
Saijan Inspirasi Guru Muhammadiyah Bayan Menjadi Pendidik Profesional yang Dirindukan Siswa
PURWOREJO – Suasana penuh semangat dan inspirasi mewarnai hari kedua pelaksanaan In House Training (IHT) Perguruan Muhammadiyah Bayan yang berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kutoarjo, Selasa (23/6/2026). Pada sesi ketujuh, para peserta mendapatkan pembekalan bertajuk “Menjadi Guru Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang Profesional” yang disampaikan oleh Saijan, S.Pd., M.Ag., salah satu tokoh pendidikan Muhammadiyah yang memiliki pengalaman panjang dalam memimpin sekolah-sekolah unggulan Muhammadiyah di Indonesia.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perguruan Muhammadiyah Bayan tersebut diikuti guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan ‘Aisyiyah di Kecamatan Bayan, mulai dari KB dan TK ‘Aisyiyah Bayan, SD Muhammadiyah Bayan, SMP Muhammadiyah Jono, Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, hingga SMA Muhammadiyah Purworejo.
Saijan dikenal sebagai sosok yang berpengalaman dalam dunia pendidikan Muhammadiyah. Ia pernah menjabat sebagai Kepala SD Muhammadiyah Gresik Kota Baru pada 1998–2000, Kepala SD Muhammadiyah Karangwaru Yogyakarta pada 2001–2005, Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta pada 2005–2015, Kepala SD Muhammadiyah Nitikan pada 2015–2025, dan saat ini dipercaya memimpin SD Muhammadiyah Warungboto Yogyakarta.
Dalam penyampaiannya, Saijan mengajak para guru untuk memahami perubahan karakter peserta didik di era milenium dan era digital yang berkembang sangat cepat.
Menurutnya, guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memahami dunia yang sedang dihadapi oleh generasi saat ini.
“Anak-anak sekarang sangat akrab dengan teknologi. Mereka mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus, cepat beradaptasi dengan perubahan, dan lebih menyukai pembelajaran yang aktif serta menantang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa karakteristik peserta didik masa kini berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang serba digital, memiliki akses informasi yang luas, serta terbiasa memperoleh sesuatu secara cepat.
Karena itu, menurut Saijan, guru harus mampu menyesuaikan strategi pembelajaran agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan karakter.
Secara tidak langsung ia mengingatkan bahwa pembelajaran tidak boleh hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga harus memperhatikan proses yang dijalani peserta didik.
“Kenalkan anak dengan proses agar mereka semakin memahami dan menghargai hasil yang diperoleh. Jangan hanya fokus pada hasil, tetapi ajarkan bagaimana proses menuju keberhasilan itu dilakukan,” katanya.
Pembelajaran Harus Menantang dan Variatif
Dalam materinya, Saijan menekankan pentingnya menghadirkan pembelajaran yang menarik, aktif, dan menantang. Menurutnya, metode ceramah yang monoton sudah tidak cukup untuk menjawab kebutuhan generasi saat ini.
Ia mendorong para guru untuk memperbanyak praktik dibandingkan sekadar memberikan teori.
“Perbanyak praktik daripada kata-kata. Anak-anak sekarang lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka mengalami dan mempraktikkannya secara langsung,” ujarnya.
Selain itu, guru juga perlu menggunakan berbagai metode pembelajaran agar siswa tidak merasa bosan. Variasi metode, media, dan pendekatan dinilai menjadi kunci dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Menurutnya, kreativitas guru menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran.
“Pembelajaran harus menantang. Guru harus terus berinovasi dan menggunakan berbagai metode agar siswa tetap antusias belajar,” tambahnya.
Menjadi Guru yang Dirindukan Kehadirannya
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Saijan menjelaskan klasifikasi guru dengan pendekatan yang unik dan jenaka.
Ia membagi guru menjadi empat kategori, yakni guru wajib, guru sunnah, guru makruh, dan guru haram.
“Guru wajib adalah guru yang kehadirannya selalu dinantikan siswa. Guru sunnah, hadir atau tidak tidak terlalu berpengaruh. Guru makruh, sebaiknya tidak hadir. Sedangkan guru haram, jangan sampai hadir,” ujarnya yang disambut tawa dan tepuk tangan peserta.
Meski disampaikan dengan gaya humor, pesan yang terkandung di dalamnya sangat mendalam. Menurut Saijan, setiap guru harus berupaya menjadi sosok yang dirindukan oleh peserta didik karena mampu memberikan manfaat, inspirasi, dan kebahagiaan dalam proses belajar.
Ia menegaskan bahwa guru yang baik bukan hanya mengajar, tetapi juga mampu membangun hubungan emosional yang positif dengan siswa.
