
Rajin Salat Tapi Batal Masuk Surga? Hati-hati ‘Kebangkrutan’ Amal yang Sering Diremehkan Ini
PURWOREJO — Banyak umat Islam merasa aman dengan jaminan surga hanya karena sudah rutin menjalankan salat lima waktu dan berpuasa. Padahal, ada satu ancaman mengerikan di akhirat yang luput dari perhatian: menjadi orang yang bangkrut total alias Muflis. Sebuah peringatan tajam baru-baru ini dibongkar, menyadarkan kita bahwa gunung pahala bisa ludes tak bersisa hanya karena satu penyakit lisan.
Pesan menohok ini disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Djundardo dari Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Temanggung. Beliau membedah rahasia ini dalam agenda Pengajian Ahad Pagi yang mengusung tema “Muhasabah Untuk Memaksimalkan Ibadah”.
Acara yang diinisiasi oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bagelen ini digelar di MI Muhammadiyah Krendetan pada Ahad Kliwon, 7 Juni 2026, sejak pukul 06.00 hingga 07.15 WIB. Sambil duduk lesehan dengan bersahaja menggunakan laptop di hadapan layar proyektor masjid, Ustadz Djundardo memaparkan materi kepada para jemaah yang hadir.
Tiga Syarat Mutlak dan Ancaman ‘Bangkrut’
Dalam tausiyahnya, Ustadz Djundardo menegaskan bahwa ikrar Syahadat adalah sebuah “kontrak suci” yang menuntut umat Islam menyerahkan hidup dan matinya hanya untuk Allah. Agar ibadah tidak bertepuk sebelah tangan, ada tiga standar kualitas mutlak: harus 100% Ikhlas, harus sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW (Ittiba’), dan harus menghadirkan hati yang khusyuk (Ihsan).
Namun, memenuhi ketiga syarat itu saja ternyata belum cukup untuk mengamankan tiket surga. Mengapa? Karena ibadah vertikal kepada Allah bisa seketika hancur lebur jika urusan horizontal dengan sesama manusia berantakan.
”Terkadang kita merasa amal sudah banyak, namun kenyataannya bisa jadi kita adalah orang yang bangkrut (Khasirun/Muflis),” tegasnya.
Kebangkrutan amal ini terjadi pada mereka yang rajin beribadah, namun lisannya gemar menyakiti orang lain, khususnya melalui ghibah (membicarakan aib orang). Di akhirat kelak, seluruh pahala puasa dan salat sang pengumpat akan ditransfer paksa kepada orang yang disakitinya. Tragisnya, jika pahalanya habis, dosa-dosa korban justru akan ditimpakan kepadanya hingga ia dilemparkan ke neraka.
Ritual 5 Menit Pengubah Takdir
Untuk mencegah malapetaka tersebut, Ustadz Djundardo memberikan sebuah jalan keluar (how) yang sangat sederhana namun berdampak masif: Muhasabah harian 5 menit sebelum tidur.
Ketimbang langsung memejamkan mata atau bermain ponsel, luangkan waktu sejenak di atas kasur untuk mengevaluasi dosa apa yang telah diperbuat hari ini. Segeralah beristigfar, dan yang paling krusial: maafkanlah kesalahan semua orang yang menyakiti Anda pada hari itu agar hati bersih dari dendam yang menggerogoti amal.
Mumpung kita masih berada di bulan Zulhijah dan sebentar lagi bulan Muharam yang mulia—di mana termasuk dalam bulan utama merupakan momen beramal saleh terbaik yang pahalanya setara jihad—rutinitas muhasabah 5 menit ini bisa menjadi perisai ampuh. Sudahkah Anda memaafkan orang lain malam ini sebelum tertidur?
Kontributor: Epin Hidayat



