
Memaknai Isra Mi’raj melalui Ilmu dan Iman dalam Rapat Rutin PRM Tlogokotes
Purworejo – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tlogokotes menyelenggarakan rapat rutin yang dirangkai dengan kajian keislaman di Masjid Ad Darussalam, Desa Tlogokotes, pada Selasa malam, 6 Januari 2026 / 16 Rajab 1447 H. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 20.15 hingga 22.00 WIB tersebut diikuti sekitar 30 orang pengurus dan warga Muhammadiyah.
Acara diawali dengan ucapan syukur Alhamdulillah dan sambutan singkat Ketua PRM Tlogokotes Bapak Supriyadi sebagai pengantar kegiatan. Sambutan PRM disampaikan secara ringkas sebagai bagian dari agenda rutin organisasi di tingkat ranting.
Selanjutnya, Ketua PCM Bagelen, Bapak Rohadi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas semangat dan konsistensi warga Muhammadiyah Tlogokotes dalam mengikuti rapat rutin yang secara berkelanjutan diisi dengan kajian keislaman. Menurutnya, konsistensi tersebut merupakan modal penting dalam menjaga ruh Persyarikatan di tingkat ranting. Ia menegaskan bahwa rapat rutin PRM tidak hanya berfungsi sebagai forum organisatoris, tetapi juga sebagai majelis pembinaan ideologi, penguatan keislaman, dan pengokohan jamaah, sehingga perlu terus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya. Ketua PCM Bagelen juga mengapresiasi komitmen PRM Tlogokotes dalam menghidupkan masjid sebagai pusat dakwah dan pembinaan umat.
Sebelum memasuki kajian inti, acara diisi dengan kultum oleh H. Zumaruddin, S.Pd.I, Sekretaris PCM Bagelen. Dalam kajiannya, beliau menegaskan bahwa inti ajaran Al-Qur’an adalah tauhid yang tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dipahami, diyakini, dan diamalkan. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Muhammad ayat 19, “Fa‘lam annahu lā ilāha illallāh”, yang menegaskan bahwa keimanan harus didahului oleh ilmu dan pemahaman yang benar tentang keesaan Allah SWT.
Lebih lanjut disampaikan bahwa kalimat tahlil lā ilāha illallāh sebagai inti syahadat tidak cukup hanya diucapkan di lisan. Tauhid harus lahir dari keyakinan hati yang mendalam serta diwujudkan dalam amal nyata, khususnya dengan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dalam ibadah, akhlak, dan kehidupan sehari-hari. Iman yang benar menuntut keselarasan antara ilmu, keyakinan, dan perbuatan. Orang yang pandai berkata-kata namun tidak mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarga dan sosial dinilai belum merefleksikan tauhid secara utuh. Dalam konteks kehidupan modern, beliau juga mengingatkan bahwa kelimpahan harta dan kemudahan hidup tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas keimanan, sehingga umat Islam perlu terus memperkuat tauhid dan konsistensi beribadah.
Puncak kegiatan diisi dengan kajian inti oleh H. Dandung Danadi, Penasehat PCM Bagelen. Dalam kajian keislaman yang disampaikan di masjid, H. Dandung Danadi menegaskan bahwa ilmu merupakan fondasi utama dalam membangun keimanan seorang Muslim. Hal tersebut merujuk pada perintah pertama Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu iqra’ (bacalah), yang menunjukkan bahwa Islam sejak awal meletakkan proses belajar dan berpikir sebagai pintu menuju hidayah.
Menurut H. Dandung Danadi, wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW bukanlah perintah ritual, melainkan perintah membaca dan memahami ciptaan Allah SWT. Dengan ilmu, manusia diajak untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah melalui alam semesta, seperti penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam. Semua itu merupakan ayat-ayat kauniyah yang menguatkan keyakinan akan adanya Zat Yang Maha Mengatur.
Dalam penjelasannya, H. Dandung Danadi menegaskan bahwa pengenalan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah SWT melalui alam semesta akan mengantarkan manusia pada keyakinan akan adanya Zat Yang Maha Mengatur seluruh ciptaan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT (Q.S. Ali Imran ayat 190), yang menyebutkan bahwa pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan ilmu sebagai sarana membaca keteraturan alam, sehingga keimanan tidak berdiri di ruang hampa, tetapi dibangun di atas kesadaran dan pemahaman yang mendalam.
Ia kemudian mengutip kaidah ulama, “Man arāda ad-dunyā fa ‘alayhi bil ‘ilm, wa man arāda al-ākhirah fa ‘alayhi bil ‘ilm,” yang menegaskan bahwa baik urusan dunia maupun akhirat tidak dapat dilepaskan dari ilmu. Keimanan yang benar, menurutnya, tidak mungkin tumbuh tanpa proses belajar yang terus-menerus dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa iman dalam Islam dapat dipahami melalui beberapa pendekatan, yaitu iman bayani yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, iman burhani yang dibangun melalui akal dan logika, serta iman irfani yang lahir dari pengalaman spiritual. Ketiga pendekatan tersebut saling melengkapi dan membentuk keimanan yang utuh, tidak timpang antara teks, nalar, dan penghayatan.
Ia juga menambahkan bahwa Al-Qur’an mendorong manusia untuk merenungkan penciptaan dirinya, mulai dari proses awal hingga menjadi manusia yang sempurna. Penjelasan tersebut, menurutnya, tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, bahkan justru semakin menguatkan iman. Iman yang pada awalnya diperoleh melalui orang tua dan guru perlu diperkokoh dengan pemahaman pribadi agar tidak berhenti pada keimanan yang bersifat ikut-ikutan.
Sebagai penutup kajiannya, H. Dandung Danadi mengaitkan pembahasan ilmu dan iman dengan pemahaman peristiwa Isra Mi’raj. Ia menegaskan bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian, tetapi merupakan pelajaran besar tentang relasi ilmu, iman, dan ketaatan. Peristiwa tersebut hanya dapat dipahami secara utuh apabila iman dibangun di atas dasar ilmu yang benar, bukan sekadar rasa atau tradisi.
Menurutnya, ilmu berfungsi sebagai jembatan pemahaman iman, yang mengantarkan seorang Muslim dari sekadar percaya menuju keyakinan yang sadar dan bertanggung jawab. Dengan ilmu, umat Islam dapat memahami hikmah Isra Mi’raj sebagai penguatan aqidah, peneguhan risalah Nabi Muhammad SAW, serta dasar ditetapkannya kewajiban shalat sebagai mi’rajnya orang beriman.
Ia menegaskan bahwa tanpa ilmu, iman mudah rapuh dan berhenti pada pengakuan lisan. Sebaliknya, dengan ilmu yang dipadukan melalui pendekatan bayani, burhani, dan irfani, iman akan tumbuh kokoh, hidup, dan tercermin dalam ibadah serta akhlak. Oleh karena itu, peristiwa Isra Mi’raj dipandang sebagai momentum untuk memperkuat tradisi keilmuan sekaligus pendalaman spiritual umat Islam.
Kajian ditutup dengan ajakan agar umat Islam terus menghidupkan majelis ilmu di masjid dan masyarakat, karena melalui ilmu itulah iman dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan nyata. Acara kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar kajian yang disampaikan menjadi bekal bagi warga Muhammadiyah dalam menggerakkan dakwah dan Persyarikatan di tengah masyarakat.
(Epin Hidayat)



