Pendidikan

Tinggalkan Fitur Berbayar! Strategi Guru Muhammadiyah Bayan Bangun Media Belajar Berbasis Web

Purworejo — Kehadiran Papan Interaktif Digital (PID) di ruang-ruang kelas saat ini menjadi simbol modernisasi pendidikan di Indonesia. Perangkat canggih ini hadir sebagai upaya nyata untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan efektivitas interaksi antara guru dan siswa. Namun, di balik kecanggihan layar sentuh dan fitur visualnya yang memukau, tersimpan sebuah tantangan besar bagi para pendidik.

Papan Interaktif Digital ibarat sebuah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan potensi luar biasa untuk membuat materi pelajaran menjadi lebih hidup. Di sisi lain, perangkat ini bisa menjadi sekadar “pajangan mahal” jika guru tidak dibekali dengan kemampuan untuk menciptakan konten yang relevan. Kelemahan utama yang sering ditemui di lapangan adalah ketergantungan pada materi statis atau sekadar memindahkan buku teks ke layar digital tanpa ada unsur interaktivitas yang nyata.

Menjawab Tantangan Teknologi

Menyikapi hal tersebut, SMP Muhammadiyah Jono Bayan dan SD Muhammadiyah Bayan menggelar kegiatan pelatihan bertajuk “Pembuatan Media Belajar Interaktif Berbasis Web”. Acara yang berlangsung pada Kamis, 19 Rajab 1447 H atau bertepatan dengan 8 Januari 2026 ini, bertujuan untuk membekali guru agar tidak hanya menjadi penonton di tengah arus teknologi.

Hadir sebagai pemateri, Pak Fadil, seorang praktisi sekaligus Guru TIK dari SD Muhammadiyah Bayan. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa tantangan utama guru saat ini adalah belajar secara berkelanjutan agar bisa mengimbangi fasilitas yang sudah disediakan sekolah.

Memutus Rantai Keterbatasan Biaya

Salah satu hambatan yang sering dikeluhkan guru saat ingin membuat media ajar digital adalah masalah biaya. Kebanyakan platform pembuat media interaktif saat ini mengharuskan pengguna membuat akun dan hanya memberikan fitur yang sangat terbatas untuk versi gratis. Jika ingin mengakses fitur yang lebih canggih, sekolah atau guru seringkali harus merogoh kocek untuk berlangganan versi pro.

Namun, pelatihan kali ini menawarkan pendekatan yang berbeda. Pak Fadil memberikan solusi pembuatan media belajar berbasis web yang bisa disesuaikan sepenuhnya dengan kebutuhan materi tanpa harus terikat biaya berlangganan yang mahal.

“Selama ini kita sering terjebak pada platform yang ‘mengunci’ kreativitas kita dengan fitur berbayar. Melalui pelatihan ini, kita memaksimalkan potensi yang ada dengan alat yang gratis namun memiliki kemampuan tak terbatas. Kuncinya bukan pada seberapa mahal aplikasinya, melainkan pada sejauh mana imajinasi guru dalam meramu materi,” ujar Pak Fadil di sela-sela kegiatannya.

Imajinasi Sebagai Batas Tertinggi

Dalam sesi praktik, para peserta diajak untuk mengeksplorasi pembuatan media ajar yang dinamis. Mulai dari kuis interaktif yang sederhana hingga simulasi materi yang rumit dan kompleks, semuanya dikupas tuntas. Menariknya, Pak Fadil menekankan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara “ruh” dari media tersebut ada pada kreativitas pengajarnya.

“Semua tergantung pada kemampuan imajinasi guru. Media ajar bisa dibuat sangat sederhana untuk anak kelas rendah, atau dibuat sangat kompleks untuk materi sains yang membutuhkan logika tinggi. Batasannya bukan lagi sistem atau akun pro, tapi imajinasi kita sendiri,” tambah Fadil menyemangati para peserta.

Pelatihan ini tidak hanya fokus pada teknis coding atau desain grafis, melainkan pada bagaimana menyusun alur berpikir siswa agar lebih mudah memahami materi melalui bantuan visual dan kontrol interaktif pada Papan Interaktif Digital.

Harapan untuk Sekolah Muhammadiyah

Kegiatan yang dilaksanakan secara kolaboratif di lingkungan SMP Muhammadiyah Jono Bayan dan SD Muhammadiyah Bayan ini diharapkan menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah lainnya. Transformasi digital bukan hanya soal pengadaan barang, melainkan tentang transformasi sumber daya manusia.

Sebagai penutup, penyelenggara menyarankan agar sekolah-sekolah Muhammadiyah, khususnya di wilayah Purworejo dan sekitarnya, terus konsisten memberikan ruang bagi guru untuk bereksperimen. Investasi pada peningkatan kapasitas guru jauh lebih berharga daripada sekadar pembaruan perangkat keras.

“Harapannya, sekolah-sekolah Muhammadiyah bisa menjadi pionir dalam penggunaan teknologi yang mandiri. Kita punya perangkatnya (PID), kita punya gurunya, sekarang saatnya kita kembangkan kreativitasnya agar siswa-siswi kita mendapatkan pengalaman belajar yang terbaik dan tak terlupakan,” pungkasnya.

Dengan berakhirnya pelatihan ini, diharapkan tidak ada lagi Papan Interaktif Digital yang hanya digunakan sebagai layar proyektor biasa. Di tangan guru-guru yang kreatif dan berimajinasi tinggi, papan tersebut akan menjadi jendela ilmu pengetahuan yang interaktif dan menyenangkan bagi masa depan generasi bangsa.

(Ach Fadil)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button