“Jadilah guru yang kehadirannya selalu dinanti. Ketika siswa merasa senang bertemu gurunya, maka proses pendidikan akan berjalan lebih mudah,” katanya.
Kunci Menjadi Guru yang Menyenangkan
Dalam kesempatan tersebut, Saijan juga membagikan sejumlah kiat agar guru menjadi pribadi yang menyenangkan dan dicintai siswa.
Menurutnya, guru harus menguasai materi pelajaran dengan baik, mengenali karakter siswa, serta memiliki teknik mengajar yang bervariasi.
Selain itu, seorang guru harus mampu menjadi teladan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
“Guru adalah contoh bagi siswa. Apa yang dilakukan guru sering kali lebih diingat daripada apa yang diucapkannya,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya sikap humoris, komunikatif, perhatian, adaptif terhadap perubahan, ramah, serta murah senyum.
Menurutnya, suasana belajar yang menyenangkan akan membuat siswa lebih mudah menerima pelajaran dan membangun kedekatan dengan guru.
“Ramah dan penuh senyum itu sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Anak-anak akan merasa nyaman dan dihargai,” tuturnya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya bersikap adil terhadap seluruh siswa tanpa membedakan latar belakang ekonomi, sosial, maupun keluarga.
“Jangan pernah membeda-bedakan pelayanan kepada siswa. Semua anak berhak mendapatkan perhatian dan layanan pendidikan yang sama,” tegasnya.
Pentingnya Komunikasi dengan Orang Tua
Saijan juga menyoroti pentingnya komunikasi antara sekolah dan keluarga dalam menyelesaikan berbagai persoalan peserta didik.
Menurutnya, siswa yang mengalami masalah di sekolah sering kali juga menghadapi persoalan di lingkungan keluarga.
Karena itu, guru tidak boleh langsung memberikan label negatif kepada siswa, melainkan perlu memahami akar masalah yang dihadapi.
“Siswa yang bermasalah di sekolah biasanya juga memiliki persoalan di rumah. Karena itu perlu komunikasi yang baik dengan orang tua,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa silaturahmi dan komunikasi yang hangat sering kali menjadi kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan.
“Silaturahmi dapat mencairkan suasana dan membantu menyelesaikan masalah. Guru harus mau hadir dan berkomunikasi dengan keluarga siswa,” katanya.
Selain itu, Saijan mengingatkan bahwa guru harus memberikan contoh kedisiplinan, termasuk datang lebih awal dibandingkan peserta didiknya.
Menurutnya, keteladanan jauh lebih efektif daripada sekadar memberikan nasihat.
Profesi Guru Adalah Investasi Akhirat
Pada bagian akhir materi, Saijan mengajak seluruh peserta untuk memandang profesi guru sebagai ladang amal dan investasi akhirat.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari prestasi akademik yang diraih siswa, tetapi juga dari keberhasilan membentuk karakter dan masa depan mereka.
“Profesi guru adalah investasi akhirat. Ketika siswa berhasil dan menjadi orang baik, guru akan ikut merasakan kebahagiaannya,” ujarnya.
Menurutnya, guru memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki profesi lain. Selain memperoleh kepuasan batin saat melihat kesuksesan anak didik, seorang guru juga mendapatkan pahala yang terus mengalir dari ilmu yang diajarkannya.
“Guru akan selalu dikenang murid-muridnya. Bahkan ketika sudah meninggal dunia, doa-doa dari para siswa akan terus mengalir,” katanya.
Ia menambahkan bahwa keberkahan profesi guru terletak pada manfaat ilmu yang diberikan kepada orang lain.
Penyampaian Penuh Semangat dan Inspirasi
Sepanjang sesi berlangsung, Saijan menyampaikan materi dengan gaya yang komunikatif, energik, dan penuh humor. Sesekali ia menyelipkan nyanyian khas serta cerita-cerita inspiratif yang membuat peserta tetap fokus dan antusias mengikuti materi hingga selesai.
Suasana ruangan beberapa kali dipenuhi gelak tawa ketika ia menyampaikan ilustrasi dan pengalaman selama puluhan tahun berkecimpung di dunia pendidikan Muhammadiyah.
Peserta mengaku mendapatkan banyak wawasan baru mengenai pentingnya menjadi guru yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Melalui materi tersebut, Perguruan Muhammadiyah Bayan berharap seluruh guru dan karyawan semakin termotivasi untuk meningkatkan kompetensi, memperkuat karakter pendidik, serta menghadirkan layanan pendidikan yang unggul dan berkemajuan.
Semangat yang dibawa Saijan menjadi pengingat bahwa guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan pengabdian yang memiliki nilai ibadah dan investasi jangka panjang, baik di dunia maupun di akhirat.
Kontributor: A.M. Musdani



