
Bangun Jiwa Kepesantrenan, Nurrosyid Huda Ajak Guru Muhammadiyah Bayan Menanamkan Keikhlasan sebagai Ruh Pendidikan
PURWOREJO – Nilai-nilai kepesantrenan tidak hanya menjadi ciri khas lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun karakter pendidik di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Pesan tersebut mengemuka dalam sesi kelima In House Training (IHT) Perguruan Muhammadiyah Bayan yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kutoarjo, Selasa (23/6/2026).
Materi bertajuk “Jiwa Kepesantrenan” disampaikan oleh Dr. (Cand.) Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, S.Th.I., MIRKH., Direktur Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan Purworejo. Kegiatan ini diikuti guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Kecamatan Bayan, mulai dari KB dan TK ‘Aisyiyah Bayan, SD Muhammadiyah Bayan, SMP Muhammadiyah Jono, Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, hingga SMA Muhammadiyah Purworejo.
Materi tersebut bertujuan memperkuat karakter guru melalui internalisasi nilai-nilai kepesantrenan sehingga mampu melahirkan pendidik yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki ruh pengabdian dan keikhlasan dalam menjalankan amanah pendidikan.
Mengawali pemaparannya, Nurrosyid Huda mengutip nasihat almarhum KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A., Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, yang menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh materi maupun metode pembelajaran.
“Materi pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi metode pembelajaran jauh lebih penting daripada materi pembelajaran. Metode pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi guru jauh lebih penting daripada metode pembelajaran. Dan jiwa (ruh) seorang guru lebih penting daripada guru itu sendiri,” kutipnya.
Menurutnya, pesan tersebut mengandung makna bahwa kualitas pendidikan sesungguhnya bertumpu pada kualitas ruh seorang pendidik.
“Yang paling menentukan keberhasilan pendidikan bukan sekadar kurikulum atau metode, melainkan jiwa seorang guru. Ketika ruh guru hidup dengan nilai keikhlasan, maka pendidikan akan melahirkan generasi yang berkarakter,” ujarnya.
Pertemuan Dua Jiwa
Nurrosyid menjelaskan bahwa proses pendidikan sejatinya merupakan pertemuan dua jiwa, yakni jiwa guru dan jiwa murid.
Menurutnya, hubungan tersebut hanya akan menghasilkan pendidikan yang bermakna apabila dilandasi keikhlasan dari kedua belah pihak.
“Guru harus ikhlas mendidik, sedangkan murid harus ikhlas dididik. Ketika dua jiwa itu bertemu dalam keikhlasan, di situlah lahir keberkahan ilmu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa filosofi pendidikan Islam bukanlah hubungan transaksional antara pemberi dan penerima ilmu.
Dengan penuh penekanan, ia menyampaikan prinsip yang harus dipegang oleh setiap pendidik.
“To give, to give, and to give. Bukan give to take atau take and give. Filosofi pendidikan bukan filosofi dagang, tetapi filosofi pengabdian kepada Allah SWT,” tegasnya.
Menurutnya, keikhlasan berarti mengosongkan hati dari kepentingan selain mengharap ridha Allah SWT.
Sementara itu, dari sudut pandang murid, keikhlasan diwujudkan melalui kerelaan menerima bimbingan guru dengan penuh hormat sebagaimana ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Man ‘allamani harfan sirtu lahu ‘abdan” (barang siapa mengajarkan kepadaku satu huruf, maka aku menjadi hambanya).
Guru Melahirkan Peradaban
Dalam penyampaiannya, Nurrosyid juga mengajak peserta belajar dari sejarah Islam di Nusantara melalui sosok Syekh Sholeh Darat.
Menurutnya, satu orang guru mampu melahirkan banyak tokoh besar yang memberikan warna berbeda bagi bangsa Indonesia.
Ia menyebut KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan Raden Ajeng Kartini sebagai murid-murid Syekh Sholeh Darat yang kemudian menjadi pelopor gerakan besar di bidang keagamaan, pendidikan, dan emansipasi perempuan.
“Ini menunjukkan bahwa satu guru dapat melahirkan berbagai gelombang perubahan. Guru yang baik akan melahirkan peradaban,” ujarnya.
Pesantren sebagai Kawah Candradimuka Karakter
Nurrosyid menjelaskan bahwa pesantren bukan hanya tempat tinggal para santri, tetapi merupakan lembaga pendidikan Islam yang membentuk karakter melalui kehidupan bersama.
Mengutip pandangan KH Imam Zarkasyi, ia menerangkan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan berasrama dengan kiai sebagai figur sentral, masjid sebagai pusat kehidupan, serta pengajaran agama Islam sebagai ruh seluruh aktivitasnya.
