
PRM Krendetan Gelar Pertemuan Rutin, Perkuat Silaturahmi dan Semangat Dakwah Bersama PCM Bagelen
Purworejo – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Krendetan menyelenggarakan pertemuan rutin pada Jum’at malam Sabtu 10 April 2026 bertempat di rumah Bapak Rinhadi, RM Syafira, Krendetan, mulai pukul 20.00 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh 22 orang peserta dari unsur pengurus dan anggota.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Penasehat PCM Bagelen H. Dandung Danadi, Sekretaris PCM Bagelen H. Zumarudin, S.Pd.I, Ketua Majelis Tabligh Ustadz Ikhwan, S.Pd.I, serta Ketua PRM Krendetan Ustadz Abdul Latif.
Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan Kalam Ilahi oleh Bapak Nur Iswadi yang membacakan Surat Al-Baqarah ayat 275 beserta sari tilawahnya. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh tuan rumah Bapak Rinhadi yang menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran seluruh undangan (maturnuwun atas rawuhipun sedoyo), serta berharap kegiatan ini menjadi amal silaturahmi dan membawa keberkahan bagi semua.
Kemudian sambutan disampaikan oleh Ketua PRM Krendetan Ustadz Abdul Latif yang menekankan pentingnya terus meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT, serta berharap ke depan partisipasi anggota semakin meningkat.
Sambutan dari Ketua PCM Bagelen yang diwakili oleh Ustadz Ikhwan, S.Pd.I menyampaikan bahwa beliau hadir mewakili Ketua PCM Bagelen Bapak Rohadi, S.E yang berhalangan karena adanya pertemuan penting di tingkat masyarakat RT. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai momentum untuk menumbuhkan semangat berorganisasi serta melahirkan ide-ide segar melalui musyawarah.
Memasuki inti kegiatan, tausiyah atau kultum disampaikan oleh H. Zumarudin, S.Pd.I yang menekankan pentingnya menjaga lisan sebagai bagian dari ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam pemaparannya, beliau mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan berkumpul, serta mengingatkan bahwa salah satu penyebab utama manusia terjerumus dalam keburukan adalah karena tidak mampu menjaga lisan dan kemaluannya. Fokus utama pembahasan diarahkan pada lisan, karena dari ucapanlah sering muncul berbagai persoalan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat luas.
Beliau menjelaskan bahwa lisan dapat menjadi sumber kebaikan sekaligus sumber malapetaka. Kesalahan dalam berbicara, terlebih dalam urusan agama tanpa dasar yang jelas, berpotensi menyesatkan orang lain. Oleh karena itu, umat Islam diingatkan untuk hanya menyampaikan hal yang benar sesuai Al-Qur’an dan sunnah, serta menghindari ucapan yang mengada-ada. Disampaikan pula pentingnya berkata benar (qaulan sadida), yang dengannya Allah menjanjikan perbaikan amal dan ampunan dosa bagi orang-orang yang mampu menjaga lisannya.
Di akhir tausiyah, beliau menegaskan bahwa menjaga lisan tidak hanya terkait isi ucapan, tetapi juga cara penyampaiannya. Ucapan harus disampaikan dengan lemah lembut, santun, dan menyejukkan (qaulan layyina dan lainnya). Bahkan Rasulullah menegaskan bahwa jika tidak mampu berkata baik, maka lebih baik diam. Dengan demikian, keselamatan seseorang di dunia dan akhirat sangat bergantung pada kemampuannya dalam mengendalikan lisan.
Setelah kultum, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian tafsir oleh Penasehat PCM Bagelen, H. Dandung Danadi. Dalam kajiannya, beliau mengulas kandungan Surah At-Tin dengan pendekatan yang mendalam. Diawali dengan penjelasan bahwa sumpah Allah pada awal surat bukan sekadar menyebut buah, tetapi merujuk pada tempat-tempat turunnya wahyu, yakni Palestina (Nabi Isa), Sinai (Nabi Musa), dan Makkah (Nabi Muhammad ﷺ). Hal ini menunjukkan bahwa wahyu menjadi pusat kemuliaan manusia dan peradaban.
Beliau kemudian menyoroti ayat “laqad khalaqnal insāna fī ahsani taqwīm” yang menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, baik secara fisik, akal, maupun ruhani. Namun, kesempurnaan tersebut bersifat potensial. Manusia dapat naik derajatnya, tetapi juga bisa jatuh sebagaimana ditegaskan dalam ayat “tsumma radadnāhu asfala sāfilīn”, yaitu ketika manusia gagal menjaga iman, tidak mengendalikan hawa nafsu, dan tidak membimbing akalnya dengan wahyu.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kecerdasan semata, melainkan oleh iman dan amal saleh sebagaimana dalam ayat “illalladzīna āmanū wa ‘amilus shālihāt”. Mereka inilah yang akan mendapatkan pahala yang tidak terputus. Kajian ini juga menekankan pentingnya pengendalian diri sebagai kunci menjaga kemuliaan manusia, karena tanpa kontrol terhadap hawa nafsu, manusia dapat terjerumus dalam kerusakan.
Sebagai penutup, beliau mengajak jamaah untuk menjadikan iman, amal saleh, dan pengendalian diri sebagai fondasi kehidupan. Dengan demikian, manusia dapat menjaga kemuliaan yang telah Allah anugerahkan sejak penciptaannya.
Setelah rangkaian pengajian, acara dilanjutkan dengan sesi lain-lain dan rapat internal PRM Krendetan guna membahas program kerja serta langkah strategis ke depan. Pertemuan ditutup dengan harapan agar seluruh peserta dapat mengimplementasikan nilai-nilai yang telah disampaikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui kegiatan ini, PRM Krendetan terus berupaya memperkuat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan peran aktif dalam dakwah dan pemberdayaan umat di lingkungan sekitar.
(Epin Hidayat)



