Agama

LIPUTAN LANGSUNG DARI MAKKAH: Mengapa Jemaah Purworejo Tunda Tawaf hingga Malam?

Purworejo – Rombongan jemaah haji Kloter 24 asal Purworejo dari Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA) yang tiba di Makkah pada Selasa (19/5/2026) pukul 10.00 WAS menerapkan strategi jeda istirahat di maktab dalam balutan kain ihram. Langkah edukatif ini diambil untuk mengembalikan kebugaran fisik jemaah agar pelaksanaan umrah wajib pada pukul 22.00 WAS berjalan khusyuk, serta memenuhi seluruh syarat dan rukunnya dengan sempurna.

Tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah melakukan imigrasi, visa dan paspor

Ujian Kesabaran Sejak di Bandara hingga Maktab

Banyak masyarakat awam membayangkan bahwa jemaah haji akan langsung berlari menuju Ka’bah begitu tiba di Tanah Suci. Namun, realita di lapangan menuntut strategi fisik dan spiritual yang jauh lebih bijaksana. Hal ini dibuktikan oleh 348 jemaah calon haji Purworejo Kloter 24, di mana 83 jemaah di antaranya berada di bawah bimbingan KBIHU Muhammadiyah Al-Mukhlisin.

Perjuangan rombongan ini terekam jelas sejak mereka mengantre di area Passport Control Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Wajah-wajah lelah usai penerbangan belasan jam dari Tanah Air tampak nyata, namun mereka tetap menjaga postur ketaatan dalam balutan kain ihram. Di dalam bus yang membelah malam menuju kota Makkah, jemaah tampak duduk tertib sembari terus melantunkan talbiyah. Setibanya di sana, rombongan memilih bertolak ke maktab terlebih dahulu untuk mengistirahatkan fisik, namun dengan tetap disiplin menjaga ketat seluruh larangan ihram (seperti tidak memakai wewangian, sabun beraroma, dan menjaga pakaian tak berjahit bagi laki-laki).

Tawaf di Masjidil Haram

Syarat dan Rukun Tawaf: Kesyahduan di Bawah Langit Malam
Kesabaran jemaah menjaga ihram di kamar hotel akhirnya terbayar lunas. Tepat pukul 22.00 Waktu Arab Saudi (WAS), rombongan bergerak menuju Masjidil Haram. Pemilihan waktu malam hari ini terbukti sebagai strategi cerdas. Udara yang sejuk sangat membantu jemaah menjaga konsentrasi untuk memenuhi syarat sah Tawaf, yang mengharuskan jemaah suci dari hadats (menjaga wudhu) dan najis, serta menutup aurat dengan sempurna.

Di bawah pendaran lampu Abraj Al-Bait (Clock Tower), jemaah mulai melaksanakan rukun Tawaf. Dengan niat yang ikhlas, mereka mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran penuh. Tim pembimbing KBIHU Al-Mukhlisin memastikan syarat lainnya terpenuhi dengan ketat, yakni memastikan posisi Ka’bah selalu berada di sebelah kiri jemaah dan putaran dimulai sejajar dengan garis Hajar Aswad. Suasana malam yang tak terlalu terik membuat rangkaian rukun ini berjalan sangat presisi dan khusyuk merujuk pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah.

Pelaksanaan sai

Meneladani Siti Hajar: Memahami Syarat dan Rukun Sa’i
Setelah menyempurnakan 7 putaran Tawaf, lautan manusia berseragam putih itu melanjutkan pergerakan ke area Masaa untuk melaksanakan Sa’i. Bagi pembaca awam, syarat sah Sa’i sangat jelas: harus dilakukan setelah pelaksanaan Tawaf dan harus dilakukan di tempat yang telah ditentukan (lintasan antara bukit Shafa dan Marwah).

Di sinilah fisik yang telah diistirahatkan di maktab benar-benar diuji. Jemaah melaksanakan rukun Sa’i, yakni berjalan (dan berlari kecil bagi laki-laki di batas lampu hijau) sebanyak tujuh kali perjalanan. Dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah. Deru doa dan zikir menggema di sepanjang lintasan berlantai pualam tersebut, meneladani perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya.

Salah satu jamaah almukhlisin melakukan Tahallul

Tahallul: Titik Puncak Kelegaan Umrah Wajib

Rangkaian ibadah yang menguras emosi dan tenaga ini ditutup dengan prosesi pamungkas, yakni Tahallul. Dalam umrah, syarat dan rukun Tahallul adalah memotong atau mencukur rambut (minimal tiga helai) yang dilakukan setelah seluruh rangkaian Sa’i selesai.

Momen ini terekam penuh haru. Jemaah saling bantu memotong rambut sesama saudaranya. Begitu helaian rambut terpotong, rukun umrah telah purna dan seluruh larangan ihram pun gugur. Kelegaan luar biasa memancar dari raut wajah jemaah KBIHU Al-Mukhlisin. Strategi jeda istirahat di hotel terbukti sukses mengantarkan tamu-tamu Allah ini merampungkan ibadah pembuka mereka tanpa mengorbankan kualitas kesehatan maupun kesempurnaan syarat dan rukun syariat.

Pantau terus laporan terkini dan terlengkap setiap hari, kabar jemaah haji KBIHU Muhammadiyah Al-Mukhlisin Kloter 24, langsung dari Tanah Suci.

Kontributor: KBIHU Muhammadiyah Al-Mukhlisin Purworejo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button