Agama

Kajian Pagi Ramadhan ke-5 Tekankan Akhlak sebagai Buah Rukun Islam di Masjid Darussalam Kutoarjo

Purworejo — Kajian Pagi Ramadhan ke-5 tahun 1447 Hijriah kembali digelar di Masjid Darussalam Kutoarjo pada Ahad, 22 Februari 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kutoarjo sebagai pelaksana teknis dalam rangka menghadirkan ruang pembelajaran serta pencerahan umat melalui kajian Al-Qur’an, hadis, dan wawasan keislaman kontekstual selama bulan suci Ramadhan.

Kajian menghadirkan mubaligh Ust. H. Saefudin yang membahas pentingnya integrasi rukun iman, rukun Islam, serta ihsan sebagai fondasi pembentukan akhlak seorang muslim. Materi yang disampaikan menjadi refleksi bagi jamaah agar ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi mampu melahirkan perubahan perilaku yang nyata.

Ibadah Tanpa Akhlak Diibaratkan Tanaman Tak Berbuah
Dalam pemaparannya, Ust. H. Saefudin menegaskan bahwa ibadah yang tidak melahirkan akhlak mulia tidak memiliki makna yang utuh. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti tanaman yang ditanam tetapi tidak menghasilkan buah.

“Rukun iman dan rukun Islam jika telah dikerjakan namun tidak membuahkan akhlak diibaratkan seperti orang menanam tetapi tidak berbuah,” ujarnya dalam kajian.

Secara tidak langsung, ia mengajak jamaah melakukan evaluasi diri terhadap kualitas ibadah yang dijalankan, terutama selama Ramadhan yang menjadi momentum peningkatan spiritualitas.

Hadis Jibril sebagai Kerangka Utama Pemahaman Agama
Ust. H. Saefudin kemudian menguraikan hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab sebagai fondasi pemahaman Islam. Dalam hadis tersebut, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW dalam bentuk seorang laki-laki berpakaian sangat putih dan rambut hitam, kemudian bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan.

Rasulullah menjelaskan bahwa Islam mencakup syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Sementara iman meliputi keyakinan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, serta takdir. Adapun ihsan merupakan puncak spiritualitas, yaitu beribadah seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak mampu, maka menyadari bahwa Allah senantiasa melihat.

Secara tidak langsung, Ust. H. Saefudin menegaskan bahwa hadis Jibril mengajarkan agama secara komprehensif, sehingga umat dapat memahami hubungan antara aspek keyakinan, praktik ibadah, dan kualitas spiritual.

Syahadat sebagai Titik Awal Transformasi
Dalam pembahasan rukun Islam, Ust. H. Saefudin menyoroti makna syahadat sebagai pintu masuk Islam sekaligus titik awal perubahan gaya hidup seorang muslim. Ia mengisahkan peristiwa sahabat Usamah yang tetap membunuh musuh meskipun telah mengucapkan syahadat, kemudian ditegur Rasulullah karena tidak mengetahui isi hati orang tersebut.

Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa syahadat memiliki kedudukan yang sangat agung dan tidak boleh dipandang sekadar ucapan lisan.

“Syahadat merupakan hakikat dakwah para rasul dan memiliki keutamaan besar sebagai pintu menuju surga,” tuturnya.

Sholat sebagai Puncak Dzikir dan Pengendali Perilaku
Ust. H. Saefudin menjelaskan bahwa sholat merupakan perintah utama dalam Islam yang memiliki dimensi spiritual mendalam. Ia menyebutkan bahwa sholat merupakan puncak dzikir yang menghadirkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.

Secara tidak langsung, ia menekankan bahwa sholat yang berkualitas akan melahirkan perilaku yang mampu mencegah kemungkaran serta menjaga ketenangan hati.

“Buah sholat adalah mencegah dari kemungkaran dan menghadirkan dzikir kepada Allah,” jelasnya.

Dimensi Sosial Zakat dan Pengendalian Diri dalam Puasa
Dalam kajian tersebut, Ust. H. Saefudin juga menyoroti dimensi sosial zakat yang harus melahirkan kepedulian dan budi pekerti. Ia mengingatkan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi sarana pembentukan karakter dermawan.

Sementara puasa, menurutnya, memiliki tantangan utama pada pengendalian diri. Ia menegaskan bahwa kebohongan, ucapan kasar, serta perilaku merendahkan orang lain dapat menghapus pahala puasa.

“Yang sulit dari puasa bukan sahur dan berbuka, tetapi menahan diri dari ucapan dan perilaku buruk,” katanya.

Haji Mabrur Tercermin dari Akhlak
Ust. H. Saefudin menjelaskan bahwa ciri haji mabrur tercermin dari perubahan akhlak, seperti tutur kata yang lembut dan sikap dermawan. Ia menilai ibadah haji yang tidak melahirkan akhlak baik akan kehilangan makna spiritualnya.

“Rukun Islam jika tidak membuahkan akhlak maka akan kosong,” tegasnya.

Menghadirkan Kenikmatan Ibadah melalui Keimanan
Pada bagian akhir kajian, Ust. H. Saefudin menjelaskan bahwa ibadah akan terasa menyenangkan jika dipadukan dengan keimanan dan kesadaran akan kehidupan akhirat. Ia menilai keyakinan terhadap balasan pahala menjadi motivasi utama dalam menjaga konsistensi ibadah.

Secara tidak langsung, pesan tersebut mengajak jamaah menghadirkan orientasi akhirat dalam setiap amal, sehingga ibadah tidak menjadi rutinitas semata.

Kajian Pagi Ramadhan ke-5 diikuti jamaah dengan khidmat dan antusias. Kehadiran berbagai unsur masyarakat menunjukkan tingginya minat terhadap program kajian yang memberikan penguatan spiritual sekaligus wawasan keislaman.

Peran Pemuda Muhammadiyah sebagai pelaksana teknis dinilai strategis dalam menghadirkan dakwah yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan umat. Program kajian menjadi bukti kontribusi pemuda dalam memperkuat literasi keislaman di tingkat lokal.

Momentum Ramadhan untuk Transformasi Diri
Kajian ini memberikan pesan penting bahwa Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk melakukan transformasi diri. Integrasi iman, Islam, dan ihsan menjadi kunci agar ibadah mampu melahirkan akhlak mulia yang berdampak pada kehidupan sosial.

Melalui materi yang disampaikan, Kajian Pagi Ramadhan ke-5 tidak hanya menghadirkan pemahaman teologis, tetapi juga refleksi praktis mengenai kualitas ibadah. Pesan tersebut diharapkan mampu mendorong jamaah memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

(A.M. Musdani)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button