Agama

Kupas Tuntas Generasi Ulul Albab, Ratusan Jamaah Padati Pengajian Ahad Pagi PCM Bagelen

PURWOREJO – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen sukses menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi dengan tema “Mewujudkan Generasi Ulul Albab” pada Ahad (2/8/2026) atau bertepatan dengan 19 Shafar 1447 H. Bertempat di SMP Muhammadiyah Bagelen, kegiatan yang dimulai pukul 06.00 WIB ini menghadirkan Ustadz Dr. H. Iyus Herdiana Saputra, M.S.I. sebagai penceramah utama.

Berdasarkan pantauan di lokasi, pengajian berlangsung khidmat dengan antusiasme tinggi. Ratusan jamaah dari berbagai kalangan usia, mulai dari pelajar hingga lansia, memadati area sekolah. Jamaah putra tampak duduk rapi beralaskan karpet hijau memanjang di area selasar, sementara jamaah putri memenuhi ruangan kelas utama yang difasilitasi tempat duduk dan spanduk kegiatan.

Empat Nikmat yang Sering Terlupakan

Dalam tausiyahnya, Ustadz Iyus Herdiana mengingatkan jamaah akan pentingnya mensyukuri empat kenikmatan dasar yang kerap dilupakan oleh manusia ketika sedang berada dalam kondisi lapang.

​”Yang paling tahu nikmatnya sehat adalah orang sakit. Nikmatnya masa muda dirasakan oleh orang yang sudah tua. Nikmatnya rasa aman diketahui oleh mereka yang terkena bencana. Dan nikmatnya hidup, baru disadari nilainya oleh orang yang sudah meninggal,” tegas Ustadz Iyus.

Ia juga menasihati jamaah agar tidak menyia-nyiakan waktu dan memastikan bahwa keimanan tidak hanya diucapkan di lisan, melainkan dibuktikan secara nyata melalui amal saleh.

Kriteria Generasi Ulul Albab dan Ketertinggalan Teknologi

Memasuki tema utama, Ustadz Iyus merujuk pada Surat Ali Imran ayat 190-191 sebagai landasan dasar pendidikan karakter Ulul Albab. Ia menyoroti fenomena umat Islam saat ini yang mengalami ketertinggalan di bidang sains dan teknologi akibat kurangnya porsi kajian terhadap ayat-ayat kauniyah.

​”Di dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 800 ayat kauniyah yang membahas tentang alam semesta, astronomi, biologi, hingga fisika. Namun, pendidikan kita seringkali didominasi oleh ilmu fikih saja. Padahal penguasaan ayat kauniyah inilah yang melahirkan kemajuan teknologi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia merinci tiga karakter utama yang harus dimiliki oleh Ulul Albab. Pertama, memiliki ketakwaan yang murni, di mana rasa takut hanya ditujukan kepada Allah SWT, bukan kepada manusia atau ancaman kemiskinan. Kedua, senantiasa berdzikir dan bertafakur (mengingat Allah) dalam segala postur dan kondisi—baik saat berdiri, duduk, maupun berbaring. Ketiga, kemampuan untuk selalu mengambil pelajaran (i’tibar) dari setiap tanda penciptaan langit dan bumi.

Kritik Pencucian Uang Haram Melalui Sedekah

Dalam upaya meraih kehidupan yang sejahtera (hayatan thayyibah), Ustadz Iyus menekankan pentingnya mencari rezeki yang berstatus halal dan thayyib, serta menanamkan sifat qana’ah. Ia secara tegas mengkritik praktik oknum yang mencoba mencuci uang hasil kejahatan dengan kedok bersedekah.

​”Korupsi satu miliar, lalu sedekahnya 250 juta biar dianggap bersih. Itu konsep yang salah. Bersedekah dengan uang haram sama saja dengan bersuci menggunakan air comberan. Amalannya tidak sah dan tidak diterima oleh Allah SWT,” kecamnya.

Rangkaian kegiatan pengajian ditutup pada pukul 07.15 WIB. Panitia turut mengumumkan laporan keuangan yang mencatat perolehan infak pengajian pagi itu sebesar Rp1.079.000. Di penghujung acara, jamaah juga diundang untuk turut meramaikan agenda lanjutan berupa Pengajian Akbar Hari Bermuhammadiyah dan Launching Desa Keduren Kampung Aren.

Kontributor: Epin Hidayat

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button