
Tadabbur Alam Islamic Camp SMP Muhammadiyah Bagelen, Daki Gunung Butak Sambil Menumbuhkan Kepedulian terhadap Alam
PURWOREJO – Menapaki jalur pendakian, mengenal jejak sejarah, hingga merefleksikan kebesaran Allah Swt. menjadi bagian dari pengalaman peserta didik SMP Muhammadiyah Bagelen dalam kegiatan Tadabbur Alam Islamic Camp, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan rutin bulanan ini dilaksanakan di kawasan Gunung Butak, Desa Tlogokotes, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, sebagai upaya menghadirkan pembelajaran bermakna di luar ruang kelas.
Tidak sekadar mendaki gunung, kegiatan ini menjadi sarana menanamkan nilai-nilai keislaman, membangun kedisiplinan, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Zuhur berjamaah di Masjid Darussalam, Desa Tlogokotes. Rombongan disambut Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen, Bapak Rohadi, S.E, bersama tokoh Muhammadiyah dan masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Bapak Rohadi memberikan motivasi kepada para siswa agar terus bersemangat dalam menuntut ilmu dan memiliki kebanggaan menjadi bagian dari keluarga besar Muhammadiyah.
“Anak-anak harus selalu semangat belajar, jangan pernah minder bersekolah di Muhammadiyah. Manfaatkan setiap kesempatan untuk menambah ilmu, memperbaiki diri, dan menjadi generasi yang berakhlak mulia,” pesannya kepada para peserta.
Ia juga mengingatkan bahwa kegiatan pendakian bukan semata-mata tentang mencapai puncak, melainkan kesempatan untuk belajar menjaga sikap, menghormati lingkungan, dan menaati aturan.
“Ketika berada di alam terbuka, jagalah adab dan perilaku. Jangan merusak lingkungan, jangan membuang sampah sembarangan, dan selalu ikuti arahan pendamping. Alam ini adalah ciptaan Allah yang harus kita syukuri sekaligus kita jaga bersama,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi bekal bagi para siswa sebelum memulai perjalanan menuju kawasan Gunung Butak. Mereka diajak memahami bahwa keberhasilan sebuah pendakian tidak hanya diukur dari kemampuan mencapai tujuan, tetapi juga dari kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab selama perjalanan.
Menghayati Pesan Surah Al-‘Asr
Setelah penyambutan, kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah oleh Bapak Iriyanto, S.IP, takmir Masjid Darussalam sekaligus tokoh Muhammadiyah Desa Tlogokotes. Dalam tausiyahnya, ia mengajak para siswa merenungkan kandungan Surah Al-‘Asr tentang pentingnya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Menurutnya, waktu terus berjalan dan tidak dapat diulang. Karena itu, setiap kesempatan dalam kehidupan semestinya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, memperbanyak amal saleh, serta meningkatkan kualitas diri.
Para siswa diajak menyadari bahwa usia muda merupakan kesempatan berharga untuk belajar, membangun kebiasaan baik, dan mempersiapkan masa depan. Waktu yang dimiliki tidak seharusnya dihabiskan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.
Pesan tersebut selaras dengan tujuan Islamic Camp, yakni membentuk peserta didik yang tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial.
Mengenal Jejak Sejarah di Gunung Butak
Dalam kesempatan itu, Bapak Iriyanto juga memperkenalkan Gunung Butak sebagai kawasan yang menyimpan peninggalan sejarah berupa benteng dari masa pendudukan Jepang. Kawasan tersebut telah dikembangkan sebagai destinasi wisata dengan jalur pendakian yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengenal alam sekaligus sejarah lokal.
Wawasan sejarah semakin lengkap melalui cerita Bapak H. Sutarjo, sesepuh Desa Tlogokotes yang memiliki lahan hutan tempat benteng tersebut berada. Ia menuturkan bahwa kakeknya dahulu turut terlibat dalam pembangunan benteng itu.
Kisah tersebut memberikan pengalaman belajar tersendiri bagi para siswa. Mereka tidak hanya memperoleh informasi dari buku pelajaran, tetapi juga mendengar langsung penuturan masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan sejarah kawasan tersebut.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber pembelajaran yang kaya. Alam menyimpan keindahan sekaligus jejak kehidupan masa lalu yang perlu dikenali, dihargai, dan dijaga keberadaannya.
Menyaksikan Alam, Merefleksikan Kepedulian
Usai rangkaian kegiatan di masjid, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Butak. Para siswa menyusuri jalur pendakian dengan suasana alam yang memperlihatkan perubahan kondisi vegetasi memasuki musim kemarau.
Daun-daun kering tampak menutupi sebagian jalur. Di bagian atas, sejumlah pepohonan terlihat kehilangan daun sehingga dahan-dahannya tampak lebih terbuka. Pemandangan tersebut menghadirkan gambaran kondisi alam yang relatif gersang.
Selain itu, keterbatasan sumber air bersih di kawasan tersebut menjadi tantangan tersendiri, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sanitasi atau mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Kondisi yang dijumpai secara langsung itu menjadi bahan refleksi bagi para peserta. Mereka dapat memahami bahwa air merupakan sumber daya penting bagi kehidupan dan keberadaannya perlu dijaga. Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi perlu ditumbuhkan melalui pengalaman nyata.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa menjaga alam dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tumbuhan, menggunakan air secara bijak, serta menjaga kebersihan kawasan yang dikunjungi.
Belajar Keimanan dan Tanggung Jawab dari Alam
Bagi SMP Muhammadiyah Bagelen, Tadabbur Alam Islamic Camp merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan pembelajaran yang menyentuh aspek pengetahuan, keimanan, karakter, dan kepedulian sosial.
Dengan menyaksikan langsung alam ciptaan Allah Swt., peserta didik diharapkan semakin menyadari kebesaran-Nya. Pengalaman mendaki juga menjadi kesempatan untuk melatih ketangguhan, kesabaran, kerja sama, dan kepatuhan terhadap arahan.
Nilai-nilai tersebut berpadu dengan pembelajaran sejarah lokal dan kesadaran ekologis. Para siswa belajar bahwa manusia bukan sekadar penikmat alam, melainkan juga memiliki tanggung jawab untuk merawatnya.
Setelah menyelesaikan pendakian dan kembali turun, rombongan melaksanakan salat Asar di Masjid Darussalam sebelum kembali ke rumah masing-masing.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Masjid, lingkungan masyarakat, jalur pendakian, hingga kawasan bersejarah dapat menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman nyata bagi peserta didik.
Melalui langkah-langkah di Gunung Butak, SMP Muhammadiyah Bagelen berharap dapat menumbuhkan generasi yang berilmu, beriman, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Sebab, mencintai alam bukan hanya tentang menikmati keindahannya, tetapi juga menjaga bumi sebagai amanah dari Allah Swt.
(Sayidah Sholihah)



