Pendidikan

Bangun Sinergi dan Tingkatkan Mutu Pendidikan Pesantren, MBS Purworejo Gelar In House Training Bersama SMA Muhammadiyah Kutoarjo

PURWOREJO – Muhammadiyah Boarding School (MBS) Purworejo menggelar In House Training (IHT) bagi guru, ustaz, dan ustazah pada Jumat (3/7/2026) di Kampus SMA Muhammadiyah Kutoarjo. Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–11.30 WIB tersebut menghadirkan kolaborasi antara tenaga pendidik MBS Purworejo dan guru SMA Muhammadiyah Kutoarjo dengan mengusung tema “Membangun Sinergi, Meningkatkan Mutu, Mewujudkan Generasi Emas.”

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan sekolah Muhammadiyah, khususnya di Muhammadiyah Boarding School Purworejo dan SMA Muhammadiyah Kutoarjo. Melalui pelatihan ini, para pendidik diharapkan mampu memperkuat kompetensi, memperluas wawasan, serta membangun semangat kolaborasi dalam menghadapi tantangan pendidikan yang semakin dinamis.

Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purworejo, Drs. H. Pujiono, serta Kepala SMK Muhammadiyah Purwodadi, Sumarjo, S.Fil., M.Ed., yang dikenal sebagai salah satu praktisi pendidikan Muhammadiyah berprestasi di Kabupaten Purworejo maupun Jawa Tengah.

Acara berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Para peserta mengikuti setiap sesi dengan semangat, menyimak berbagai nasihat, motivasi, dan pengalaman inspiratif yang disampaikan kedua narasumber.

Dalam sesi pertama, Drs. H. Pujiono menekankan lima karakter utama yang harus dimiliki oleh seorang pendidik Muhammadiyah, yaitu jiwa ikhlas, kapasitas, integritas, kolaborasi, dan literasi.

Menurutnya, keikhlasan merupakan fondasi utama yang harus dimiliki setiap guru Muhammadiyah. Seorang pendidik tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam pengabdian kepada persyarikatan dan masyarakat. Pesan tersebut diperkuat dengan nasihat pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, “Dadio Kiai sing berkemajuan, ojo kesel-kesel anane nyambut gawe nang Muhammadiyah.”

Beliau juga mengingatkan bahwa peserta didik tidak boleh diposisikan sekadar sebagai objek pendidikan. Sebaliknya, siswa harus menjadi subjek yang aktif dilibatkan dalam setiap proses pembelajaran maupun kegiatan sekolah sehingga tercipta pendidikan yang holistik dan berpusat pada peserta didik.

Selain keikhlasan, kapasitas guru harus terus ditingkatkan melalui kompetensi nyata, bukan hanya dibuktikan dengan ijazah. Guru diharapkan mampu memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan peserta didik maupun kemajuan sekolah.

Aspek integritas juga menjadi perhatian penting. Loyalitas kepada sekolah, tugas, dan Persyarikatan Muhammadiyah, menurutnya, tidak semata-mata diukur dari besarnya penghargaan materi yang diterima, melainkan dari niat mendidik sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt.

Lebih lanjut, beliau menegaskan pentingnya membangun budaya kolaborasi. Setiap guru perlu bekerja sama dengan berbagai unsur, termasuk sesama pendidik, peserta didik, orang tua, dan masyarakat. Sebab, kemajuan tidak dapat dicapai secara individual, melainkan melalui sinergi berbagai pihak.

Poin terakhir yang disampaikan adalah pentingnya meningkatkan literasi dan semangat belajar sepanjang hayat. Menurutnya, tantangan dunia pendidikan akan terus berkembang sehingga guru Muhammadiyah dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Pada akhir penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa salah satu indikator kemajuan sebuah sekolah adalah adanya keunggulan atau ciri khas yang mampu menjadi pembeda sekaligus meningkatkan daya saing lembaga pendidikan.

Pada sesi kedua, Sumarjo, S.Fil., M.Ed. membagikan pengalaman panjangnya dalam membangun SMK Muhammadiyah Purwodadi hingga menjadi salah satu sekolah unggulan yang mampu bersaing di tingkat nasional. Ia menceritakan bagaimana sekolah yang dahulu hanya memiliki tiga peserta didik mampu berkembang menjadi sekolah favorit dengan jumlah siswa mencapai ratusan.

Keberhasilan tersebut, menurutnya, tidak diraih secara instan, melainkan melalui kerja keras, inovasi, konsistensi, dan semangat pantang menyerah dalam mengembangkan pendidikan Muhammadiyah.

Dalam paparannya, Sumarjo menyampaikan tiga strategi utama untuk memajukan sekolah. Pertama, melakukan asesmen diagnosis, yaitu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sekolah sebagai dasar penyusunan program pengembangan. Kedua, melibatkan konsultan dan tim ahli untuk memberikan masukan objektif dalam menemukan keunggulan sekolah yang unik, relevan, dan memiliki daya tarik bagi masyarakat. Ketiga, membangun komitmen seluruh warga sekolah untuk berjuang bersama mewujudkan visi dan program yang telah dirancang.

Pelaksanaan In House Training selama kurang lebih empat jam tersebut terasa singkat karena tingginya antusiasme peserta dan materi yang disampaikan mampu membangkitkan semangat para guru, ustaz, dan ustazah. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat kualitas pendidikan Muhammadiyah melalui peningkatan kompetensi pendidik, penguatan kolaborasi, serta lahirnya berbagai inovasi di lingkungan sekolah dan pesantren.

Dengan semangat kebersamaan, Muhammadiyah Boarding School Purworejo dan SMA Muhammadiyah Kutoarjo optimistis dapat terus meningkatkan mutu pendidikan serta melahirkan generasi emas yang unggul, berkarakter, dan berkemajuan sesuai cita-cita Persyarikatan Muhammadiyah.

Kontributor: Husein – MBS Purworejo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button