Pendidikan

H. Dandung Danadi Tekankan Kepemimpinan Kolektif Kolegial, Guru Muhammadiyah Bayan Didorong Menjadi Teladan dan Penggerak Perubahan

PURWOREJO – Penguatan karakter kepemimpinan menjadi salah satu fokus dalam pelaksanaan In House Training (IHT) Perguruan Muhammadiyah Bayan yang berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kutoarjo, Senin (22/6/2026). Pada materi ketiga, peserta mendapatkan pembekalan tentang Kepemimpinan dalam Muhammadiyah yang disampaikan oleh H. Dandung Danadi, Anggota Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Mukhlisin Muhammadiyah PDM Purworejo.

Kegiatan yang diselenggarakan Perguruan Muhammadiyah Bayan tersebut diikuti oleh guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan ‘Aisyiyah se-Kecamatan Bayan. Peserta berasal dari KB dan TK ‘Aisyiyah Bayan, SD Muhammadiyah Bayan, SMP Muhammadiyah Jono, Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, serta SMA Muhammadiyah Purworejo.

Materi ini bertujuan meningkatkan pemahaman para pendidik dan tenaga kependidikan mengenai prinsip-prinsip kepemimpinan dalam Muhammadiyah, sehingga mampu menjadi pemimpin yang amanah, berintegritas, dan berorientasi pada kemajuan persyarikatan.

Dalam pemaparannya, Dandung Danadi menjelaskan bahwa visi kepemimpinan Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama yang adil, makmur, dan diridai Allah SWT.

Menurutnya, setiap pemimpin Muhammadiyah merupakan kader umat dan kader bangsa yang siap memikul amanah persyarikatan.

“Pemimpin Muhammadiyah adalah kader umat dan kader bangsa. Karena itu, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah untuk menggerakkan dakwah dan memajukan persyarikatan,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam Muhammadiyah memiliki karakter kolektif kolegial. Setiap keputusan dan kebijakan tidak diambil secara sepihak, melainkan melalui musyawarah bersama.

“Dalam Muhammadiyah tidak ada kepemimpinan yang otoriter. Semua keputusan diputuskan secara kolektif kolegial melalui musyawarah,” katanya.

Selain menjunjung musyawarah, pemimpin Muhammadiyah juga wajib mematuhi aturan organisasi sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Muhammadiyah. Menurut Dandung, seluruh pimpinan yang terpilih melalui mekanisme musyawarah harus menjalankan amanat organisasi dengan penuh tanggung jawab.

Ia menambahkan bahwa seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

“Pemimpin itu harus menjadi contoh. Tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi harus menunjukkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Memahami Ideologi dan Organisasi Muhammadiyah
Dalam kesempatan tersebut, Dandung Danadi juga menjelaskan struktur organisasi Muhammadiyah mulai dari tingkat pusat hingga internasional.

Menurutnya, struktur tersebut terdiri atas Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), hingga Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri.

Ia menekankan bahwa setiap kader yang diberi amanah memimpin harus memahami ajaran Islam sesuai paham Muhammadiyah dan memiliki wawasan ideologis yang kuat.

“Pemimpin Muhammadiyah harus memahami Islam secara mendalam sesuai dengan paham Muhammadiyah. Selain itu juga memahami Muqaddimah Anggaran Dasar
Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah,” jelasnya.

Menurut Dandung, seorang pemimpin juga harus memiliki dedikasi tinggi terhadap pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun pelayanan sosial.

Secara tidak langsung, ia mengingatkan bahwa keberadaan Amal Usaha Muhammadiyah merupakan sarana dakwah yang harus dikelola secara profesional dan penuh tanggung jawab.

Kepemimpinan Adalah Kemampuan Mengorkestrasi
Dandung menjelaskan bahwa kepemimpinan pada hakikatnya merupakan kemampuan membangun relasi dan mengelola manusia agar dapat bergerak menuju tujuan bersama.

“Berbicara kepemimpinan berarti berbicara tentang relasi antara satu dengan yang lain. Di situ ada komunikasi dan manajemen,” katanya.

