
Bukan Cuma Puasa, Ini 4 Golongan Dirindukan Surga Jelang Akhir Ramadan
Purworejo – Ibadah puasa tanpa kemampuan menjaga ucapan bisa berujung sia-sia dan menjauhkan umat dari status golongan dirindukan surga. H Zumarudin, S.Pd.I mengingatkan hal krusial tersebut kepada warga Desa Tlogokotes, Bagelen, dalam peringatan Nuzulul Quran dan Malam Selikuran di Masjid Al Ikhlas Kotesan (10/03/26).
Penceramah menguraikan empat kriteria manusia yang sangat dinantikan oleh surga. Keempat golongan tersebut adalah pembaca Al-Qur’an, pemberi makan orang kelaparan, orang yang berpuasa di bulan Ramadan, dan penjaga lisan. Ajaran ini menjadi refleksi penting bagi umat Islam untuk memaksimalkan amalan bulan Ramadan di sisa hari menjelang Idul Fitri.
Kriteria pertama menyoroti kebiasaan membaca Al-Qur’an
Zumarudin menegaskan bahwa Al-Qur’an kelak akan menjadi syafaat atau penolong di hari kiamat bagi mereka yang rajin membacanya. Sementara itu, kriteria kedua menekankan kepedulian sosial melalui berbagi makanan kepada sesama.
“Tiang ingkang remen paring daharan dumateng tiang sanes ingkang luwih, menika termasuk golongan yang dirindukan surga,” ujar H Zumarudin S.Pd.I.
Keutamaan Puasa dan Menjaga Lisan
Lebih lanjut, golongan ketiga adalah mereka yang konsisten menjalankan ibadah puasa Ramadan. Zumarudin menjelaskan bahwa surga memiliki pintu khusus bernama Ar-Rayyan yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang berpuasa. Puasa ini tidak sekadar menahan haus dan lapar, tetapi juga menahan hawa nafsu secara total.
“Sebab puasa itu kagungan (milik) Allah, dan Allah sendiri yang bakal paring ganjaran,” ujar Zumarudin menjelaskan keutamaan puasa yang istimewa.
Kriteria keempat atau terakhir adalah kemampuan menjaga lisan (hifdzil lisan)
Menjaga ucapan memegang peran sangat krusial dalam menentukan nasib seseorang di akhirat. Banyak manusia gagal masuk surga justru karena tidak mampu mengendalikan tutur kata dan kemaluannya.
Peringatan mengenai lisan ini menjadi puncak teguran bagi jemaah yang hadir.
“Banyak orang masuk neraka karena dua perkara, yang pertama lisannya dan kemaluannya,” ujar H Zumarudin S.Pd.I dengan tegas.
Oleh karena itu, momentum Nuzulul Quran ini harus menjadi titik balik umat Islam untuk senantiasa memperbaiki akhlak dan tutur kata.
(Epin Hidayat)



