Agama

Pengajian Rutin PRM Patutrejo: Umat Islam Diajak Menjaga Identitas dan Menjauhi Tasyabbuh

PURWOREJO – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Patutrejo menyelenggarakan Pengajian Rutin pada Jumat (12/6/2026) ba’da Jumat hingga menjelang Ashar di Masjid Al Ustadz, Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo.

Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Musa Al Fitri dari Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Bayan sebagai pemateri. Pengajian dihadiri oleh pengurus PCM dan PCA Grabag, PRM dan PRA Patutrejo, wali santri TPQ Al Ustadz Patutrejo, serta warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah setempat.

Dalam kajiannya, Ustadz Musa Al Fitri menyampaikan beberapa pelajaran penting dari hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ, terutama terkait puasa sunnah dan pentingnya menjaga identitas seorang muslim.

Puasa Sunnah Menghapus Dosa

Pada kesempatan tersebut dijelaskan bahwa puasa sunnah memiliki keutamaan besar, di antaranya menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa. Sebagaimana penjelasan para ulama, amalan puasa sunnah tidak hanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga dapat menjadi sebab pengampunan dosa serta pengangkatan derajat seorang hamba.

Hikmah Puasa Asyura dan Larangan Tasyabbuh

Pemateri juga menjelaskan hikmah puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharam. Rasulullah ﷺ bahkan berkeinginan untuk menambah puasa pada tanggal 9 Muharam agar kaum muslimin tidak menyerupai kebiasaan Ahli Kitab yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharam.

Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka menjelaskan bahwa hari tersebut adalah hari diselamatkannya Nabi Musa ‘alaihis salam dan kaumnya dari Fir’aun. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda bahwa kaum muslimin lebih berhak mengikuti Nabi Musa daripada mereka, lalu beliau memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari tersebut.

Dari peristiwa itu, pemateri menegaskan adanya pelajaran penting, yaitu larangan tasyabbuh atau meniru-niru kebiasaan dan ciri khas non-muslim dalam perkara yang menjadi identitas mereka.

Fenomena Meniru Budaya Non-Muslim

Menurut Ustadz Musa Al Fitri, fenomena tasyabbuh saat ini masih banyak ditemukan di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Bentuknya dapat berupa penampilan, gaya berpakaian, hingga model rambut yang meniru budaya non-muslim.

Beliau mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”

Hadis tersebut menjadi peringatan bagi umat Islam agar tetap menjaga jati diri dan identitas keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Larangan Model Rambut Qaza’

Dalam kajian tersebut juga dibahas larangan model rambut qaza’, yaitu menggundul sebagian kepala dan membiarkan sebagian lainnya tetap berambut.

Rasulullah ﷺ telah melarang model rambut semacam ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim. Pemateri mencontohkan bahwa sebagian model rambut modern yang hanya mencukur bagian tertentu sementara bagian lain dibiarkan panjang dapat masuk dalam kategori qaza’.

Para ulama menjelaskan bahwa praktik tersebut dimakruhkan, bahkan sebagian ulama memandangnya sebagai sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan karena bertentangan dengan tuntunan Nabi ﷺ.

Menjaga Jati Diri Muslim

Menutup kajiannya, Ustadz Musa Al Fitri mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam, menjaga identitas keislaman, serta meneladani Rasulullah ﷺ dalam setiap aspek kehidupan.

“Seorang muslim hendaknya bangga dengan syariat Islam dan tidak mudah terbawa arus budaya yang bertentangan dengan tuntunan agama. Menjaga identitas muslim merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,” pesannya.

Pengajian berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme. Para peserta mengikuti materi hingga selesai dan memanfaatkan sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman tentang tema yang disampaikan.

Kontributor: Triyono

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button