Agama

“Kantorku Surgaku”: Kajian Pagi Ramadhan Masjid Darussalam Kutoarjo Tekankan Kerja sebagai Ibadah

Purworejo — Kajian Pagi Ramadhan ke-6 Masjid Darussalam Kutoarjo 1447 Hijriah kembali digelar pada Senin, 23 Februari 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kutoarjo sebagai pelaksana teknis ini menghadirkan Ust. H. Nasrudin, M.S.I., Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purworejo, sebagai pemateri utama.

Kajian yang berlangsung di Masjid Darussalam Kutoarjo tersebut diikuti oleh pimpinan persyarikatan, jamaah, simpatisan, serta masyarakat umum. Sejak pagi hari, jamaah tampak memadati ruang utama masjid untuk mengikuti majelis ilmu yang menjadi bagian dari rangkaian kajian Ramadhan bertema besar “Menebar Inspirasi Menguatkan Iman.”

Kegiatan ini bertujuan menjadi forum pembelajaran dan pencerahan umat melalui pengkajian Al-Qur’an, hadis, serta wawasan keislaman kontekstual yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian Ramadhan sebagai Ruang Pencerahan
Panitia pelaksana menyampaikan bahwa kajian pagi Ramadhan merupakan agenda rutin yang bertujuan memperkuat spiritualitas sekaligus mempererat ukhuwah Islamiah di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menghadirkan materi keagamaan normatif, tetapi juga pembahasan praktis yang relevan dengan dinamika kehidupan modern.

Secara tidak langsung, panitia berharap jamaah mampu membawa nilai-nilai kajian ke dalam kehidupan sosial, keluarga, dan dunia kerja sehingga Ramadhan tidak berhenti pada ritual semata.

Tema “Kantorku Surgaku”
Dalam kajiannya, Ust. H. Nasrudin mengangkat tema “Kantorku Surgaku,” yang menekankan pentingnya memandang kerja sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Ia menjelaskan bahwa meraih surga dapat ditempuh melalui dua jalan utama, yakni menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Salah satu bentuk nyata menjalankan perintah tersebut adalah bekerja secara profesional dan penuh integritas.

“Kita tidak boleh membedakan kerja dengan ibadah. Jangan menunggu pensiun untuk beribadah, karena surga bisa diperoleh dari kantor, sawah, maupun pasar,” ujar Ust. Nasrudin dalam ceramahnya.

Menurutnya, banyak orang masih memandang kantor sebagai tempat mencari dunia, sementara masjid sebagai tempat mencari akhirat. Dikotomi tersebut, kata dia, berpotensi melahirkan perilaku tidak etis dalam dunia kerja.

Ia mencontohkan praktik manipulasi, korupsi, kolusi, nepotisme, hingga persaingan tidak sehat yang sering terjadi karena orientasi duniawi semata.

Nilai Sholat Harus Dibawa ke Dunia Kerja
Ust. Nasrudin menegaskan bahwa nilai-nilai ibadah, khususnya sholat, tidak boleh berhenti pada rutinitas ritual di masjid, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk di lingkungan kerja.

“Masjid menjadi tempat sholat, tetapi nilai-nilai sholat harus dibawa ke mana-mana, termasuk di kantor,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa salah satu persoalan mendasar yang perlu diluruskan adalah pemahaman tentang sumber rezeki. Banyak orang merasa rezeki bergantung pada atasan, institusi, atau negara, padahal semuanya hanyalah perantara.

“Rezeki kita bukan di tangan bos, bukan di tangan pimpinan, bukan di tangan negara, melainkan dari Allah SWT,” kata dia.

Pernyataan tersebut disambut antusias jamaah yang tampak mengangguk dan mencatat poin-poin penting selama kajian berlangsung.

Kerja sebagai Manifestasi Ibadah
Lebih lanjut, Ust. Nasrudin menjelaskan konsep ibadah dalam Islam yang terbagi menjadi dua, yaitu ibadah mahdah dan ibadah ghairu mahdah.

Ibadah mahdah mencakup amalan ritual seperti thaharah, sholat, puasa, zakat, dan haji. Sementara itu, ibadah ghairu mahdah meliputi seluruh aktivitas kehidupan yang diniatkan karena Allah, termasuk bekerja.

Ia menekankan bahwa profesi apa pun dapat menjadi jalan ibadah selama tidak bertentangan dengan syariat.

“Kerja di bidang apa pun merupakan manifestasi ibadah kepada Allah dalam arti seluas-luasnya,” ujarnya.

Dalam perspektif Muhammadiyah, ia juga menyinggung pesan KH Ahmad Dahlan tentang pentingnya dakwah dalam amal usaha. Ia mengingatkan agar warga Muhammadiyah tidak sekadar mencari nafkah di lingkungan persyarikatan, tetapi juga aktif dalam kegiatan dakwah.

Secara tidak langsung, ia mengajak jamaah menanamkan niat kerja sebagai ibadah sehingga lahir semangat spiritual dalam menjalankan profesi.

Kerja sebagai Rahmat Allah
Ust. Nasrudin menegaskan bahwa kesempatan bekerja merupakan rahmat dari Allah SWT. Rahmat tersebut tidak hanya berupa gaji, tetapi juga kesehatan, pengalaman, relasi, dan peluang pengembangan diri.

Ia menyampaikan bahwa ukuran kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh besarnya penghasilan.

“Mungkin tempat kerja kita tidak menjadikan kita kaya, tetapi menjadikan kita menikmati hidup,” ungkapnya.

Pesan tersebut memberikan perspektif baru bagi jamaah bahwa keberkahan hidup lebih penting daripada sekadar akumulasi materi.

Komitmen Dakwah Berkelanjutan
Panitia penyelenggara menyampaikan komitmen untuk terus menghadirkan kajian Ramadhan yang berkualitas dengan menghadirkan pemateri kompeten dan tema-tema aktual.

Kajian pagi Ramadhan Masjid Darussalam Kutoarjo diharapkan menjadi pusat pencerahan umat serta ruang penguatan iman dan karakter.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antarjamaah sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat.

Dengan terselenggaranya Kajian Pagi Ramadhan ke-6 ini, panitia berharap jamaah mampu mengimplementasikan nilai-nilai kajian dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dunia kerja.

Pesan utama yang ditekankan adalah bahwa setiap aktivitas, termasuk bekerja, dapat menjadi jalan menuju surga apabila dilandasi niat ibadah, integritas, dan kesadaran bahwa seluruh rezeki berasal dari Allah SWT.

(A.M. Musdani)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button