Agama

Perdana 1 Ramadhan 1447 H, Kajian Pagi Ramadhan Masjid Darussalam Kutoarjo Ajak Jamaah Tebar Inspirasi dan Kuatkan Iman

Purworejo — Kajian Pagi Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Kutoarjo resmi dimulai pada Rabu (18/2/2026), bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 H. Kegiatan yang dilaksanakan seusai shalat Subuh ini menjadi pembuka rangkaian forum ilmu selama bulan suci dengan mengusung tema “Ramadhan Menebar Inspirasi, Menguatkan Iman.”

Kajian ini diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kutoarjo sebagai pelaksana teknis, dengan melibatkan pimpinan persyarikatan, jamaah, simpatisan, serta masyarakat umum. Sejak pagi, masjid dipadati jamaah yang antusias mengikuti pengajian perdana tersebut.

Ustaz H. Dandung Danadi hadir sebagai pengisi kajian pertama. Ia mengawali tausiyah dengan doa bersama, memohon kepada Allah Swt. agar seluruh jamaah diberikan kemampuan untuk senantiasa bersyukur, beramal saleh, menjaga kedamaian keluarga, serta istiqamah dalam taubat dan kepasrahan diri.

Dalam pengantarnya, Ustaz Dandung mengajukan pertanyaan reflektif kepada jamaah, “Apakah kita senang bertemu dengan Ramadhan?” Ia kemudian menjelaskan bahwa rasa senang atau tidak senang merupakan pekerjaan hati.

“Senang tidak senang itu pekerjaan hati. Bisa jadi apa yang kita senangi belum tentu baik untuk kita, dan bisa jadi apa yang tidak kita senangi justru baik untuk kita,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan karunia sekaligus nikmat besar dari Allah Swt. Di antara nikmat tersebut adalah diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Selain itu, iman dan Islam juga merupakan anugerah yang tidak semua orang mendapatkannya.

“Iman itu karunia. Tidak semua orang diberi iman, bahkan yang memiliki hubungan darah sekalipun belum tentu diberi iman,” tuturnya, seraya mengutip makna QS Yunus ayat 58 dan QS Al-An’am ayat 125 tentang hidayah dan kelapangan hati dalam menerima Islam.

Menurutnya, Islam merupakan wujud pelaksanaan dari keimanan. Karena itu, Ramadhan menjadi momentum memperkuat keduanya melalui ibadah puasa, salat, zakat, dan amal kebajikan lainnya.

Ustaz Dandung juga menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga waktu istirahat bagi fisik serta sarana penyucian jiwa. Ia menekankan bahwa salah satu hikmah puasa adalah tumbuhnya rasa syukur karena diberi hidayah iman sehingga dapat berjumpa kembali dengan Ramadhan.

Setelah membahas makna rasa senang menyambut Ramadhan, ia mengajak jamaah untuk saling menghormati di tengah adanya perbedaan penetapan awal bulan Ramadhan tahun ini. Menurutnya, perbedaan adalah keniscayaan yang harus disikapi dengan kedewasaan dan doa kebaikan.

Secara tidak langsung, ia juga mengingatkan pentingnya muhasabah diri. Jamaah diajak mengevaluasi capaian amal saleh pada Ramadhan sebelumnya sebagai bahan perbaikan di tahun ini.

“Seberapa capaian amal kita tahun lalu? Sudahkah meningkat atau justru menurun? Ramadhan adalah momentum untuk memperbaiki diri,” katanya.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Dandung memaparkan ciri-ciri pewaris Surga Firdaus sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Di antaranya memiliki iman yang kokoh, melaksanakan salat dengan khusyuk, menjauhi perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kehormatan diri, menepati amanah dan janji, serta senantiasa beristighfar memohon ampun.

Ia menegaskan bahwa syukur atas nikmat Allah Swt. harus diwujudkan dalam amal saleh yang nyata. Puasa, lanjutnya, merupakan jalan menuju ketakwaan sebagaimana tujuan utama yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
“Puasa itu cara menuju takwa. Kita bekerja untuk kebahagiaan dunia, tetapi kita juga harus bekerja keras menyiapkan bekal akhirat,” tegasnya.

Ketua panitia pelaksana dari Pemuda Muhammadiyah Kutoarjo menyampaikan bahwa Kajian Pagi Ramadhan ini akan berlangsung selama 1–27 Ramadhan dengan menghadirkan berbagai narasumber dari unsur ulama dan pimpinan persyarikatan. Tujuannya adalah menjadikan masjid sebagai pusat ilmu dan pembinaan umat.

Ia berharap kajian ini mampu menjadi forum pembelajaran yang mencerahkan serta mempererat ukhuwah Islamiah di tengah masyarakat Kutoarjo.

Antusiasme jamaah terlihat dari kesungguhan mereka menyimak materi hingga akhir. Seusai kajian, sebagian jamaah melanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an dan diskusi ringan seputar materi yang disampaikan.

Dengan dimulainya Kajian Pagi Ramadhan 1447 H ini, Masjid Darussalam Kutoarjo kembali menegaskan perannya sebagai pusat ibadah dan penguatan wawasan keislaman. Ramadhan tidak hanya diisi dengan ritual, tetapi juga refleksi, ilmu, dan komitmen memperbaiki diri demi meraih ketakwaan yang hakiki.

(A.M. Musdani)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button