
Saat Beban Kerja Menjadi Beban Hati, maka Allah “Turun Tangan” untuk Memberikan Pelajaran
Suatu hari, saat mengikuti kuliah PKMD, suasana kelas cukup santai. Seorang teman yang duduk di sebelah saya tampak gelisah sambil memegangi punggungnya. Ia berkata pelan, “Badanku capek sekali, pegel di bagian atas.” Teman lain di sampingnya mencoba membantu dengan memijat sebentar, tetapi pijatannya terkesan sekadarnya saja. Melihat itu, saya pun berinisiatif melanjutkan pijatannya. Namun, saya melakukannya dengan lebih teliti, meraba bagian mana yang terasa enak saat dipijat. Dan sepertinya beliau menikmati pijatan yang saya berikan. Sambil terus memijat, tiba-tiba muncul niat di hati saya untuk memberikan nasehat. Dan ini nasehat yang sering saya lontarkan ke diri saya sendiri dan beberapa teman yang pernah konsultasi dengan kondisi yang sama. Dan saya mengawali nasehat ini dengan bertanya, “Mau cek akhlak nggak?” Ia langsung menyambut dengan antusias, “Boleh banget! Bagaimana pandangan menurut jenengan.” Barangkali beliau tahu bahwa saya sering membuat konten, baik berupa video maupun tulisan, berisi pesan bagi orang-orang yang sedang diuji dengan rasa sakit.
Saya pun melanjutkan obrolan sambil memijat bahunya. Saya sampaikan, “Kalau punggung bagian atas linu, biasanya itu ada hubungannya dengan perilaku saat bekerja. Sering muncul rasa tidak ikhlas dan ada marah marahnya. Kerjanya maksimal, tapi hatinya ikut mengeluh. Mengeluh karena merasa tugasnya lebih banyak daripada orang lain.” Itu adalah kalimat yang aku sampaikan kepada beliau.
Beliau terdiam sejenak, seolah merasa bahwa kalimat itu cukup menohok. Saya pun melanjutkan penjelasan dengan cara yang lebih lembut. Sambil memijat Saya sampaikan bahwa “sebenarnya bukan terletak pada banyaknya pekerjaan, tetapi pada cara menanggapi pekerjaan itu.” Padahal ketika itu saya tidak tahu beliau baru saja melakukan apa sampai capek dan linu di bagian punggung dan mungkin kalau nasehat saya diserang balik bisa jadi saya yang terdiam.
Saya pun melanjutkan, “Kalau jenengan dapat job lebih banyak dari yang lain, bukan berarti harus ngomel-ngomel. Sampaikan saja kepada atasan dengan cara yang baik. Bilang saja kalau pekerjaannya bisa dibagi ke orang lain tidak perlu marah-marah kepada keluarga, atau meluapkan emosi di media sosial karena itu bukanlah solusi.” Padahal dalam hati itulah yang sering terjadi: orang merasa terbebani, tapi cara menyampaikan keberatan tidak tepat.
Sebenarnya saat menanggung pekerjaan terlalu berat, maka meminta bantuan bukan hal yang salah. Hanya saja seseorang juga harus siap jika permintaan bantuan itu ditolak. “Yang penting,” lanjut saya, “jenengan tetap menjaga ikhlasan hati.”
Sebagai orang beriman seharusnya menyadari bahwa setiap kebaikan kecil akan kembali kepada dirinya. Allah berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (Q.S. Az-Zalzalah: 7-8)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa jika ia bekerja dengan ikhlas, meskipun beban lebih banyak, maka semuanya tidak akan sia-sia. Bahkan kelak di hari akhir, manusia yang telah meninggal justru berharap dapat kembali ke dunia agar dapat menambah amal kebaikannya. Allah mengungkapkan hal itu dalam firman-Nya:
“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh yang dulu aku tinggalkan.” (Q.S. Al-Mu’minun: 99–100)
Ayat tersebut menggambarkan penyesalan manusia ketika memahami betapa berharganya setiap kesempatan berbuat baik di dunia.
Setelah nasehat panjang lebar beliau pun membuka “kartunya” kalau beliau habis kerja bakti di kantor, tapi teman temannya pada tidak semangat dan malas malasan. Saya pun balas jawab, “mungkin karena jenengan orang baik, tau tentang amal kebaikan, tau tentang keikhlasan, ketika beramal tapi ada nggresulo, jadinya Allah turun tangan buat mengingatkan jenengan.” Akhirnya beliau tertawa lepas setelah mendengar nasehat itu.
Cerita ini adalah kisah nyata, meskipun tidak ada dasar pasti yang menunjukkan hubung kait antara sakit punggung dengan keikhlasan dalam bekerja. Namun harapannya cerita bisa menjadi lentera hati yang mengingatkan kita bahwa keikhlasan sering kali lahir dari luka yang dipendam diam-diam, namun justru dari situlah cahaya tumbuh. Bahwa bekerja ikhlas bukan berarti tanpa lelah, tetapi mampu tersenyum meski peluh tak pernah dihitung siapa pun kecuali oleh Rabb kita. Keikhlasan laksana lilin yang menerangi sekelilingnya meski dirinya harus hangus terbakar. Ingat, Allah mendorong kita untuk beramal dengan penuh keikhlasan, sekalipun kebaikan itu tidak tampak dampaknya di dunia, pasti Allah akan membalas kebaikan itu, dan uniknya Allah tidak ingin hamba-Nya yang beriman amalnya sia sia, maka Allah berikan peringatan kepada hamba-Nya yang melakukan amal kebaikan tetapi disertai ketidak ikhlasan yang dalam hal ini berupa sakit di punggung.
Wallaahu A’lam
Achmad Fadil
Pengajar SD Muhammadiyah Bayan



