Agama

Tarawih Malam ke-8 Ramadan 1447 H di Masjid Al-Ikhlas PCM Bagelen: Pentingnya Istighfar sebagai Cahaya Kehidupan

Purworejo — Kegiatan salat Isya dan tarawih Selasa malam Rabu, 8 Ramadan 1447 H yang bertepatan dengan 24 Februari 2026 berlangsung khusyuk di Masjid Al-Ikhlas PCM Bagelen (Masjid KPK Kulon Pasar Krendetan). Bertindak sebagai imam salat sekaligus penyampai kultum adalah Ustadz H Dandung Danadi.

Dalam tausiyahnya setelah salat Isya, beliau menekankan pentingnya memperbanyak istighfar di bulan Ramadan sebagai bentuk kesadaran diri seorang hamba kepada Allah. Pesan tersebut merujuk pada hadis sahabat Salman Al-Farisi tentang empat amalan utama yang dianjurkan Rasulullah di bulan Ramadan, yakni memperbaharui syahadat, memperbanyak istighfar, memohon surga, dan berlindung dari neraka.

Beliau juga mengutip penjelasan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar bahwa istighfar merupakan “cahaya kehidupan” yang membawa kemudahan hidup bagi orang yang mendapat ampunan Allah, dengan syarat dilakukan secara sadar, diiringi penyesalan, dan komitmen memperbaiki diri. Jamaah diingatkan agar tidak hanya menyalahkan keadaan atau orang lain ketika mengalami kegagalan, tetapi melakukan muhasabah diri melalui istighfar yang benar.

Kultum yang disampaikan juga mengingatkan bahwa Ramadan bisa menjadi kerugian bagi seseorang apabila tidak diisi dengan amal saleh dan istighfar. Oleh karena itu, momentum Ramadan harus dimanfaatkan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

Berikut teks kultum yang disampaikan secara lengkap:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil alamin. Lailahailla anta subhanaka inni kuntu minadzolimin. Robbana innaka ta’lamu ma nukhfi wa ma nu’lin wa ma yakhfa ‘alallahi min syai’in fil ardhi wa la fis sama’. Robbana innana amanna faghfirlana dzunubana waqina ‘adzabannar. Amma ba’du.
Jamaah salat Isya dan tarawih masjid Al-Ikhlas rahimakumullah.
Ada sebuah hadis dari sahabat Salman Al-Farisi. Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, terkait dengan bulan Ramadan itu, tastaktsiru perbanyaklah di dalamnya engkau membaca empat hal. Yang dua, engkau akan mendapatkan rida dari Tuhanmu. Yang dua, itu sangat kau butuhkan.
Itulah yang kemudian para ulama dahulu menyusun sebuah doa sebagaimana yang sering kita baca: Asyhadu alla ilaha illallah, astaghfirullah. Kita selalu memperbaharui syahadat. Tidak ada zat yang pantas diibadahi kecuali Allah. Yang kedua, astaghfirullah. Kita selalu beristighfar mohon ampun kepada Allah, karena kelemahan manusia kadang-kadang tidak menyadari dia melakukan dosa dan kesalahan.
Kemudian dua yang berikutnya sangat kau butuhkan: As’alukal jannah wa a’udzubika minan nar. Aku mohon kepada-Mu ya Allah dikaruniai surga, aku mohon surga. As’alukal jannah wa a’udzubika minan nar, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.
Jamaah rahimakumullah, demikianlah terkait dengan istighfar ini memang ada hal yang sangat istimewa. Sampaipun para nabi, para rasul, dalam perjalanan-perjalanan dakwah mereka, mereka merasakan ada hal-hal yang mereka pun mohon ampun kepada Allah.
Kita kemudian hafal istighfarnya Nabi Adam alaihissalam: Robbana dholamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin. Kita hafal istighfarnya Nabi Yunus atau Dzun Nun: Lailahailla anta subhanaka inni kuntu minadzolimin. Atau istighfarnya Nabi Ibrahim alaihissalam: Robbanaghfirli waliwalidayya walil mukminina yauma yaqumul hisab. Sementara junjungan kita Nabiullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita dari Astaghfirullah, dari Astaghfirullahal adzim alladzi lailahailla huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih sampai kepada Sayyidul Istighfar.
Saya baca di tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menyebutkan bahwa istighfar itu ibarat cahaya kehidupan. Seseorang yang telah dikaruniai ampunan dari Allah maka akan dimudahkan dalam hidupnya. Tetapi hendaklah diingat, kata beliau, istighfar itu bukan mantra. Yang dibaca sekian kali kemudian keadaan akan berubah. Bahwa istighfar diucapkan secara lisan, betul. Tetapi harus tashdiq bil qalbi, betul-betul disadari. Ada hal-hal yang kita harus memohon ampun kepada Allah, berjanji untuk tidak mengulang kembali. Dan setelah itu kita evaluasi, kita perbaiki kesalahan itu.
Jadi kalau kita melakukan sesuatu gagal, selain istighfar mohon ampun kepada Allah, maka harus ada evaluasi mawas diri apa yang membuat kita gagal itu. Barangkali ada yang salah dalam langkah-langkah kita. Sehingga dengan demikian, istighfar ini merupakan pengakuan atas kekurangan diri, kesalahan diri.
Sebagaimana kita pahami di era sekarang ini, banyak orang melihat keadaan yang tidak menyenangkan kemudian mencari kambing hitam, tapi tidak mau mawas diri. Banyak orang mencari kesalahan orang lain, dikritik sana dikritik sini, tapi dia sendiri tidak mau dikritisi. Nah, istighfar itu pengakuan diri sedemikian mendasar kita kepada Allah, mengakui bahwa kita ini memang lemah, mudah melakukan kesalahan dan kekhilafan.
Saya kira ini saja, bahwa di bulan Ramadan ini sudah semestinya selain mengikhlaskan niat ibadah karena Allah, memperbanyak amal saleh, maka yang penting tidak lain adalah kita senantiasa banyak membaca istighfar, sekaligus menyadari betapa banyak dosa dan kesalahan kita. Kita mohon ampun kepada Allah dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
Semoga dengan demikian kita tidak termasuk orang-orang yang rugi. Sekalipun dipertemukan dengan bulan suci, ada orang-orang yang rugi karena tidak mengisinya dengan amal saleh, tidak beristighfar, dan kemudian juga tetap menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya.
Hadanallah wa iyyakum ajma’in, wabasyiril mukminin, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Mari kita laksanakan salat tarawih empat rakaat salam, empat rakaat salam, dan tiga rakaat witir.”

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah dengan susunan empat rakaat salam, empat rakaat salam, dan tiga rakaat witir, diikuti jamaah dengan penuh kekhusyukan.

(Epin Hidayat)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button