Menurutnya, sistem pendidikan pesantren memiliki kekuatan utama pada pembentukan karakter melalui pembiasaan hidup sehari-hari.
“Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui teori. Karakter dibentuk melalui budaya, keteladanan, dan kehidupan bersama,” jelasnya.
Panca Jiwa Pondok
Pada kesempatan tersebut, Nurrosyid menguraikan lima nilai utama atau Panca Jiwa yang menjadi fondasi pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Kelima nilai tersebut meliputi keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan yang bertanggung jawab.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut tidak boleh berubah oleh perkembangan zaman.
“Nilai boleh dikembangkan, tetapi ruhnya jangan sampai hilang. Panca Jiwa merupakan fondasi pendidikan pesantren yang harus terus dijaga,” katanya.
Menurutnya, jiwa keikhlasan merupakan inti dari seluruh aktivitas pendidikan.
Segala amal dilakukan semata-mata karena Allah SWT tanpa mengharapkan keuntungan duniawi.
“Kiai ikhlas mendidik, para guru ikhlas mengajar, dan santri ikhlas belajar. Suasana seperti inilah yang melahirkan keberkahan pendidikan,” ujarnya.
Kesederhanaan Melahirkan Ketangguhan
Nurrosyid juga menjelaskan bahwa kesederhanaan bukan berarti hidup dalam kemiskinan atau menerima keadaan tanpa ikhtiar.
Sebaliknya, kesederhanaan menjadi sarana membangun kekuatan mental, pengendalian diri, serta ketangguhan menghadapi tantangan kehidupan.
“Di balik kesederhanaan terdapat jiwa besar, keberanian menghadapi tantangan, dan karakter yang kuat,” katanya.
Ia menilai karakter tersebut sangat penting dimiliki guru agar mampu menjadi teladan bagi peserta didik.
Berdikari dan Ukhuwah
Nilai berikutnya adalah berdikari atau kemampuan menolong diri sendiri.
Menurut Nurrosyid, pesantren mendidik santri agar tidak bergantung kepada orang lain, baik dalam kehidupan pribadi maupun kelembagaan.
“Pesantren mengajarkan kemandirian. Santri belajar mengurus dirinya sendiri, sementara lembaga juga dibangun agar mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri,” jelasnya.
Selain itu, kehidupan pesantren juga dibangun di atas semangat ukhuwah Islamiyah.
Ia mengatakan bahwa suasana persaudaraan menjadi salah satu kekuatan utama dalam membentuk karakter santri.
“Tidak ada sekat di antara mereka. Semua hidup dalam kebersamaan, saling membantu, dan saling menguatkan,” ujarnya.
Kebebasan yang Bertanggung Jawab
Nurrosyid menjelaskan bahwa kebebasan dalam pesantren bukan berarti tanpa aturan.
Sebaliknya, kebebasan dimaknai sebagai kemampuan berpikir, menentukan masa depan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab dalam koridor nilai-nilai Islam.
“Kebebasan harus tetap berada pada garis-garis yang positif. Jangan sampai kebebasan berubah menjadi liberalisme yang kehilangan arah dan prinsip,” tegasnya.
Menurutnya, nilai tersebut sangat relevan diterapkan dalam dunia pendidikan modern agar peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang mandiri sekaligus bertanggung jawab.
Pesantren Muhammadiyah Harus Tetap Berideologi
Pada akhir penyampaiannya, Nurrosyid mengingatkan bahwa perkembangan pesantren Muhammadiyah yang semakin pesat harus diimbangi dengan penguatan ideologi persyarikatan.
Ia mengajak seluruh guru dan pengelola pesantren untuk tetap menjadikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Kepribadian Muhammadiyah, serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) sebagai pedoman utama.
“Dengan semakin banyaknya pesantren Muhammadiyah, kita harus berwaspada agar tidak keluar dari ide dan cita-cita gerakan ini. Nilai-nilai yang diwariskan para pendiri Muhammadiyah harus tetap menjadi fondasi dalam setiap langkah pendidikan,” pesannya.
Melalui materi Jiwa Kepesantrenan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep pendidikan pesantren, tetapi juga diajak menghidupkan nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, persaudaraan, dan kebebasan yang bertanggung jawab dalam kehidupan sebagai pendidik.
Perguruan Muhammadiyah Bayan berharap nilai-nilai tersebut mampu memperkuat karakter guru dan karyawan sehingga semakin profesional dalam menjalankan amanah pendidikan sekaligus menjadi teladan bagi peserta didik serta berkontribusi dalam mewujudkan Amal Usaha Muhammadiyah yang unggul, berkemajuan, dan tetap kokoh berpijak pada ideologi Muhammadiyah.
Kontributor: A.M. Musdani



