
PCM Bagelen Gelar Pengajian Rutin Tahsin dan Tafsir, Bahas Al-Māidah 6–7 tentang Thaharah
Purworejo — Pengajian rutin Tahsin dan Tafsir Al-Qur’an PCM Bagelen kembali digelar pada Selasa malam Rabu, 9 Desember 2025/19 Jumadits Tsaniyah 1447 H di Masjid Al-Ikhlas Kauman Timur, Bagelen. Jamaah hadir dengan antusias, mengikuti kegiatan hingga akhir.
Kegiatan diawali sambutan Bapak Zumarudin, S.Pd.I, Ketua Takmir Masjid sekaligus Sekretaris PCM Bagelen. Dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi atas kehadiran jamaah serta mengingatkan bahwa tadabbur Al-Qur’an adalah amalan penting untuk membentuk karakter muslim yang kokoh dan berilmu.
Sesi tahsin dipandu Ustadz Ikhwan, S.Pd.I, dengan bimbingan peningkatan bacaan dan makhraj huruf. Jamaah mengikuti dengan aktif dan suasana belajar berlangsung komunikatif.
Materi Inti: Tafsir Al-Māidah 6–7 – Thaharah, Wudhu, Mandi Wajib dan Tayammum
Materi utama disampaikan oleh H. Dandung Danadi yang mengupas QS. Al-Māidah ayat 6–7. Beliau menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dasar kuat hukum wudhu, mandi wajib, dan tayammum dalam fikih Islam. Menurut beliau, bersuci bukan hanya membersihkan fisik, tetapi juga mensucikan batin dan menyiapkan hati memasuki ibadah.
Dalam paparannya, beliau membahas tata cara wudhu sesuai hadis sahih Bukhari-Muslim, menjelaskan langkah demi langkah sebagaimana dituntunkan Rasulullah saw., meliputi:
- Membasuh kedua telapak tangan terlebih dahulu
- Berkumur dan istinsyaq (membersihkan hidung)
- Membasuh wajah secara merata
- Membasuh tangan hingga siku
- Mengusap kepala termasuk telinga
- Membasuh kaki hingga mata kaki
Beliau menekankan sunnah menyempurnakan wudhu seperti mendahulukan yang kanan, tidak berlebihan memakai air, serta memastikan setiap basuhan merata. Orang yang menyempurnakan wudhu dengan baik akan keluar dosa-dosanya bersama tetesan air menurut hadis sahih—hal ini, kata beliau, menjadi bukti rahmat Allah yang luas.
Pembahasan kemudian berlanjut pada mandi wajib (janabah) selepas keluar mani, bersetubuh, haid dan nifas, sebagai bentuk penyucian total dari hadas besar.
Menariknya, beliau juga menyoroti tayammum secara lebih rinci. Tayammum dilakukan bukan hanya karena tidak ada air, tetapi juga ketika ada air namun penggunaannya membahayakan kesehatan atau saat safar/perjalanan jauh yang tidak memungkinkan akses air. Beliau mencontohkan kasus sakit kulit, pascaoperasi, atau perjalanan medan berat yang sulit mendapatkan air. Cara tayammum dilakukan dengan mengusap wajah dan kedua tangan menggunakan debu yang suci, dengan niat menggantikan wudhu atau mandi wajib.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Jamaah banyak bertanya terkait teknik tayammum yang benar, apakah menyentuh istri membatalkan wudhu, hingga batasan masa haid umum 6–7 hari sebelum mandi wajib. Diskusi mengalir ringan dan menjawab kebutuhan fikih praktis sehari-hari.
Materi Kedua: Adab Mengamini Doa Khatib (Tanya Jawab Agama PP Muhammadiyah)
Sesi berikutnya diisi materi H. Masagus Syamsudin, M.Ag., namun karena beliau berhalangan hadir, materi dibacakan oleh H. Zumarudin, S.Pd.I. Materi merujuk pada buku Tanya Jawab Agama Jilid 4 terbitan PP Muhammadiyah, membahas Adab Mengamini Doa Khatib. Disampaikan bahwa saat khutbah, jamaah tidak dianjurkan mengucapkan amin dengan lisan, cukup mengaminkan dalam hati. Mengangkat tangan ketika doa khutbah juga tidak disyariatkan, kecuali pada khutbah istisqa. Materi ini menambah wawasan jamaah terkait tata adab Jumat sesuai manhaj tarjih.
Acara ditutup dengan doa Kafaratul Majelis yang diikuti oleh seluruh jamaah dengan khidmat. Pengajian rutin ini menjadi ruang dakwah aktif yang diharapkan terus menghidupkan tradisi belajar Al-Qur’an di lingkungan PCM Bagelen.
(Epin Hidayat)



