
Kajian Ahad Pagi PCM Bagelen Kupas Hikmah Besar Isra Mi’raj
Purworejo — Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bagelen kembali digelar pada Ahad, 4 Januari 2026, bertempat di SMP Muhammadiyah Bagelen. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 06.00 hingga sekitar 07.15 WIB ini menghadirkan Ustadz Nifa’an Nazudi, M.Ag., Ketua Majelis Tarjih PDM Purworejo, sebagai pemateri. Suasana pagi yang sejuk berpadu dengan semangat jamaah yang hadir untuk menyimak kajian bertema “Memahami Hikmah Besar di Balik Peristiwa Isra Mi’raj.”
Acara dipandu oleh Zumarudin, S.Pd.I., Sekretaris PCM Bagelen. Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan yang diawali basmalah, syahadatain, dan doa thalabul ilmi. Selanjutnya jamaah bersama-sama melantunkan ayat suci Al-Qur’an, yakni QS. Al-Isra ayat 1 serta QS. An-Najm ayat 13–15, dilanjutkan menyanyikan Mars Sang Surya yang semakin menguatkan nuansa keislaman dan kemuhammadiyahan.
Dalam penjelasannya, Ustadz Nifa’an menguraikan makna QS. Al-Isra ayat 1 dengan menekankan tiga kata kunci utama, yakni asra (memperjalankan), abdi (hamba), dan layl (malam). Ia menjelaskan bahwa penggunaan kata asra menunjukkan Nabi Muhammad SAW tidak pergi sendiri, melainkan diperjalankan langsung oleh Allah, sementara kata abdi menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj dialami oleh Nabi secara utuh, jiwa dan raga. Adapun kata layl menunjukkan dimensi waktu yang sangat singkat, menandakan betapa luar biasanya peristiwa tersebut.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan QS. An-Najm ayat 13–15 yang menggambarkan pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril di Sidratul Muntaha. Ayat-ayat tersebut, menurutnya, menegaskan bahwa peristiwa Mi’raj merupakan pengalaman ruhani dan fisik yang benar-benar terjadi, bukan sekadar mimpi atau ilusi. “Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan bahwa Nabi melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang paling agung,” ujarnya di hadapan jamaah.
Dalam tausiyah intinya, Ustadz Nifa’an juga meluruskan pemahaman tentang kompleks Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis. Ia menjelaskan bahwa Masjid Al-Aqsha tidak identik dengan bangunan berkubah emas yang sering dikenal sebagai Dome of the Rock atau Kubatussakhrah. “Masjid Al-Aqsha adalah seluruh kompleks suci di Baitul Maqdis, termasuk pelataran dan bangunan-bangunan di dalamnya,” jelasnya. Ia juga mengutip sebuah hadis, “Shalat di Baitul Maqdis sama seperti mengerjakan lima ratus shalat,” sebagai penegasan kemuliaan tempat tersebut.
Ustadz Nifa’an kemudian mengajak jamaah memahami Isra Mi’raj dari perspektif keterbatasan sains dibandingkan dengan kekuasaan Allah. Ia memaparkan bahwa jika perjalanan Isra Mi’raj diasumsikan berlangsung delapan jam dengan kecepatan cahaya, maka jarak yang ditempuh baru mencapai sekitar 4,32 miliar kilometer, setara dengan jarak hingga planet Neptunus. “Padahal untuk mencapai bintang terdekat saja, cahaya memerlukan waktu 4,4 tahun. Ini menunjukkan bahwa Isra Mi’raj adalah peristiwa supra-rasional, di mana Allah melipat ruang dan waktu,” terangnya.
Selain itu, ia juga mengulas hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang sejarah penetapan salat fardu. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Allah awalnya mewajibkan 50 waktu salat, namun atas saran Nabi Musa as, Nabi Muhammad SAW memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu sehari semalam dengan pahala setara 50 salat. “Ini menunjukkan kasih sayang Allah dan para nabi kepada umat Muhammad agar tidak terbebani, namun tetap mendapatkan pahala besar,” ungkapnya.
Kegiatan kajian ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan interaktif. Setelah itu, acara diakhiri dengan bacaan hamdalah dan doa kafaratul majelis. Kajian Ahad pagi hari ini memberikan pemahaman mendalam kepada jamaah tentang makna Isra Mi’raj, sekaligus meneguhkan keyakinan jamaah akan kebesaran Allah yang melampaui batas logika manusia.
(Epin Hidayat)



