Agama

Pengajian Selapanan PRM Dadirejo Bahas Empat S, Rahasia Bahagia yang Sering Terlupakan

Purworejo — Di tengah kesibukan kehidupan modern, masyarakat Dadirejo kembali menemukan ruang ketenangan melalui tradisi Pengajian Selapanan Malam Sabtu Pahing yang digelar pada Jumat malam, 24 April 2026 pukul 20.00 WIB oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Dadirejo. Bertempat di Musholla Ash-Shofiyah, kegiatan ini menjadi wadah menimba ilmu sekaligus mempererat silaturahmi warga.

Dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen, hadir Sekretaris PCM Bagelen H. Zumarudin, S.Pd.I, yang mewakili Ketua PCM Bagelen Rohadi, S.E. yang berhalangan hadir karena sakit. Turut hadir pula jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), di antaranya Ketua PRM Krandetan Abdul Latif, serta Eoin Hidayat dan Yayan Taryana.

Kegiatan diawali dengan kultum yang disampaikan oleh H. Zumarudin, S.Pd.I. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT yang tidak terhitung jumlahnya. Ia mencontohkan nikmat sederhana seperti kesehatan, pernapasan, hingga fungsi tubuh manusia yang begitu kompleks sebagai karunia besar yang sering kali luput dari perhatian.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga iman dan takwa melalui amalan dasar seperti syahadat, shalat, dan puasa Ramadan. Ia juga mengingatkan bahwa menuntut ilmu agama merupakan kewajiban setiap muslim (fardhu ‘ain), baik dengan membaca Al-Qur’an, belajar kepada guru, maupun menghadiri majelis ilmu.

Pengajian yang semula dijadwalkan menghadirkan KH. Saifuddin, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Wahid, mengalami perubahan. Beliau berhalangan hadir dan mengutus putra pertamanya, Ustadz Wahid Ramadhan, Lc., M.A., untuk menyampaikan tausiyah kepada jamaah.

Dalam kajiannya, Ustadz Wahid mengangkat konsep “Empat S” sebagai kunci hidup bahagia, yaitu syukur, sabar, shalat, dan silaturahmi. Pada pertemuan kali ini, pembahasan difokuskan pada dua poin utama, yakni syukur dan sabar, sementara materi tentang shalat dan silaturahmi akan dilanjutkan pada pengajian selapanan berikutnya.

Ia menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh kemampuan mensyukuri nikmat yang telah dimiliki. Berbagai contoh disampaikan, mulai dari nikmat pendengaran, penglihatan, kesehatan, hingga nikmat besar yang sering dilupakan, yaitu Allah masih menutup aib dan dosa manusia. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain justru menjadi penyebab hilangnya rasa syukur.

Dalam kehidupan keluarga, ia juga menekankan pentingnya menjaga pandangan dan hati. Banyak permasalahan rumah tangga muncul bukan karena kekurangan pasangan, melainkan karena kurangnya rasa syukur dan tidak terjaganya pandangan dari hal-hal yang tidak baik.

Selain itu, sabar menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Setiap manusia pasti diuji, baik dalam ekonomi, kesehatan, maupun keluarga. Dengan kesabaran, seseorang tidak hanya mampu menghadapi masalah, tetapi juga mendapatkan pahala besar serta peningkatan derajat di sisi Allah.

Sebagai penguat, disampaikan pula doa yang diajarkan Nabi Musa saat menghadapi kesulitan besar ketika dikejar Firaun:
“Allahumma lakal hamdu, wa ilaikal mushtaka, wa antal musta’an, wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.”
Doa ini dianjurkan untuk dibaca ketika menghadapi kesulitan sebagai bentuk tawakal dan penghambaan kepada Allah.

Kisah Nabi Ayyub juga disebut sebagai teladan kesabaran, di mana beliau tetap teguh meski diuji dengan kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan, hingga akhirnya Allah menggantinya dengan kebaikan yang berlipat.

Pengajian ditutup dengan doa agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kemampuan untuk bersyukur dan bersabar, serta dikumpulkan kelak di surga bersama Nabi Muhammad SAW. Ditekankan bahwa semua nikmat berasal dari Allah, dan hanya kepada-Nya manusia kembali.

Pengajian ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus kehidupan modern, majelis ilmu seperti selapanan tetap menjadi oase spiritual yang menyejukkan hati dan memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.

(Epin Hidayat)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button