
PRM Dadirejo Gelar Pengajian Rutin, PCM Bagelen: Istikamah Luar Biasa
PURWOREJO – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Dadirejo menggelar pengajian rutin di Musholla Assofiyah Dadirejo, Jumat (3/7/2026) / 18 Muharam 1448 H. Kegiatan yang berlangsung pukul 20.00-22.00 WIB itu dihadiri jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen bersama jamaah setempat.
Acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan PRM Dadirejo, dilanjutkan sambutan dari PCM Bagelen, sebelum masuk ke sesi inti berupa pengajian yang disampaikan oleh Ustaz H Dandung Danadi.
Dalam sambutannya, perwakilan PRM Dadirejo, Bapak Edi Legowo, menyampaikan terima kasih kepada jajaran PCM Bagelen, PCPM Bagelen dan seluruh jamaah yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, perwakilan PCM Bagelen, Ikhwan, S.Pd.I, memberikan apresiasi kepada PRM Dadirejo yang dinilai konsisten menyelenggarakan pengajian secara rutin.
“Pihak PCM memberikan apresiasi tinggi kepada Pimpinan Ranting Muhammadiyah Dadirejo karena dinilai luar biasa, tetap aktif, dan istikamah dalam menyelenggarakan kegiatan pengajian secara rutin,” kata Ikhwan, saat memberi sambutan di Musholla Assofiyah Dadirejo, Jumat (3/7/2026).
Ustaz Ikhwan turut menekankan pentingnya menuntut ilmu bagi setiap muslim. Menurutnya, ibadah seperti salat, puasa, dan haji tidak akan diterima apabila dilakukan tanpa dilandasi ilmu yang benar.
Materi Pengajian: Trilogi Iman, Hijrah, dan Jihad
Memasuki tahun baru 1448 Hijriah, Ustaz H Dandung Danadi mengajak jamaah merefleksikan makna hijrah. Menurutnya, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan trilogi spiritual yang saling terkait, yakni iman, hijrah, dan jihad.
Ia merujuk pada Surah At-Taubah ayat 20-22 yang menjanjikan derajat tinggi serta balasan berupa rahmat, keridaan, dan surga bagi mereka yang memadukan ketiga elemen tersebut dalam perjuangan hidup, baik dengan harta maupun jiwa.
Ustaz Dandung menjelaskan, hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yatsrib / Madinah bukan keputusan acak. Ia menyebut tiga alasan mendasar di balik peristiwa itu: perintah wahyu Allah, perlindungan umat Islam dari kezaliman kaum kafir Quraisy, serta jaminan keamanan dari penduduk Madinah yang saat itu merindukan sosok pemimpin pemersatu.
Kalender Islam dan Perbedaan Rukyat-Hisab
Dalam paparannya, Ustaz Dandung juga menyinggung soal penataan waktu dalam Islam. Ia mengutip Surah At-Taubah ayat 36 yang menyebut jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas, dengan empat di antaranya dimuliakan.
Ketetapan itu, lanjutnya, dipertegas dalam Surah Yunus ayat 5 tentang matahari dan bulan yang diciptakan dengan garis edar masing-masing agar manusia dapat menghitung tahun dan waktu. Surah Al-Isra ayat 12 juga disebut menjelaskan fungsi siang sebagai waktu mencari karunia Allah dan malam sebagai waktu istirahat.
Soal perbedaan metode penentuan awal bulan antara rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomis), Beliau menegaskan hal itu bukan alasan untuk berpecah belah, melainkan bukti keluasan syariat Islam yang memberi ruang ijtihad.
Ia mencontohkan sabda Nabi Muhammad SAW soal kondisi cuaca, yakni bila hilal tertutup awan maka hitungan bulan dilakukan dengan metode lain. Prinsip ini, menurutnya, menunjukkan ilmu hisab sebagai karunia Allah yang memungkinkan umat Islam menentukan waktu ibadah secara presisi.
Pentingnya Muhasabah di Tahun Baru Hijriah
Ustaz Dandung mengingatkan, momentum tahun baru Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk bermuhasabah atau mengevaluasi diri. Ia mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18-19 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa dan memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk kehidupan akhirat.
Muhasabah diri, kata dia, merupakan langkah penting untuk memperbaiki arah hidup mengingat kehidupan dunia hanya bersifat sementara.
Ia menambahkan, hijrah dalam konteks kekinian harus dimaknai sebagai proses transformasi diri yang berkelanjutan, yakni berpindah dari syirik menuju iman, dari maksiat menuju ketaatan, dan dari sifat kikir menuju kedermawanan.
Tiga Pilar Menjaga Istiqomah
Sebagai penutup materi, Ustaz Dandung menyampaikan bahwa kunci dari muhasabah dan hijrah adalah istiqomah atau keteguhan hati. Ia mengutip Surah Fushshilat ayat 30 yang menyebut malaikat akan turun menenangkan orang-orang yang beriman dan istiqomah agar tidak takut dan bersedih, serta memberi kabar gembira berupa surga.
Untuk menjaga istiqomah, Beliau menyebut tiga pilar yang perlu dipegang, yaitu konsistensi menuntut ilmu agar tidak dikuasai hawa nafsu, memilih lingkungan pergaulan yang mendukung kebaikan, serta senantiasa berdoa agar Allah meneguhkan hati dalam agama-Nya.
Ia menutup pengajian dengan mengajak jamaah melafalkan doa memohon keteguhan hati, Yā muqallibal-qulūbi tsabbit qalbī ‘alā dīnik yang artinya kurang lebih: “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Pengajian PRM Dadirejo yang berkolaborasi dengan PCM Bagelen ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai sarana penguatan iman sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga Muhammadiyah di wilayah Bagelen.
Kontributor: Epin Hidayat



