Agama

Pengajian PRM Kalirejo: Ustadz H. Dandung Danadi Bahas Makna Isra’ Mi‘raj

Purworejo — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kalirejo Bagelen menggelar Pengajian Peringatan Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad SAW pada Ahad, 19 Januari 2026 M bertepatan dengan 30 Rajab 1447 H, bertempat di Masjid Nurul Huda Kalirejo. Kegiatan berlangsung pukul 20.30–22.00 WIB dan diikuti jamaah dengan penuh kekhusyukan.

Pengajian tersebut dihadiri oleh unsur Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen, di antaranya Rohadi,SE selaku Ketua PCM Bagelen, H Zumaruddin S.Pd.I selaku Sekretaris PCM Bagelen, H Dandung Danadi selaku Penasehat PCM Bagelen sekaligus pemateri utama kajian, serta Saudara Epin Hidayat selaku anggota PCM Bagelen.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan Kalam Ilahi dan tahlil bersama. Acara kemudian diisi sambutan Ketua Panitia yang juga Ketua PRM Kalirejo, Bapak Sudirman. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Dusun Keposong Kalirejo yang mengapresiasi terselenggaranya kegiatan keagamaan sebagai sarana penguatan iman dan ukhuwah masyarakat. Kegiatan dilanjutkan dengan pengajian dan ditutup doa oleh H. Dandung Danadi.

Inti Kajian: Isra’ Mi‘raj sebagai Ujian Keimanan
Dalam kajiannya, H. Dandung Danadi menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad SAW merupakan tanda kebesaran Allah SWT sekaligus ujian keimanan bagi manusia. Allah memperjalankan hamba-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu ke langit dalam satu malam. Peristiwa ini tidak dimaksudkan untuk diuji dengan logika semata, melainkan untuk menguji apakah manusia mendahulukan iman atau justru membatasi wahyu dengan ukuran akal.

Beliau menekankan bahwa Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk membaca wahyu dan menegakkan shalat. Membaca Al-Qur’an tidak cukup sebatas aktivitas lisan, tetapi harus dilanjutkan dengan proses memahami, meyakini, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Shalat yang ditegakkan dengan benar akan mencegah perbuatan keji dan mungkar serta menjadi sarana dzikir yang paling agung di sisi Allah SWT.

H. Dandung Danadi juga menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi‘raj pada masa Rasulullah SAW mendapat penolakan dan ejekan dari kaum Quraisy karena dianggap mustahil secara rasional. Namun, peristiwa tersebut justru menampakkan perbedaan mendasar antara orang yang beriman dan orang yang mengedepankan keraguan. Di tengah keraguan banyak orang, Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkan Rasulullah SAW tanpa ragu, sehingga beliau mendapat gelar Ash-Shiddiq karena membenarkan kebenaran sebelum menuntut pembuktian logika.

Menurutnya, kajian Isra’ Mi‘raj menegaskan bahwa iman sejati tidak menunggu akal sepenuhnya memahami, melainkan tunduk kepada kebenaran wahyu. Akal memiliki peran penting, namun bukan sebagai hakim atas wahyu. Perkembangan ilmu pengetahuan modern tentang jarak, ruang angkasa, dan hukum-hukum alam justru semakin menunjukkan keterbatasan manusia serta kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta.

Lebih lanjut disampaikan bahwa Isra’ Mi‘raj mengajarkan makna shalat sebagai hadiah langsung dari Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi sarana pembentukan iman, akhlak, dan kedisiplinan hidup. Orang yang kuat imannya akan berani melangkah, berinisiatif, dan berbuat maslahat, sedangkan lemahnya iman akan melahirkan keraguan serta ketidakmampuan bertindak.

Pengajian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh H. Dandung Danadi. Melalui kegiatan ini, jamaah diajak untuk memperkuat iman, meneguhkan keyakinan kepada Al-Qur’an, serta meneladani keteguhan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam membenarkan kebenaran dengan penuh kepercayaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

(Epin Hidayat)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button