Ia mengibaratkan seorang pemimpin seperti dirigen yang mengorkestrasi berbagai instrumen agar menghasilkan harmoni yang indah.

“Pimpinan itu mengorkestrasi semuanya agar dapat berjalan dengan baik. Karena itu, komunikasi antara pemimpin dengan yang dipimpin harus berjalan dengan baik pula,” ujarnya.

Menurutnya, komunikasi yang efektif dan keteladanan merupakan dua unsur penting dalam keberhasilan kepemimpinan.

“Harus ada keteladanan dari yang memimpin. Jangan hanya memerintah, tetapi juga memberi contoh,” tegasnya.

Ruh Guru Lebih Penting dari Metode Mengajar
Dalam materi yang disampaikan, Dandung Danadi juga mengingatkan para peserta bahwa pendidikan bukan hanya soal metode pembelajaran, melainkan juga tentang kepribadian dan keteladanan seorang guru.

“Materi pembelajaran itu penting, tetapi cara mengajar lebih penting. Cara mengajar penting, tetapi guru lebih penting. Dan guru itu penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah ruh sebagai seorang pendidik,” katanya.

Menurutnya, semangat, keikhlasan, dan keteladanan guru menjadi faktor utama dalam membentuk karakter peserta didik.

Ia mengajak para guru untuk belajar dari kisah para nabi, seperti Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS, dan Nabi Ya’qub AS, yang berhasil mendidik keluarga dan generasi penerus dengan kesabaran, komunikasi, serta keteladanan.

“Para nabi memberikan pelajaran kepada kita bahwa pendidikan harus dilakukan dengan kasih sayang, komunikasi yang baik, dan keteladanan,” ungkapnya.

Pendidikan Anak Sesuai Tahapan Usia
Pada kesempatan tersebut, Dandung juga membagikan pandangan mengenai pola pendidikan anak berdasarkan tahapan usia.

Menurutnya, usia anak 0-7 tahun merupakan masa bermain yang harus dimanfaatkan orang tua dan guru untuk mengenalkan aturan dengan cara yang menyenangkan.

“Ajaklah bermain anak-anak hingga usia tujuh tahun, tetapi tetap dikenalkan aturan bermain yang baik,” katanya.

Selanjutnya, pada usia 8-14 tahun, anak perlu dibiasakan dengan kedisiplinan dalam belajar dan beribadah.

“Pada usia delapan sampai empat belas tahun, anak harus dididik secara disiplin, kapan waktunya belajar dan kapan waktunya beribadah,” ujarnya.

Sedangkan pada usia 15-21 tahun, pendekatan yang dilakukan harus lebih bersifat persahabatan.

“Ketika usia lima belas hingga dua puluh satu tahun, jadikan mereka sebagai sahabat. Dengan begitu komunikasi akan terjalin lebih baik,” jelasnya.

Hidup-Hidupilah Muhammadiyah
Pada akhir pemaparannya, Dandung Danadi mengingatkan para peserta untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai ladang pengabdian, bukan sekadar tempat mencari keuntungan.

Ia mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, yang hingga kini terus menjadi spirit perjuangan warga persyarikatan.

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” ujarnya.

Pesan tersebut, menurutnya, mengandung makna bahwa seluruh kader Muhammadiyah harus memiliki keikhlasan dalam berjuang dan menjadikan persyarikatan sebagai sarana ibadah serta pengabdian kepada umat.

Melalui materi kepemimpinan tersebut, para guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Kecamatan Bayan diharapkan semakin memahami jati diri kepemimpinan Muhammadiyah yang kolektif kolegial, berlandaskan nilai-nilai Islam, serta mengedepankan komunikasi dan keteladanan.

Dengan penguatan kepemimpinan tersebut, Perguruan Muhammadiyah Bayan optimistis mampu melahirkan guru-guru yang tidak hanya profesional dalam mengajar, tetapi juga menjadi pemimpin yang mampu menggerakkan perubahan dan memajukan Amal Usaha Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan.

Kontributor: A.M. Musdani

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button