuh Daging Kurban

Menjelang Iduladha, H. Dandung mengingatkan satu ayat yang sering dibaca, tapi jarang direnungkan (QS Al-Hajj: 37).

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Terjemahan : “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin”.

Bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darah hewan, melainkan ketakwaan.

“Allah itu Ghaniyyun—Maha Kaya. Kita yang butuh. Kurban itu mendidik jiwa kita, bukan untuk memberi makan Allah,” jelasnya.

Maka pertanyaannya bukan:
berapa besar hewan yang dikurbankan,
tetapi: seberapa dalam keikhlasan yang dihadirkan.

Hisab dan Dakwah: Antara Ilmu dan Ruh

Di bagian akhir, H. Dandung menyentuh isu yang sering menjadi perdebatan: metode hisab.

Ia merujuk pada hadis “faqdurulah” sebagai dasar penggunaan perhitungan dalam menentukan waktu ibadah—sebuah isyarat bahwa Islam tidak menolak ilmu, justru mendorongnya.

Namun kajian itu tidak ditutup dengan fiqh, melainkan dengan sesuatu yang lebih mendasar: ruh dakwah.

Ia membagikan tiga kaidah dari tradisi Pondok Modern Gontor:

Isi dakwah itu penting, tapi cara penyampaian lebih penting
Cara penyampaian dakwah itu penting, tapi sosok pendakwah lebih menentukan
Pendakwah itu penting, tapi ruh dan keteladanannya adalah segalanya

Di titik ini, kajian terasa tidak lagi sekadar transfer ilmu, tetapi juga evaluasi diri.

Kajian di Tlogokotes itu seakan menegaskan satu hal:
agama bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihidupkan.

Dari Dzulqo’dah, manusia belajar menjaga hidup.
Dari Ibrahim, belajar berkorban.
Dari Hajar, belajar bertahan.

Dan dari kurban, manusia belajar bahwa yang paling mahal bukan hewan yang disembelih—
melainkan ego yang ditundukkan.

Pengajian PRM Tlogokotes ini juga dihadiri oleh Sekretaris PCM Bagelen, H Zumarudin,S.Pd.I yang memberi sambutan awal mengenai pentingnya “ngaji” bagi warga Muhammadiyah, karena mencari ilmu itu hukunya wajib. Kajian ditutup dengan Doa kafarotul Majelis.

(Epin Hidayat)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button