
Puskesmas Bagelen Gelar Sosialisasi P3LP, Siswa dan Guru Antusias Ikuti Pelatihan Kesehatan Jiwa
Purworejo — Dalam rangka pelaksanaan Upaya promosi kesehatan jiwa dan masih rendahnya partisipasi sekolah di kabupaten Purworejo tahun 2025 yang terorientasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) , Puskesmas Bagelen melaksanakan kegiatan Sosialisasi P3LP pada Kamis, 11 Desember 2025. Kegiatan yang digelar di aula SMP Muhammadiyah Bagelen ini diikuti secara antusias oleh siswa, guru, dan karyawan. Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak aktif memperhatikan materi yang dipaparkan oleh pemateri mengenai isu kesehatan mental yang semakin relevan di lingkungan sekolah.
Pada sesi pertama, dr. Riandini Prischilia Zelika memberikan pemaparan mengenai P3LP, tanda-tanda gangguan jiwa, serta peran masyarakat sebagai first aider. Ia menekankan bahwa first aider memiliki tiga langkah utama.
Pertama, memperhatikan, yaitu menilai kondisi distress seseorang, memeriksa keadaan fisik, dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Kedua, mendengarkan, dengan cara mempertahankan kontak mata, memvalidasi perasaan, menampilkan empati, serta tidak menghakimi atau memotong pembicaraan. Ketiga, membantu menghubungkan, yaitu mengarahkan individu kepada tenaga profesional, layanan keamanan, atau fasilitas kesehatan sesuai kondisi yang dialami.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Riandini juga menjelaskan alur pertolongan dan sistem rujukan yang harus ditempuh saat kondisi individu membutuhkan layanan lanjutan. Ia menegaskan bahwa P3LP diberikan kepada orang yang baru mengalami krisis serius, penyintas gangguan jiwa yang sedang dalam kondisi tidak stabil, serta individu yang mengalami tekanan psikologis berat. Adapun tanda peringatan yang perlu diwaspadai meliputi aspek emosi, sosial, perilaku, dan biologis.
Sesi kedua diisi oleh Dewi Wiraning Utami,S.Kep,Ners yang memberikan pelatihan teknik menstabilkan emosi secara praktis.
Teknik pertama adalah membantu individu distress untuk duduk, kemudian mengambil air wudhu dan diberi minum sebagai upaya menenangkan sistem tubuh. Teknik kedua adalah latihan pernapasan panjang, yaitu menarik napas dalam, menahannya beberapa saat, lalu menghembuskannya perlahan sambil duduk dalam posisi nyaman.
Teknik ketiga adalah metode butterfly, yaitu memeluk diri sendiri sambil menepuk perlahan bagian bahu kanan dan kiri secara bergantian. Pada saat yang sama, peserta diajak untuk membaca istigfar guna menenangkan pikiran. Selain itu, Dewi menekankan pentingnya memberikan ucapan empati, sebagai bagian dari dukungan emosional yang hangat kepada seseorang yang sedang mengalami tekanan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan skrining kesehatan jiwa bagi seluruh peserta. Banyak siswa mengikuti proses ini dengan antusias, menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin meningkat di lingkungan sekolah.
Puskesmas Bagelen berharap kegiatan ini dapat memperkuat peran sekolah dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, ramah, serta peduli terhadap kesehatan jiwa.
(Sayidah S.)



