Agama

Pengajian Ahad Pagi PCM Grabag Bahas Tiga Golongan Pewaris Al-Qur’an dalam Q.S. Fatir Ayat 32

PURWOREJO — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Grabag kembali menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi di Gedung Dakwah Muhammadiyah Grabag, yang berada di depan Kantor Desa Roworejo, Grabag. Kegiatan tersebut diikuti oleh warga Muhammadiyah Kecamatan Grabag bersama masyarakat sekitar.

Pengajian yang dilaksanakan pada Ahad, 15 Rabiulakhir 1448 H (26 September 2026) tersebut menghadirkan Ustadz Musa Al Fitri, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, sebagai pemateri.

Mengawali kajian, Ustadz Musa Al Fitri mengajak para jamaah untuk terus meneladani Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai generasi terbaik yang telah memberikan keteladanan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, serta dalam menjalankan berbagai amal kebaikan.

Kajian kemudian berfokus pada Surat Fatir ayat 32, yang menjelaskan tentang tiga golongan manusia dalam menyikapi warisan Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

«ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖۚ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌۚ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ»

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS. Fatir: 32).

Dalam kajiannya, Ustadz Musa menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan tiga golongan dalam merespons turunnya Al-Qur’an.

Pertama, golongan yang menzalimi dirinya sendiri (zhālimun linafsih).

Golongan ini adalah mereka yang kurang memperhatikan pesan-pesan Al-Qur’an. Mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah SWT, tetapi tidak sungguh-sungguh membaca, mempelajari, dan mengamalkannya sehingga lebih banyak melakukan kesalahan daripada kebaikan.

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa orang yang menzalimi dirinya sendiri adalah mereka yang kurang memperhatikan pesan-pesan Al-Qur’an sehingga lebih banyak berbuat salah daripada berbuat baik.

Kedua, golongan pertengahan (muqtashid).

Golongan ini berada di tengah-tengah. Mereka menjalankan kewajiban dan berusaha meninggalkan larangan Allah, tetapi belum memiliki kesungguhan untuk terus meningkatkan amal dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut dapat terlihat ketika seseorang terkadang rajin membaca dan mempelajari Al-Qur’an, tetapi pada kesempatan lain melupakannya. Kadang bersemangat melakukan amal kebaikan, namun masih pula terjatuh dalam perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunan agama.

Ketiga, golongan yang berlomba-lomba dalam kebaikan (sābiqun bil-khairāt).

Inilah golongan yang berusaha untuk selalu berada di barisan terdepan dalam melakukan kebaikan dengan izin Allah SWT. Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan meninggalkan keburukan dan menjalankan kewajiban, tetapi juga berusaha memperbanyak amal saleh dan memberikan manfaat bagi sesama.

Makna fastabiqul khairat karena itu tidak berhenti pada sekadar “berlomba-lomba dalam kebaikan”, tetapi juga menjadi dorongan untuk memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan kebaikan.

Sejumlah tafsir menjelaskan bahwa golongan sābiqun bil-khairāt adalah mereka yang bersegera melakukan amal-amal saleh, melaksanakan kewajiban dan amalan yang dianjurkan, serta menjauhi perkara yang diharamkan.

Ustadz Musa juga mengingatkan jamaah agar menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi sebagai pedoman yang dipelajari, dipahami, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menjadi penting karena setiap Muslim pada dasarnya memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Dari yang sebelumnya lalai, menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an; dari sekadar menjalankan kewajiban, meningkat menjadi pribadi yang gemar melakukan kebaikan dan memberikan manfaat.

Dalam penjelasan tafsir terhadap ayat berikutnya, golongan yang mendapatkan karunia Allah tersebut disebut akan memperoleh kenikmatan surga. Sejumlah riwayat tafsir juga menjelaskan perbedaan keadaan ketiga golongan tersebut dalam hisab, dengan golongan yang sābiqun bil-khairāt disebut memperoleh keutamaan masuk surga tanpa hisab.

Pengajian Ahad Pagi PCM Grabag tersebut diharapkan tidak hanya menjadi forum untuk menambah ilmu, tetapi juga menjadi sarana untuk melakukan evaluasi diri: di manakah posisi kita dalam menyikapi Al-Qur’an?

Apakah masih termasuk orang yang lalai, berada pada posisi pertengahan, atau sudah berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa bersegera dalam kebaikan?

Semangat fastabiqul khairat hendaknya terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah, keluarga, pekerjaan, pendidikan, pelayanan kepada masyarakat maupun berbagai bentuk amal sosial.

Mari terus belajar, mengamalkan Al-Qur’an, dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena menjadi pewaris Al-Qur’an bukan hanya tentang membacanya, tetapi juga tentang menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan.

(Triyono)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button