
Belajar Puasa Tanpa Trauma: Pesan Psikologis Ramadan dari Dosen UNS di Tarhim PCM Bagelen
Purworejo – Malam Ramadan di Masjid Al Iman, Bapangsari, Bagelen, terasa lebih hangat dari biasanya. Usai salat tarawih, puluhan jemaah masih bertahan di saf-saf masjid. Mereka menunggu kultum dalam agenda Tarawih Silaturahim (Tarhim) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen yang malam itu menghadirkan sudut pandang berbeda tentang puasa.
Bukan semata membahas dalil fikih atau keutamaan ibadah, melainkan bagaimana anak-anak merasakan Ramadan dari sisi psikologisnya.
Kultum disampaikan oleh Ustaz Muhammad Munif Syamsudin, M.A, dosen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sosok yang akrab disapa Ustaz Munif ini mengajak jamaah melihat Ramadan melalui mata anak-anak—sebuah perspektif yang sering luput dalam praktik pendidikan keluarga.
Menurutnya, puasa bagi anak bukan sekadar latihan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa merupakan proses awal bagi anak untuk belajar mengelola emosi, kesabaran, sekaligus memahami makna ibadah.
“Anak-anak adalah peniru yang sangat kuat. Mereka merekam bagaimana orang tua menjalani puasa. Jika yang mereka lihat adalah wajah yang mudah marah, mengeluh, atau tampak tersiksa, maka dalam benak anak puasa akan dianggap sebagai sesuatu yang menyengsarakan,” jelasnya.
Sebaliknya, ketika anak melihat orang tuanya berpuasa dengan wajah yang tenang, sabar, dan penuh syukur, pengalaman tersebut akan tertanam sebagai memori positif tentang Ramadan.
Ustaz Munif yang juga putra pasangan tokoh Muhammadiyah–‘Aisyiyah Drs. H. Masagus Syamsudin, M.Ag dan Dra. Hj. Nurlaela Purwaningsih, serta cucu tokoh senior Muhammadiyah H. Arbain Mahmud, menegaskan bahwa keteladanan merupakan metode pendidikan paling kuat dalam keluarga.
“Anak belajar bukan dari ceramah kita, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan tips sederhana kepada orang tua agar anak dapat menikmati proses belajar berpuasa. Salah satunya adalah memberikan apresiasi yang wajar ketika anak mencoba menjalankan puasa, meskipun belum sempurna.
Namun demikian, ia mengingatkan agar penghargaan tersebut tidak selalu berbentuk hadiah materi.
“Reward boleh saja, tetapi jangan sampai anak berpuasa hanya karena hadiah. Yang lebih penting adalah menumbuhkan rasa bangga dalam diri anak karena mampu menjalankan ibadah,” katanya.
Bagi Ustaz Munif, Ramadan sejatinya adalah sekolah keluarga yang sangat efektif. Momen sahur bersama, berbuka puasa bersama, hingga salat berjamaah merupakan ruang pembelajaran spiritual yang tidak tergantikan.
Di situlah anak merasakan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengalaman kebersamaan yang penuh makna.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen menyampaikan bahwa kehadiran kader muda Muhammadiyah dengan latar belakang akademik seperti Ustaz Munif memberikan warna baru dalam dakwah di tingkat cabang.
Pendekatan yang memadukan ilmu psikologi, pendidikan, dan nilai-nilai Islam dinilai mampu menjawab kebutuhan keluarga Muslim masa kini.
“Kajian seperti ini membuat dakwah terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan Tarhim PCM Bagelen malam itu kemudian ditutup dengan ramah tamah antarjamaah. Di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah, silaturahim tersebut semakin menguatkan simpul persaudaraan sekaligus meneguhkan semangat dakwah kultural Muhammadiyah di tingkat akar rumput.
(Epin Hidayat)



